Tidur bukan kata yang spesial untuk didengar telinga maupun direnungkan pikiran. Kata itu merujuk pada aktivitas repetitif yang dilakukan semua makhluk hidup. Setiap orang akrab dengan tidur. Jadi, tidak ada yang unik.
Namun, hanya dalam hitungan detik, kata “tidur” seperti punya makna lain sejak diucapkan oleh mantan presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
Dalam sebuah wawancara, Presiden Indonesia dua periode, 2014-2019 dan 2019-2024, Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa setelah sepuluh tahun memimpin negeri, istirahat menjadi prioritas utamanya. Beliau menyampaikan pada wartawan bahwa selepas purna tugas yang ingin dilakukan adalah “tidur”.
Kita boleh iseng bertanya, apa yang dimaksud tidur dalam ucapan Pak Jokowi? Apakah tidur yang lazimnya dilakukan jutaan orang? Atau tidur yang mengandung arti lain dari yang selama ini dipahami banyak orang? Biarlah waktu yang turut menjawab maksud dari pernyataan itu, sebab yang mengeluarkan kata tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
Namun, kita boleh mencoba menjelajahi cerita-cerita seputar tidur. Ini untuk menegaskan bahwa tidur bisa memiliki banyak maksud selain sekadar memejamkan mata. Kisah seputar tidur bisa kita jumpai dalam ruang musik, film, novel, dongeng klasik, narasi agama, dan puisi. Di hadapan ruang-ruang itu, tidur tidak diartikan hanya sebatas aktivitas biologis untuk istirahat, tetapi melampauinya.
Tidur masuk dalam lirik lagu berjudul Sephia (2000) oleh grup band Sheila on 7. Lagu itu konon mengandung maksud mengenang kematian gadis bernama Sephia, perempuan yang meninggal akibat kecelakaan ketika perjalanan menuju konser Sheila On 7. Namun, kabarnya Eros membantah hal tersebut dalam Tonight Show Net TV pada Desember 2014 lalu.
Ia mengatakan bahwa Sephia adalah simbol dari perselingkuhan: “Selamat tidur kekasih gelapku/ Semoga cepat kau lupakan aku/Kekasih sejatimu takkan sanggup untuk melupakanmu/Selamat tinggal kasih tak terungkap/Semoga kau lupakan aku cepat/ Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu.” Tidur mula-mula diyakini sebagai kematian lalu dimaknai sebagai cerita di balik perselingkuhan.
Film Inception (2010) disutradarai Christopher Nolan juga mengangkat persoalan tidur. Film itu bercerita tentang Dom Cobb, seorang pencuri yang memiliki keahlian masuk ke dalam mimpi orang lain untuk mencuri rahasia dari alam bawah sadar. Aktivitas itu dilakukan melalui tidur dengan dilengkapi berbagai alat-alat khusus.
Suatu hari, Cobb harus menjalankan misi melakukan inception, yaitu menanamkan ide ke dalam pikiran seseorang melalui mimpi. Bersama timnya, Cobb memasuki mimpi yang berlapis-lapis, menghadapi rintangan di setiap lapisan sambil berusaha membedakan antara mimpi dan kenyataan. Tidur di tangan Christopher Nolan, melalui filmnya itu, diartikan sebagai media untuk mencuri rahasia dan menancapkan sebuah keyakinan.
Dalam buku The Alchemist (1988), Paulo Coelho menyebutkan bahwa tidur diartikan sebagai penghubung antara yang sakral dan profan. Novel itu menceritakan perjalanan seorang gembala muda bernama Santiago dalam mencapai impiannya. Ia melakukan perjalanan dari Spanyol menuju Mesir untuk mencari harta karun yang ia lihat dalam mimpi ketika tidur di bawah pohon sycamore.
Sepanjang perjalanan, Santiago bertemu dengan beragam hal yang mengajarkannya tentang keyakinan, takdir, dan kebajikan hidup. Tidur menjadi gerbang pembuka bagi Santiago untuk memasuki dunia dan petualangan yang baru dalam hidupnya.
Tidur juga hadir dalam imajinasi anak-anak, melalui dongeng klasik Sleeping Beauty. Dongeng itu mengisahkan seorang putri yang terkena kutukan dari peri jahat. Sang putri dikutuk untuk tidur selamanya. Seorang peri yang baik hati meringankan kutukan itu dengan mantranya. Sang putri bisa terbebas dari kutukan dengan syarat ciuman cinta sejati. Setelah bertahun-tahun tertidur, akhirnya seorang pangeran datang, membangunkannya dengan ciuman.
Tidur dalam dongeng tersebut bisa dimaknai sebagai pembentukan gender antara perempuan dan laki-laki di masa itu. Perempuan ditempatkan pada posisi inferior sementara laki-laki sebaliknya. Konstruk perempuan digambarkan dalam kondisi yang pasif, menunggu, dan korban. Sementara laki-laki sebagai manusia yang aktif dan penyelamat.
Agama juga lekat dengan narasi tidur, terutama saat bulan Ramadhan. Banyak para pengkhotbah menganjurkan untuk tidur saat bulan Ramadhan. Tidur diperbolehkan dan sah bahkan dipercayai bernilai ibadah. Gus Baha dalam NU Online (1/4/2024) menjelaskan bahwa tidur memang memiliki keistimewaan tersendiri jika dipandang dari berbagai sudut ilmu.
Dipandang dari sisi ilmu ushul fiqih, seseorang yang tidur berarti tidak melakukan maksiat kepada Allah. Dalam arti, orang tersebut meninggalkan perbuatan dosa dan itu berpahala. Namun, pesan tersebut tidak boleh dipolitisasi untuk pembenaran dari bersikap malas-malasan dan banyak tidur saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Emha Ainun Nadjib dalam bukunya berjudul Sesobek Buku Harian Indonesia (2017) juga menuliskan puisi berjudul tidur: kalau pergi tidur, apa bisa jamin/esok hari bisa bangun lagi/dalam tidur, tak ada apa-apa/ langit bumi rumah atau harta benda/ dalam tidur aku tak ada/tidur itu sendiri pun tiada/apa yang perlu dikejar, diidamkan?/tiap hari meski tidur sekian jam/tanpa jaminan.
Kita bisa mengartikan, puisi itu memuat makna tidur lebih dalam dari sekadar aktivitas istirahat sehari-hari. Cak Nun menggambarkan tidur sebagai sebuah simbol refleksi dan perjalanan batin. Tidur bukan hanya waktu untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi juga sebuah momen untuk merenungi kehidupan, membersihkan hati, dan mencari kedamaian.
Jadi, setelah menelisik begitu banyak maksud dibalik kata “tidur”, kita menjadi meragu atas pernyataan dari Pak Jokowi. Tidur seperti apakah yang dimaksudkan? Apakah tidur seperti yang tergambar dalam puisi Cak Nun, sebuah refleksi dan upaya menempuh perjalanan batin? Atau tidur seperti yang dimaksudkan film Inception (2010), aktivitas menancapkan ide atau gagasan? Atau malah seperti dalam novel The Alchemist (1988), tidur sebagai gerbang untuk memasuki petualangan baru?
Editor:


