Semeru: Keindahan dan Kematian

Semeru: Keindahan dan Kematian

Dan bila senyum duka
Ter-awang di sudut senja
Itu tanda ku tiada…
Dan bila matahari
Tenggelam di ufuk timur
Itu tanda ku tiada

Di jenjang Desember
Kau datang padaku
Kubimbing kau ke lereng semeru
Kubelai rambut yang hitam
Kau tersipu malu
Ooo indahnya.. Mahameru

Di sudut bibirmu
Kureguk cintamu
Penghantar dan penghangat tubuhku
Burung-burung kan bernyanyi
Alam pun berseri
Ooo indahnya… Mahameru
 
Di Jenjang Desember-Mahameru

 
Lagu ini indah didengar dan direnungi. Lirik-liriknya menyuguhkan Semeru tak sekadar sebuah gunung tapi sosok yang menggoda bagi siapa saja yang melihat dan singgah di tubuhnya. Hingga kini, saya belum tahu siapa pencipta lagu ini karena tak disertakan nama penulis maupun pelantun lagu di platfom YouTube. 

Selain lagu Di Jenjang Desember-Mahameru, pada tahun 1994 Dewa 19 juga turut menciptakan sebuah lagu bertajuk Mahameru. Lagu ini menjadi semacam reportase yang mengabadikan pendakian menuju puncak Mahameru. Pesan itu tersampaikan kuat pada bait lagi: Mahameru sebuah legenda tersisa/ Puncak abadi para dewa/ Mahameru berikan kedamaiannya/ Di dalam beku Arcapada.

Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang pantas untuk dipuji tanpa akhir. Dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, ia nampak kokoh sekaligus anggun berdiri di Kabupaten Malang dan Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Setiap mata yang melihat seolah tersihir untuk bercita-cita menapakkan kaki di puncaknya.

Sebenarnya tak hanya puncak, jalur pendakian Gunung Semeru juga menyajikan keindahan. Saat berangkat menuju pos pendakian awal pendaki akan melewati Kebun Teh Kertowono yang berada di Gucialit. Selain itu pendaki juga bisa singgah di danau tawar yang indah: Ranu Regulo, Ranu Pani, dan Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo menjadi tempat yang banyak dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda karena keasrian alamnya menyajikan pemandangan yang amat indah. Selain itu juga ada tanjakan cinta dengan kemiringan 45 derajat. Padang Bunga Oro-oro Ombo yang berwarna seperti bunga lavender juga menjadi daya tarik. Di tengah pendakian menuju puncak gunung, pendaki bisa melihat papan petunjuk menuju Arcapada, arca tertinggi di Pulau Jawa.

Di balik deretan keindahan yang tak akan pernah habis untuk diceritakan, Semeru punya sisi kelam. Sisi itu telah merenggut nyawa juga menyebarkan kesedihan pada banyak orang. Pada 16 Desember 1969, seorang intelektual dan aktivis muda menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan gunung Semeru, Soe Hok Gie. Ia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Konon, mereka meninggal karena keracunan gas beracun yang massanya lebih berat dari oksigen. Gas itu keluar dari kawah Gunung Semeru.

Kehilangan sosok Gie, memberi duka besar bagi masyarakat Indonesia. Ia sosok yang anti kompromi terhadap hal-hal kotor dalam dunia politik. Semasa mahasiswa hingga menjadi seorang dosen gagasan idealisnya tak pernah padam. Kritiknya tetap tajam meski beberapa orang mendorongnya untuk lebih kompromis.

Gie meninggalkan beberapa buku yang hingga kini masih bisa dibaca: Catatan Seorang Demonstran (1983), Zaman Peralihan (1995), dan Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997). Beberapa kutipan dari bukunya masih sangat relevan untuk dipertanyakan dan diperdebatkan sampai saat ini

"Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.”

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

“Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu.”

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”
 

Ia memang sosok yang kritis dan selalu berupaya mempertahankan kejujuran. Sikap itu membuat Gie tampak murung memandang dunia. Hal-hal yang penuh tanda tanya selalu ia pelihara untuk terus mempertajam nalar kritisnya. Indonesia berduka, saat Mahameru, puncak Gunung Semeru, memilih Gie menjadi bagian tanahnya.
 
Terbaru, Indonesia kembali berduka dan diliputi rasa cemas. Gunung semeru meletus pada Rabu, 19 November 2025.  Ia mengembuskan awan panas dan lontarkan batu pijar. Tak ada korban jiwa, tapi dikabarkan 300 orang mengungsi. Kita berharap Semeru kembali terlelap, tak merenggut nyawa orang-orang disekitarnya. Tapi, kita juga mungkin bisa berpikir, simbol di balik letusan. 

Dalam banyak keyakinan agama, termasuk Islam, bencana alam seringkali dipandang sebagai konsekuensi dari perbuatan manusia atau sebagai pengingat akan kekuasaan Tuhan dan tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi. Al-Qur'an (QS Al-A'raf: 85) melarang manusia berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik, menyiratkan bahwa kerusakan alam bisa terjadi karena menusia abai pada tanggungjawabnya sebagai penjaga bumi. 

Barangkali, bencana yang terjadi tak melulu selesai dijelaskan dari sisi ilmiah. Kita boleh bertanya: mungkinkah letusan menjadi sebuah teguran karena tangan manusia terhadap alam sudah begitu tidak adil?
 


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo