Khutbah Jumat: Hormati Gurumu, Mulia Hidupmu

Khutbah Jumat: Hormati Gurumu, Mulia Hidupmu

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَاب. وَقَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ۝١١

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang menghantarkan hati kita untuk senantiasa tunduk, patuh, dan bersyukur atas setiap nikmat yang telah Allah karuniakan. Di antara nikmat yang kita rasakan adalah dikaruniakannya ilmu dan amal sehingga kita bisa beribadah dengan baik dan sampai dengan titik kehidupan saat ini. Mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk serta memiliki modal ilmu untuk menggunakannya adalah sebuah karunia besar dari Allah.

Capaian kita sampai dengan saat ini dan juga masa yang akan datang, tidak bisa terlepas dari sumbangsih dan peran para guru serta orang tua yang telah mendidik kita. Kehadiran guru dalam hidup kita merupakan karunia besar yang patut kita syukuri. Cara bersyukur tersebut adalah dengan menghormati dan berterimakasih kepada mereka. 

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Artinya: “Tidaklah bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud)

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Guru adalah sosok yang berjasa dalam kehidupan kita karena dengan sabarnya mengajari, membimbing, dan menuntun kita dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu dan pemahaman. Renungkanlah, seandainya kita tidak pernah diajari cara membaca, cara memahami, dan cara berjalan dalam hidup, mungkinkah hari ini kita bisa duduk di sini dalam kondisi seperti ini?

Maka bersyukurlah kepada Allah, dan muliakanlah para guru, karena melalui wasilah merekalah Allah mengangkat derajat kita.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Perlu kita sadari bahwa dalam perjalanan hidup kita, guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga pembimbing jiwa, penanam nilai-nilai kehidupan, dan penunjuk arah bagi masa depan. Apapun keberhasilan kita, baik secara ilmu, akhlak, maupun karier, tidak terlepas dari doa dan jerih payah seorang guru. Oleh karena itu, menghormati guru bukan hanya bentuk adab, melainkan juga jalan menuju kemuliaan hidup.

Dalam ajaran Islam, posisi guru sangatlah mulia. Guru adalah ulama perantara sampainya ilmu yang merupakan warisan para nabi. Rasulullah SAW bersabda:

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Ulama adalah ahli waris para nabi." (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Dalam proses menuntut ilmu, guru adalah jalan hidayah. Karena itu, menghormati guru menjadi bagian dari menghormati agama dan jalan keselamatan. Di dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama sangat menekankan pentingnya menghormati guru. 

Imam al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim juga menyebutkan bahwa adab kepada guru merupakan syarat mutlak dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah. Bahkan dikisahkan, Imam Syafi’i begitu hormat kepada gurunya, Imam Malik, hingga tak berani membuka lembar kitab di hadapannya dengan suara yang keras.

Menghormati guru bukan hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi lebih penting lagi dengan sikap. Menyimak dengan serius ketika guru mengajar, tidak membantah dengan kasar, menjaga ucapan dan pandangan, serta mendoakan mereka adalah bentuk penghormatan yang sejati. Bahkan setelah lulus pun, menjaga silaturahmi dan mengenang jasa-jasa guru adalah cermin dari akhlak yang tinggi.

Namun ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di era modern seperti sekarang, tantangan dalam menjaga adab kepada guru semakin besar. Keterbukaan informasi, perkembangan teknologi, dan perubahan gaya komunikasi membuat relasi antara murid dan guru sering kali kehilangan sentuhan etika. Padahal, sejauh mana seseorang menghargai gurunya, sejauh itu pula ia akan dimuliakan dalam kehidupan.

Dalam sebuah hadits disebutkan: 

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا

Artinya: "Rasulullah bersabda, tidak termasuk golonganku; orang yang tidak mengasihi anak kecil dan tidak mengetahui kemuliaan orang dewasa," (HR. Tirmidzi 3/480)

Banyak kita jumpai di era saat ini, guru mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Tak jarang, dalam menjalankan tugas mendidik, mereka harus berhadapan dengan tuntutan hukum karena dilaporkan orang tua murid yang tak terima metode pendidikan yang diterapkannya. Hal ini tentu akan menjadikan para guru tidak maksimal dalam melakukan tugasnya.

Tindakan oknum yang sering membesar-besarkan masalah kecil dalam dunia pendidikan dengan berbagai motif seperti materi ini semakin menjadikan guru tidak ikhlas dalam mendidik. Ketika keikhlasan dan motivasi guru menurun dan hilang, makan di situlah hilang keberkahan dan ruh pendidikan pun menjadi gersang dan hilang.

Menghormati guru akan memantulkan cahaya keberkahan dalam hidup. Ilmu yang disampaikan guru akan lebih mudah masuk ke dalam hati yang bersih, dan hati yang penuh adab akan lebih terbuka menerima petunjuk dan keberhasilan. Orang yang tak menghormati gurunya, lambat laun akan kehilangan arah, karena ia telah memutuskan salah satu tali utama yang menghubungkannya dengan cahaya ilmu dan kebijaksanaan.

Sementara ilmu merupakan hal yang sangat penting dan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Oleh karena itu, ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita menjadi orang-orang yang menghormati guru dan ilmu karena kita hanya memiliki empat pilihan terbaik sebagaimana hadits Rasulullah:

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنِ الخَامِسَةَ أي مُبْغِضًا فَتَهْلِكَ 

Artinya: “Jadilah kamu seorang alim, pelajar, pendengar, atau pecinta (ilmu). Jangan kamu menjadi yang kelima, yaitu pembenci (ilmu), maka binasalah kamu,” (HR Thabarani).

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Akhirnya, marilah kita jaga dan rawat adab kepada guru. Bukan hanya karena mereka telah mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi karena merekalah yang telah membukakan pintu-pintu kehidupan. Dalam hormat kepada guru, tersembunyi keberkahan ilmu, ketenangan jiwa, dan kemuliaan hidup. Menghormati guru, adalah tanda kita menghormati ilmu. Dan di sanalah awal dari kehidupan yang mulia dan penuh keberkahan.

 بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم 

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ . اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَ مِن سَيِّئِ الأَسْقَامِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر


Editor:
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo