Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu ciri orang bertakwa adalah kejujuran dan konsistensi dalam ucapan serta perbuatan.
Islam menegaskan bahwa lisan seorang mukmin harus sejalan dengan amalnya, karena Allah sangat membenci orang yang berkata namun tidak mengerjakan. Rasulullah juga memperingatkan bahwa dusta, ingkar janji, dan khianat adalah tanda-tanda kemunafikan yang dapat menjerumuskan seseorang jauh dari iman.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemukan orang-orang yang pandai berkata-kata dan bermulut manis namun perilakunya tidak sejalan dengan ucapannya. Mereka berbicara seolah peduli dan dapat dipercaya, namun tindakan yang dilakukan seringkali justru mengecewakan. Perilaku seperti ini bukan hanya merusak hubungan antarsesama, tetapi juga sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Allah SWT telah mengingatkan dengan tegas dalam Al-Qur’an bahwa setiap ucapan harus sejalan dengan tindakan. Dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3 disebutkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٢ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ ٣
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Dari ayat ini kita memahami bahwa Allah benci kepada orang-orang yang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta. Artinya, menebar kata-kata yang indah tetapi tidak pernah dibuktikan merupakan bentuk kedustaan moral yang berbahaya.
Rasulullah pun memberikan peringatan tentang bahaya ketidakjujuran dan ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan. Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan:
آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu ketika berbicara ia dusta, ketika berjanji ia mengingkari, dan ketika ia diberi amanat ia berkhianat."
Orang yang bermulut manis seringkali terjebak dalam sikap seperti ini, karena memoles kata demi kepentingan pribadi tanpa niat untuk menepatinya. Inilah sifat yang menjadi ciri kemunafikan, walaupun mungkin pelakunya tidak menyadarinya.
Kita perlu sadar bahwa, sikap manis di bibir namun pahit dalam perbuatan dapat menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun. Kecewa dan sakit hati akan muncul, bahkan bisa menimbulkan fitnah serta permusuhan.
Kebiasaan bermulut manis akan merusak akhlak pribadi dan menjerumuskan seseorang ke dalam laknat Allah karena kedustaan merupakan perbuatan yang amat dibenci oleh-Nya.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam mengajarkan kita untuk memiliki konsistensi antara lisan dan tindakan. Kejujuran adalah fondasi akhlak yang membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang menuju surganya Allah swt.
Oleh karena itu kita harus menjaga amanah, menepati janji, dan berusaha agar setiap kata yang terucap dapat dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hanya di mulut saja.
Untuk dapat menghindari perilaku bermulut manis yang menipu, kita harus membiasakan diri berpikir sebelum berbicara, menjaga komitmen terhadap janji sekecil apa pun, serta tidak ragu meminta maaf bila belum mampu memenuhi ucapan. Muhasabah perlu dilakukan agar hati tetap lurus dengan nurani sehingga kita menjadi pribadi yang jujur dan konsisten.
Dalam ajaran Islam, kejujuran dan konsistensi bukan hanya nilai moral, tetapi bagian dari inti keimanan. Lisan kita seharusnya menjadi cerminan dari isi hati dan perbuatan yang dilakukannya. Ketika seseorang berkata baik namun tidak menepatinya, maka ia telah melakukan ketidakadilan pada dirinya sendiri dan terhadap orang lain.
Kejujuran merupakan kunci utama dalam menjaga hubungan sosial. Tanpa kejujuran, kepercayaan akan hilang dan hubungan akan mudah retak. Seorang yang konsisten dengan apa yang ia ucapkan akan dihormati, dipercaya, dan menjadi teladan bagi lingkungannya.
Nabi bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”
Hadits ini dilanjutkan dengan perintah menjauhi kebohongan:
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
Artinya: “Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.”
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang benar dalam ucapan dan teguh dalam perbuatan, sehingga hidup kita senantiasa membawa manfaat bagi sesama. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Editor:


