Pulang Haji: Refleksi untuk Dunia Lebih Baik bagi Semua

Pulang Haji: Refleksi untuk Dunia Lebih Baik bagi Semua

Oleh: Prof. Dr. Ahmad Dakhoir

Ibadah haji merupakan 'kenduri' besar tahunan umat manusia, karena hampir tiga juta jemaah dari semua pelosok dunia, dengan aneka suku bangsa, etnis, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda berkumpul di satu tempat, menunaikan ibadah yang sama.

Ritual haji, perjalanan menuju Masjidil Haram di Makkah, lebih dari sekadar pertunjukkan jutaan manusia yang berhimpun di satu lokasi pada waktu yang sama. Ritual haji memberi kita pemahaman penting mengenai hakikat Islam dan perspektif-duniawi yang dibentangkannya.

Sebagaimana diungkapkan para mufasir klasik, ibadah haji merupakan lukisan kecil tentang apa yang akan berlangsung di akhirat ketika seluruh manusia dihimpun di satu tempat. Tatkala semua jiwa yang pernah ada akan berdiri di hadapan Allah swt, di hadapan pengadilan-Nya, mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia.

Kehadiran jemaah haji dari berbagai pelosok bumi itu juga merupakan gambaran nyata dan pengalaman mengesankan yang menegaskan betapa Islam tidak memilah-milih antara individu dan kelompok. Setiap orang merupakan bagian dari kelompok dan masing-masing memiliki hak serta kewajiban setara. Ritual haji meningkatkan perasaan luar biasa mengenai kebersamaan dan kesatuan yang menekankan kesetaraan.

Kesatuan dalam ibadah haji didasari oleh penghapusan dan penolakan terhadap segala perbedaan yang meliputi ras, budaya, warna kulit, kelas sosial, dan lain-lain. Semua jemaah mengenakan busana yang sama. Kita akan sulit membedakan antara seorang pejabat, hartawan kaya raya, atau rakyat jelata tatkala mereka berjalan berdampingan menunaikan ibadah haji. 

Di mata Allah, semua perbedaan itu tidak ada artinya. Oleh sebab itu, kita punya alasan untuk tidak merasa bangga dan mengandalkan keberbedaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi bukti bahwa kita harus berupaya meraih keseimbangan dan jalan tengah.

Haji menjadi bukti bahwa ada banyak perihal yang lebih penting daripada konvensi sosial bentukan manusia, yang kerap menyimpang, dan bahkan menentang keseimbangan yang diajarkan serta dipesankan oleh agama Islam.

Haji juga memberi kita pencerahan yang lebih baik bahwa di tengah masyarakat yang menekankan kesatuan dan kesetaraan, niscaya tidak akan ada perpecahan individu. Satu pernyataan yang paling sering dilatunkan jemaah haji adalah seruan pribadi: “Labbaik–kupenuhi panggilanMu.”

Meski berada di tengah lautan manusia, yang berdiri di hadapan Allah, setiap orang akan dikenali dengan keunikannya masing-masing. Seperti itu pulalah kelak mereka akan diadili dan dimintai pertanggungjawabannya atas segala tindak dan niat pribadi masing-masing.

Untuk saya, pengalaman menunaikan ibadah haji tahun 2024 ini memberikan jawaban atas satu masalah adicita (fikrah) yang selalu memicu kontroversi: kontradiksi dan pengaturan antara hak-hak individu dan kepentingan kelompok. 

Perdebatan telah mengerucut pada isu yang sangat tajam. Serangkaian debat yang tidak pernah mencapai titik temu, yang akhirnya membawa pada isu yang lebih besar, yaitu sistem politik pemerintahan yang berbeda-beda, bahkan saling berlawanan. Masalah ini telah memecah-mecah masyarakat serta memicu munculnya pelbagai masalah besar dalam sejarah umat manusia (sapiens). 

Persyariatan dan pelaksanaan ritual haji tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah yang kontroversial ini, tapi lebih untuk menunjukkan betapa di tengah keberbedaan, semua orang bisa menyatu dalam posisi yang setara. Betapa semua perbedaan dan keragaman itu sesungguhnya ilusif.

Setiap orang merupakan individu yang unik, tetapi mereka mau tak mau harus hidup di tengah dan bersama komunitas, dalam habitat besar manusia, di antara dan bersama orang lain. 

Kita dihadapkan bukan pada kontradiksi, melainkan pada kenyataan yang harus diseimbangkan. Menyadari keberadaan Allah, Sang Pencipta dan Maha Karim atas semua, kita menemukan pencerahan dan petunjuk untuk mewujudkan keseimbangan.

Ibadah haji menjadi pengalaman yang mengesankan, mengubah, dan menggerakkan bukan karena berkumpulnya sekelompok besar manusia yang dikelindan oleh satu tujuan, melainkan memberi kita pemahaman mendalam mengenai hubungan kita dengan Allah, dengan sesama manusia, bahkan dengan diri kita sendiri.

Haji merupakan salah satu rukun Islam, kewajiban atas semua muslim yang harus ditunaikan sekali dalam seumur hidup. Itu pun jika mereka mampu untuk menempuh perjalanan ke Masjidil Haram. Ini merupakan rukun Islam yang paling akhir disyariatkan Allah kepada kaum beriman.

Ziauddin Sardar dalam bukunya, Mecca: The Sacred City (2014) mengutip riwayat yang tepercaya. Dia meneroka bahwa ibadah haji disyariatkan dan diwajibkan atas umat Islam pada tahun kesembilan Hijriah. Al-Qur’an menetapkan kewajiban ibadah haji setelah umat Islam dipimpin Rasulullah saw. menaklukkan Kota Makkah. Setelah itu semua berhala dan berbagai sarana penyembahan disingkirkan dari Ka'bah, rumah ibadah yang pertama kali dibangun Nabi Ibrahim as, dan yang kemudian menjadi kiblat kaum muslim dalam sholat. Ka'bah adalah bangunan kubus hitam yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram di Makkah.

Kata hajj secara harfiah berarti ‘upaya’. Seperti halnya ibadah puasa, pelaksanaan ibadah haji pun membutuhkan perjuangan fisikal dan spiritual. Walaupun Al-Qur’an berbicara dan menetapkan kewajiban haji atas kaum Muslim, ia tidak banyak menjelaskan langkah-langkah atau tahapan ritual haji secara terperinci, seperti yang kita kenal saat ini.

Semua ritual haji didasarkan atas praktik atau sunnah Rasulullah yang diriwayatkan para ahli hadits. Pelbagai riwayat itu menjelaskan bagaimana Rasulullah menunaikan ibadah haji secara lengkap yang berpuncak pada momen terbaik kehidupan setiap muslim. Ibadah haji ditunaikan pada bulan Dzulhijjah, bulan kedua belas dalam kalender Hijriah, tepatnya pada 9, 10, 11, dan 12 Dzulhijjah.

Akhirnya, sebagaimana karakter Al-Qur’an, selalu ada pertimbangan praktis dalam setiap ajaran, termasuk dalam momen-momen keagamaan yang paling agung, seperti momen ibadah haji. Selain menjadi ibadah yang menghadirkan kesadaran besar akan kehadiran Allah, yang menegaskan relasi manusia dan Sang Pencipta, ibadah haji juga mengundang nilai praktis dan muamalah. Semua itu merupakan wujud komitmen kita untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi semua. Semoga.

Penulis adalah Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Perdata Islam & Rektor IAIN Palangka Raya.


Editor:
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo