Allah swt memiliki matematika-Nya sendiri. Kita manusia tidak dapat menghitungnya dalam perhitungan matematis biasa. Sebab, hal-hal yang dalam logika kita tidak masuk, Allah swt memungkinkan hal tersebut terjadi begitu saja, tanpa dapat diduga dan diprediksi sebelumnya.
Hal itulah yang menimpa seorang kuncen (juru kunci) makam dan sopir taksi. Mereka yang dalam hitungan matematis biasa sulit untuk bisa berangkat haji, tetapi Allah swt membuat ketidakmungkinan itu batal. Mereka berhasil menunaikan rukun Islam kelima itu dengan jalan yang tanpa mereka duga sama sekali.
Cerita ini dikisahkan KH Ahmad Mustofa Bisri dalam bukunya Keajaiban Haji (Surabaya: Pustaka Adiba, 1999) yang ditulis bersama dengan D Zawawi Imron.
Diceritakan bahwa seorang sopir taksi memiliki kebiasaan yang tidak biasa di kalangan umum, yakni melaksanakan shalat tepat waktu, sekalipun tengah membawa penumpang. Karenanya, siapa pun yang hendak menumpang taksinya, jika waktu shalat tiba, harus rela turut melipir ke masjid untuk menunaikan tugas seorang Muslim, yaitu menghamba kepada Allah swt.
Bahkan, kalau penumpang enggan menerima kesepakatan itu, ia rela kehilangan pundi-pundi yang sudah di depan mata. Tampaknya, ia enggan menggadaikan komitmennya itu hanya dengan rupiah. Bahkan, ia pun pernah dikata-katai bodoh karena hal tersebut. Baginya, tak masalah dan mempersilakan calon penumpangnya itu untuk mencari taksi lain.
"Rezeki itu datangnya dari Gusti Allah...," katanya penuh keyakinan.
Suatu ketika, ada penumpang yang hendak menaiki taksinya. Seperti biasa, karena mepet waktu shalat, ia pun mengonfirmasi perihal komitmennya itu. Alih-alih menolak, penumpang itu justru ingin turut serta shalat.
Betul saja, saat adzan berkumandang, lekas-lekas sopir itu membelokkan arah kemudinya ke masjid terdekat. Usai shalat, penumpang menyangka sopir tersebut telah berhaji karena komitmennya dalam menegakkan shalat itu tak tergoyahkan.
"Waaah sampeyan itu. Nyindir ya?" timpal sang sopir.
Ia pun menegaskan bahwa pekerjaannya tersebut hanya menghasilkan finansial yang sekadar dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, tidak lebih. Meskipun demikian, di benaknya, keinginan haji memang senantiasa membara. Hanya saja, baginya, Gusti Allah belum menghendaki harapannya itu.
Tetiba saja penumpang itu mengajaknya naik haji bersama. Sopir itu tentu tak menyangka sehingga ia mengonfirmasi ajakan itu. "Kalau memang sampeyan mau, kenapa tidak?" jawab penumpang.
Lain cerita dengan seorang juru kunci sebuah makam. Mulanya, ada seorang yang benci talqin meninggal. Namun, keluarganya meminta agar jenazahnya tersebut ditalqin. Mengingat masa hidupnya yang demikian, orang-orang pun enggan menalqini jenazah tersebut.
"Orang dia itu musuh, je. Dia benci sama talqin, kok tiba-tiba kepingin ditalqin. Logika macam apa itu?" tulis Gus Mus, sapaan akrab KH Ahmad Mustofa Bisri, menyampaikan grundelan orang-orang itu.
Meskipun demikian, keluarga mayit itu bersikukuh agar jenazah tersebut dapat ditalqini. Perdebatan yang tak berkesudahan itu membuat proses penguburan mandek. Tetiba saja kuncen makam mengambil alih proses dan mengaku siap menalqini. Perkara yang satu itu, ia pun hafal dengan mudah karena saking seringnya mendengar proses talqin.
"Inysaallah bisa. Saya sudah terbiasa mendengar orang ditalqin di kuburan. Saya juga hafal kalau hanya talqin. Mudah kok," demikian kata Sang Juru Kunci makam tersebut enteng.
Percaya dan karena tidak ada lagi, keluarga pun mempersilakan kuncen itu untuk membacakan talqin. Karena sudah keyakinan aqidah mereka, mau tak mau pokoknya harus ada yang menalqini jenazah. Sebab jika tidak, mereka tidak bisa membayangkan bagaimana saudaranya itu akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Malaikat Munkar dann Nakir di alam barzakh nanti.
Usai menalqini jenazah tersebut, salah seorang anggota keluarga mendekat kepadanya. Kuncen itu diminta untuk menyebutkan keinginannya, barangkali keluarga bisa memenuhinya. Entah ilham dari mana, ia menjawab keinginannya itu bisa menunaikan ibadah haji bersama istrinya.
"Saya kepingin naik haji. Kalau bisa, sekalian dengan istri saya," jawab kuncen itu.
Karena keluarga dari Jakarta itu merupakan sosok yang berkemampuan lebih secara finansial, mudah saja mengabulkan permintaan itu. Tidak sekadar haji, kuncen dan istrinya itu diberikan fasilitas yang istimewa.
"Gampang. Itu permintaan yang mudah. Kalau demikian, sampeyan segera siap-siap. Tahun ini, sampeyan berangkat haji, sekalian bersama istri sampeyan."
Demikianlah Allah swt membuka jalan bagi sesiapa saja yang bersungguh-sungguh menggantungkan harapan kepada-Nya. Di dalam Al-Qur'an Surat at-Thalaq ayat 2-3, ".... Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. (2) Dan menganugerahkakn kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu (3)."
Syakir NF
Jurnalis tingkat muda. Peserta program Micro-Credential di Amerika Serikat, Beasiswa non-Degree Dana Abadi Pesantren Kementrian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan LPDP dan Lembaga Pendidikan di Amerika Serikat.
Editor:


