Novel Little Prince: Slow Living sebagai Antitesis Kehidupan Modern

Novel Little Prince: Slow Living sebagai Antitesis Kehidupan Modern

Dahulu, untuk sekadar mengirim kabar, kita banyak berharap pada waktu. Harapan itu memuat banyak perasaan: senang, khawatir, cemas, dan lega. Pesan dibawa melalui surat yang melibatkan merpati, kuda, sepeda, kapal laut, hingga bapak pos. Penantian dan perjalanan  pada selembar kertas yang berisi tulisan itu, membuat kita menghayati dengan sungguh-sungguh ketika membacanya. Tak ingin satu kata pun terlewat dan gagal dipahami.

Tak heran, beragam lagu, puisi, dan film tercipta, mengisahkan peristiwa itu. Surat untuk Kekasih (1997) gubahan Broery Marantika adalah salah satu lagu yang berkisah mengenai surat: di pinggiran masa coba ku salami/ ke dasarnya cinta/ oh di sangkar derita ku ukir kata sucinya cinta/ hari berganti di malam sepi kecurigaan meniti waktu terasa pilu woo kasih/ akan ku curahkan di dalam suratku yang akan kau baca.

Kini, kita tidak lagi berurusan dengan kertas, pena, amplop, dan pengantar surat. Semua tergantikan oleh peradaban modern serba cepat yang memangkas banyak peristiwa. Peradaban beralih menjadi scroll dan klik dalam hitungan detik. Tidak hanya terjadi pada ruang komunikasi, hal serupa menjalar pada ruang pendidikan, pangan, fashion, budaya, dan cara hidup.

Di satu sisi kita banyak terbantu dari peradaban modern, di sisi lain kita hampir kehilangan sisi-sisi manusiawi dalam hidup. Peradaban serba cepat itu, kerap mendorong kita untuk selalu terburu-buru, berkejaran dengan waktu, dan kehilangan kemampuan menghayati. Semua berlalu begitu saja, tanpa pemaknaan.

Michael Ende, dalam bukunya berjudul Momo (1974) mengisahkan proses modernisasi yang menggeser pemaknaan waktu pada manusia. Mula-mula pada kehidupan orang dewasa melalui pendefinisian kerja. Lalu merambat ke anak-anak dalam bentuk sekolah yang dibakukan. Apakah seseorang menjalankan pekerjaan atau permainan dengan hati senang tak lagi penting sekarang-justru sebaliknya, itu malah dianggap aktivitas mubazir. Kini, yang terpenting adalah mengerjakan sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin.  

Ende, melalui percakapan antara Momo dan Empu Hora, berusaha menghidupkan kembali pemaknaan atas waktu dalam hidup: “sebab sebagaimana kalian memiliki mata untuk melihat cahaya dan telinga untuk mendengar bunyi, kalian juga memiliki hati untuk merasakan waktu. Dan waktu yang tidak dirasakan dengan hati menjadi hilang sia-sia, bagaikan warna-warni Pelangi bagi orang buta dan kicauan burung bagi orang tuli. Tapi sayangnya banyak hati yang buta dan tuli.”

Kini, mulai terdengar suara yang mendorong orang-orang untuk hidup dengan pemaknaan, gagasan itu disebut-sebut sebagai slow living. Gaya hidup yang menekankan pada kehidupan yang lebih sederhana, santai, dan lebih sadar akan waktu dan lingkungan sekitar.

Istilah slow berasal dari gerakan slow food di Italia pada tahun 1980-an yang menentang fast food. Lalu berkembang tidak hanya pada aspek pangan tapi juga kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan konsumsi. Gaya hidup slow living menekankan kualitas hidup daripada kuantitas.

Tujuannya agar kita lebih dekat dengan orang, budaya, pekerjaan, alam, tubuh, dan jiwa kita sendiri. Selain itu, juga dapat menghindarkan dari stres, kejenuhan, dan kekosongan batin.

Barangkali, mula-mula yang dapat dilakukan untuk menghentikan gaya hidup serba cepat dan repetitif, yang banyak menjangkiti orang dewasa di era modern ini adalah: belajar dari anak-anak. Mengapa demikian? Karena hanya anak-anak yang mampu menjalani hidup dengan otentik, seperti yang tertulis dalam Momo (197): “Andai kata tidak ada anak-anak, seluruh umat manusia sudah lama bisa kita kuasai. Anak-anak jauh lebih sulit diajak menghemat waktu daripada orang lain.” Little Prince, adalah salah satu bacaan yang dapat menuntun kita belajar dari kehidupan anak-anak.

Little Prince adalah bacaan asal Prancis gubahan Antoine De Saint-Exupery yang terbit pertama kali tahun 1946. Novel dipercayai memuat gagasan filosofis, mengisahkan jurang kehidupan dalam tatapan anak-anak dan orang dewasa. Kisah bermula dari pengalaman anak berusia enam tahun yang harus melepaskan bakatnya dalam lukis-melukis, karena penafsiran orang dewasa. Cerita  berlanjut pada petualangan yang mempertemukan tokoh utama dengan pangeran kecil, sosok misterius dari planet lain.  

“Jika kalian berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah yang bagus dari batu bata merah muda dengan bunga geranium di jendelanya dan burung merpati di atapnya…” Mereka tidak dapat membayangkan rumah itu. Kita harus berkata begini, “Aku melihat rumah seharga 180 ribu franc.” Baru mereka akan berseru, “Alangkah indahnya!””  

Kutipan di atas, adalah satu dari banyak kalimat yang menelanjangi cara berpikir orang dewasa yang serba material-cepat-tumpul imajinasi. Pembaca, dibuat berhenti pada banyak babakan untuk mengerti kekeliruan dari pola hidup yang dijalani selama ini. Yang terpenting, kesadaran didapatkan melalui pengisahan, tidak mendikte sekaligus menggurui. Kebenaran ditemukan dalam ruang cerita bernaung imajinasi. 


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo