Gibran, Ilmu Kimia, dan Gizi

Gibran, Ilmu Kimia, dan Gizi

Barangkali Anda muak dengan beragam persebaran berita politik yang menjejali tiap waktu. Berita itu penuh kenyataan politik klise, rekayasa, dan nirkebenaran. Anda cukup bersikap bodo amat untuk tidak mengikuti saja! Kasihanilah waktu dan kesempatan Anda—yang sejatinya bisa digunakan untuk melakukan tindakan maupun kegiatan yang lebih bermanfaat bagi perjalanan hidup.

Namun, jika Anda masih menaruh pamrih dalam mengikuti pemberitaan mutakhir tentang politik, tulisan ini setidaknya memberikan sedikit ruang bagi Anda untuk bersukacita, meski dalam helaan membaca teks, kita juga mudah “anyel”. Konon, di sekian jenama media soial, pemberitaan tentang politik menyorot satu hal: kekeliruan Gibran Rakabuming Raka, salah satu calon wakil presiden.

Ia menyebut asam sulfat. Kekeliruan terjadi, bahwa yang dimaksudkan adalah asam folat. Peristiwa itu terkait erat dengan persoalan gizi, sebab ketika itu, Gibran yang tidak ada “Kahlil”-nya sedang berdialog berhubungan dengan tengkes (stunting). Kekeliruan itu, meski menimbulkan kegaduhan, rasanya patut ditarik satu hal penting: banyak orang menaruh perhatian terhadap keilmuan. Bayangkan jika Gibran tidak melakukan kekeliruan pengucapan.

Mula-mula, kita malah berpikiran dua ilmu atas peristiwa itu, yakni masing-masing: Ilmu Kimia dan Ilmi Gizi. Dalam konteks ini, keilmuan kimia tidak lagi berdiri sendiri, namun berkaitan dengan ketubuhan manusia, berupa ilmu gizi. Harus diakui memang, ilmu kimia menyajikan sebuah fakta, bahwa secara kebahasaan sangatlah ketat dan menyulitkan banyak orang. Bukti nyatanya adalah bila menilik istilah-istilah kimia, baik secara teknis maupun persamaannya.

Bayangkan, Anda mungkin mudah mencari Tabel Sistem Periodik Unsur (SPU) yang ditemukan oleh Dmitri Mendeleev lewat mesin pencari. Dulu, semasa sekolah menengah atas, salah satu guru Ilmu Kimia saya bernama Gatot Widodo mempunyai beberapa cara supaya muridnya paham akan hakikat unsur-unsur tersebut. Salah satunya adalah upaya untuk mengerti urutan tiap unsur.

Meski terkesan sebagai “jembatan keledai”, cara itu mangkus dan sangkil. Misalkan untuk kelompok unsur golongan 1A, yang terdiri dari: Hidrogen (H), Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan Fransium (Fr). Apa yang dilakukan oleh Pak Gatot? Ia mengajari kami dengan menyebutkan: Hari Libur Nanti Kita Rebus Caisar Firaun. Sementara untuk golongan IIA dengan sebutan: Bebek Mangan Cacing Seret Banget Rasane. Itu untuk menunjukkan nama unsur berupa: Berilium (Be), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba), dan Radium (Ra).

Pak Gatot memang cerdik dan kerap meluangkan waktu di luar jam sekolah untuk murid-muridnya yang masih kesulitan dalam kimia. Ketika guru lain sudah pulang, dalam beberapa situasi ia pulang agak terlambat dengan motornya ketika itu—Honda Astrea Grand. Pak Gatot dari masa ke masa mengantarkan murid-murid untuk menaruh cita melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus dari SMA.

Saya adalah salah satu muridnya. Giliran masuk kampus sampai bisa lulus masih merasakan kesulitan terhadap ilmu kimia. Enteng-entang saja, biar mendalami, saya terpikir keterhubungan kimia dengan pangan. Selepas pemberitaan mengenai Asam Folat dan Asam Sulfat, di tengah malam saya iseng mencari teks berhubungan dengannya. Ilmu kimia bukanlah barang baru, sejak zaman pendudukan Belanda dan Jepang rupanya telah diperkenalkan ke kaum terpelajar.

Sebuah buku pelajaran ‘Ilmoe Kimia Djilid II B terbitan Djawa Gunseikanbu Djakarta tarikh Jepang 2605 saya temukan. Saya mendapat keterangan masam-belerang untuk menyebut asam sulfat dengan penulisan kimianya, H2SO4-.  Di sana terdapat keterangan: “Masam-belerang banjak benar dipakai didalam peroesahaan-peroesahaan, teroetama oentoek memboeat poepoek-boeatan, seperti Z.A. (soelfat-amoenioem), D.S. (soeperposfpat), tawas, troesi, d.l.l.”

Terhadap hubungannya dengan makan, saya malah membuka kembali salah satu serial Pustaka Ilmu Life terbitan Tira Pustaka. Judulnya Makanan dan Gizi (1981). Makan itu urusan ilmu dan sejarah kiprah para ilmuwan. Di buku terdapat keterangan: “Tetapi pengetahuan mengenai unsur ini beserta jumlahnya saja belumlah cukup untuk mengadakan sintesis; ahli-ahli kimia masih harus mengetahui bagaimana setiap atom terikat pada atom yang lain.”

Saya kemudian membuka buku-buku garapan F. G. Winarno. Ia adalah ahli pangan penting yang dimiliki Indonesia. Sebuah buku terbaca berjudul Kimia Pangan dan Gizi (Gramedia, 1988). Di situ mulai ada titik terang mengenai asam folat. Keterangan ditulis olehnya: “Nama asam folat (folid acid) diberikan pada tahun 1921 oleh Mitchell (1941) karena banyak terdapat daun hijau (kata latinnya folium).

Winarno pamrih merincikan pada kebutuhan dan ketersediaan sumber. Terangnya: “Kekurangan asam folat dapat terjadi karena konsumsi yang rendah atau karena mengalami penyakit saluran pencernaan. Kekurangan asam folat ditandai dengan gejala anemia, yaitu jumlah sel butir darah merah berkurang.”

Penjelasan lain: “Konsumsi yang dianjurkan untuk orang dewasa per hari adalah 400 mcg, sedang untuk wanita yang sedang mengandung sebanyak 800 mcg, dan untuk ibu yang sedang menyusui 600 mcg. Bayi di bawah satu tahun cukup mengonsumsi 50 mcg asam folat per hari.” Asam folat itu dalam keterangan Winarno terdapat di bahan makanan baik dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk konyugasi, seperti hati, ginjal, khamir, dan sayuran hijau gelap.

Di buku lain, hasil terjemahan dalam seri Pengetahuan Gizi Mutakhir berjudul Vitamin (Gramedia, 1987). Pemberi kata pengantar dalam buku adalah Andi Hakim Nasoetion dan Darwin Karyadi. Di buku, ada sebuah tulisan berjudul “Asam Folat” garapan Conrad Wagner. Kita mengerti asam folat itu bagian dari vitamin.

Conrad memberikan uraian panjang mengenai keberadaan asam folat. Ada sebutan lain untuk asam itu, berupa asam pteroilglutamat. Di sana, keterangan ditulis olehnya: “Kebutuhan minimum folasin per hari adalah sekitar 50 µg. Pada saat hamil dan menyusui kebutuhan minimum akan flasin per hari meningkat. Sepertiga dari wanita hamil di dunia mengalami defisiensi folasin dalam tingkat keparahan yang berbeda.” Conrad tak menyebut tengkes, namun secara tersirat ia mengajak kita berpikir tengkes.

Tengkes, kita sadari bukan perkara ilmu kimia dan gizi, namun berhubungan erat dengan politik kebijakan. Saya teringat uraian Jim Al-Khalili dalam bukunya Sukacita Sains (Kepustakaan Populer Gramedia, 2023). Di sana ada keterangan: “Masyarakat makin dipusingkan tatkala berbagai saran—khususnya tentang isu terkait dengan kesehatan masyarakat—saling bertentangan, apalagi jika sumbernya berasal dari luar komunitas saintifik, seperti media, politikus, internet, atau dari media sosial.”

Kita justru menunda membahas lebih lanjut perkara sains, politik, dan kebijakan. Kita perlu mengahafalkan dulu nama-nama unsur yang ada di tabel Sistem Periodik Unsur! Oh, omong-omong bagaimana kabarnya Pak Gatot Widodo? Pak Gatot ini saking pintarnya, dikenal punya sifat pelupa. Ada sekian peristiwa yang mudah menghadirkan tawa atas peristiwa lupa, salah satunya cerita saat mengantarkan istrinya ke pasar. Pada perjalanan sampai rumah, ia baru sadar kalau istrinya belum membonceng di motornya.

Penulis adalah Fisikawan Partikelir. Penulis Buku Bersandar pada Sains.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Joko Priyono
Fisikawan Partikelir. Penulis “Buku Bersandar pada Sains” (2022)


Editor:
Al-Quran Digital

Mozaik Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo