Dulu, kita memiliki pengarang sering membuat cerita-cerita lucu. Ia mengerti sedang mengalami hidup dalam masa kolonial dan terdampak depresi ekonomi (global) masa 1930-an. Pengarang tetap membela dan membesarkan lucu di tanah jajahan bergelimang penderitaan. Lucu itu menghibur. Lucu belum dimaksudkan untuk melawan kolonialisme.
Lucu pun berkaitan tokoh bergelar haji. Kita membuka warisan lama berjudul Teman Doedoek (1936), memuat cerita-cerita gubahan M Kasim (1886-1973). Para pembaca silam memang terhibur dan tertawa menikmati cerita-cerita saat para pengarang Indonesia sedang serius menggarap tema modernitas, nasionalisme, perkotaan, perkawinan, identitas, dan agraria dalam novel-novel diterbitkan Balai Poestaka atau penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an. M Kasim justru memberi cerita-cerita kecil tapi berpengaruh bagi para pembaca ikut mengesahkan sejarah sastra di Indonesia mengandung lucu.
Kita membuka buku kecil dan tipis. Lucu itu cerita dari seorang tokoh bergelar haji. Pengarang mengenalkan Haji Zakaria. Tokoh bercerita pengalaman selama di Tanah Suci. Cerita disampaikan ke orang-orang penasaran dengan situasi di tempat idaman umat Islam sedunia. Berceritalah sang tokoh: “Beberapa tahoen jang laloe, saja pergi naik hadji. Pada waktoe itoe tanah Hedjaz tidak aman, sebab itoe kandidat-kandidat hadji tidak pergi ziarah ke Medinah. Akan tetapi saja, karena hasrat hati jang tida tertahan-tahan, hendak pergi djuga mengoendjoengi makam Nabi jang mulia itu kesana.”
Ia memang berani menempuh perjalanan jauh penuh risiko. Ia mengajak teman pergi, membawa bekal berupa uang dan roti. Di perjalanan, mereka dirampok. Bekal pun habis tapi belum sampai tujuan. Di tengah jalan saat kehabisan bekal, mereka bertemu lagi gerombolan terduga jahat. Kejanggalan dirasakan saat digeledah tak ada lagi harta tersisa. Dua orang Indonesia itu malah mendapat doa dari gerombolan semula bermaksud jahat. Pembaca mulai merasakan lucu meski sedikit dalam cerita.
Keajaiban terjadi: “Tiada berapa lama kami berdjalan, kami melihat ada soeatoe tempat, jang tiada berapa djaoeh, ada 4 orang jang sedang doedoek dipasir. Dengan tidak memikirkan apa-apa jang akan terdjadi, kami poen mendapatkan orang itoe. Kami dapati mereka sedang makan. Dengan tidak berkata ‘ba’ atau ‘bu’, kami teroes doedoek dan toeroet makan bersama-sama. Melihat kelakoean kami mereka tertawa dan boekan sadja kami dibiarkannja toeroet makan, tetapi berganti-ganti poela mereka itoe menjoegoehkan daging, jang soedah digigitnja ke moeloet kami sambil mengoetjap ‘berkah’.” Dua pejalan kehabisan bekal dan kelaparan itu terselamatkan gara-gara diperbolehkan bergabung makan dengan gerombolan tak dikenal. Mereka insaf telah kehilangan tapi mendapatkan ‘berkah’.
Cerita kurang lucu. Kita tak sedang menakar lucu. Urusan terpenting penemuan tokoh haji dalam gubahan sastra di Indonesia masa 1930-an. Kita memastikan bakal menemukan puluhan tokoh bergelar haji dalam cerita pendek atau novel bila mau melacak. Dugaan penokohan bergelar haji sudah terjadi sejak awal abad XX. Tokoh-tokoh dalam teks sastra itu menjelaskan bumiputera atau orang-orang hidup di tanah jajahan berkemampuan melaksanakan ibadah haji. Kita membaca fiksi tapi terbujuk membuka lagi pendokumentasian haji masa silam.
Kita menilik awal abad XX. Pengarang itu bernama Tirto Adhi Soerjo (1880-1918). Orang-orang mengakrabi sebagai jurnalis meski ia rajin membuat cerita-cerita. Pemunculan tokoh bergelar haji diadakan oleh Tirto Adhi Soerjo (1909) melalui cerita berjudul Membeli Bini Orang. Diceritakan tokoh tak untung: “Setelah membajar oetangnja, Hadji Idris lantas menerima barang baroe dan pergi poelang. Roepa-roepanja bintangnja memang lagi gelap maka selaloe ia ditimpa keroegian. Menoeroet nasihat doekoen sebabnja tidak lain karena ia tidak tjotjtok dengan bininja jang baroe. Ia tidak bakal dapat oentoeng selama masih pelihara bininja.” Lakon hidup seorang bergelar haji sering bermasalah dalam bisnis dan ruwet dalam pernikahan.
Haji Idris terjerat hutang. Dulu, hutang itu memiliki bunga tinggi. Rumah dan sawah cepat habis gara-gara utang. Haji Idris mengetahui istri (Enceh) memuja hal-hal duniawi berakibat menghabiskan duit. Usaha tanpa jaminan untung dan hutang menjadikan Haji Idris sebagai manusia-kalah.
Masalah hutang dibawa sampai ke pengadilan. Si pemberi hutang (Acte) menimbulkan perkara-perkara berlapis agar berhasil memiliki istri Haji Idris. Duit, pengadilan, dan berahi bercampur dalam cerita. Kutipan mengenai dampak keputusan pengadilan dan kehendak Acte: “Setelah poetoesan djatoeh Hadji Idris mendjadi sangat sedih. Ia bersemboenji kesana-sini, sehingga ‘deurwaarder’ tidak bisa menangkapnja. Pada soeatoe hari, orang mengatakan padanja, tentoelah Acte berboeat begitoe dengan maksoed dakan reboet bininja, boeat djadi njainja. Malah ada jang menjampaikan padanja, selama dia mengoempet, bininja soedah dengan Acte… Waktoe orang sampaikan kepadanja bahwa Acte tidak maoe bikin soesah lagi kepadanja, malah maoe membebaskannja dari hoetang itoe, djika ia soeka mentjeraikan isterinja dan ikhlas mengasihkannja boeat djadi njainja.”
Cerita tak lucu. Tirto Adhi Soerja tak berniat menulis cerita lucu. Para pembaca mengetahui nasib apes Haji Idris. Ia telat sadar dalam permainan diadakan oleh Enceh dan Acte. Haji Idris dalam cerita itu mengesankan sosok-sosok bergelar haji atau telah menunaikan ibadah haji tak dijamin hidup dalam kehormatan.
Para pengarang sudah berusaha berbagi cerita. Mereka menampilkan para tokoh bergelar haji. Di arus penulisan kritik sastra, kemunculan tokoh-tokoh bergelar haji atau disapa haji mungkin memberi rujuan dalam mengungkan situasi zaman. Konon, sebutan atau sapaan haji di Nusantara tak selalu berkaitan agama. Gelar haji itu mudah bersinggungan dengan masalah-masalah politik, asmara, bisnis, dan pendidikan.
Dua cerita suguhan Tirto Adhi Soerjo dan M Kasim memang seucil saja atas kepentingan mengumpulkan dan membahas para tokoh bergelar haji dalam kesusastraan, sejak awal abad XX sampai 1930-an. Kajian terhadap tokoh-tokoh dalam fiksi memang bukan menghasilkan kebenaran dalam sejarah tapi memberi “petunjuk kecil” untuk mengerti masalah haji pada masa kolonial. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor:


