Lafaz Takbiran Hari Raya menurut Mbah Moen

Lafaz Takbiran Hari Raya menurut Mbah Moen

Arina.id - Sebenarnya redaksi takbiran hari raya menurut Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair tidak ada bedanya dengan bacaan takbiran yang dibaca oleh masyarakat pada umumnya. Banyak pengucapan lafaz takbiran hari raya dengan menambahkan sebagian redaksi sebagaimana redaksi dalam catatan Syekh Zakariya al-Anshari dalam Fathul Wahab [Beirut: Darul Fikr, 1994, juz1, hal. 98] berikut:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بكرة وأصيلا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ . مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ ‌وَأَعَزَّ ‌جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إله إلا الله والله أكبر. اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hanya saja terdapat satu diksi yang kurang beliau sukai, dan diksi itu masih sering ditambahkan oleh sebagian masyarakat ketika takbiran. Diksi tersebut adalah ولو كره المنافقون yang artinya “meskipun dibenci oleh orang-orang munafik” yang ditambahkan setelah ولو كره الكافرون ولو كره المشركون.

Bukan tanpa alasan beliau tidak begitu suka menyertakan diksi tersebut. Menurut Mbah Moen dalam beberapa pengajian beliau yang penulis ikuti sewaktu masih menjadi santri di Pesantren Al-Anwar, diksi itu kurang pantas terhadap substansi dari takbir itu sendiri.

Takbir malam hari raya menurut beliau adalah sebuah bentuk ekspresi atas kemenangan masyarakat Muslim, terutama terkait redaksi واعز جنده وهزم الاحزاب وحده yang merupakan realisasi salah satu peran penting seorang Salman al-Farisi dalam memenangkan perang Khandaq. Sehingga setelah itu tiada lagi kekuatan besar masyarakat kafir untuk menyerang masyarakat Muslim.

Pada kenyataannya orang munafik hidup dan berinteraksi dengan masyarakat muslim di Madinah, hingga Rasulullah tidak memerangi mereka secara fisik, dan mereka masih saja dalam barisan Muslim meskipun keislaman mereka hanya sebatas lisan, oleh karena itu Mbah Moen tidak bergitu suka dengan penambahan redaksi munafiqun tersebut.

Mbah Moen, dalam menerangkan hal ini sering mengutip hadits Imam Muslim no. 2584 dari Jabir bin Abdullah berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ (وَاللَّفْظُ لِابْنِ أَبِي شَيْبَةَ) قَالَ ابْنُ عَبْدَةَ: أَخْبَرَنَا، وَقَالَ الْآخَرُونَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ: سَمِعَ عَمْرٌو جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ:  كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي غَزَاةٍ فَكَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَا لَلْأَنْصَارِ، وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ: يَا لَلْمُهَاجِرِينَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَا بَالُ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ كَسَعَ رَجُلٌ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَقَالَ: دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ فَسَمِعَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُبَيٍّ فَقَالَ: قَدْ فَعَلُوهَا وَاللهِ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّ. قَالَ عُمَرُ: دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ فَقَالَ: دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ ‌مُحَمَّدًا ‌يَقْتُلُ ‌أَصْحَابَهُ .

Artinya: "Sufyan bin Uyinah mengatakan: Amr bin Dinar pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata: aku bersama Nabi di beberapa peperangan, kemudian seseorang dari muhajirin mendorong orang dari anshar, orang anshar itu mengatakan “hai orang anshar, kemarilah”, kemudian orang muhajirin juga sama “hai muhajirin kemarilah”. Kemudian Rasulullah melerai mereka dan mengatakan “mengapa kalian masih memakai cara memanggil orang jahiliyah?”. mereka menjawab “wahai Rasulullah, orang muhajirin mendorong orang anshar” kemudian beliau menjawab “tinggalkan hal seperti ini, karena hal ini adalah tindakan yang buruk”, kemudian Abdullah bin Ubay dan mengatakan “mereka (muhajirin) telah melakukannya, demi Allah jika kita kembali ke Madinah, maka orang-orang mulia akan mengeluarkan orang-orang rendahan dari kota itu”. Kemudian mengatakan kepada Rasulullah “biarkan aku memotong leher orang munafik ini”. Rasulullah menjawab “biarkan dia, jangan sampai orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh kelompoknya sendiri”. 

Menurut Mbah Moen, sikap Rasulullah terhadap orang-orang munafik sangat jelas, yakni beliau tidak membunuh mereka atau mengkonfrontasi mereka secara fisik, sebab pada realitanya mereka masih Muslim meskipun hanya lisannya saja. Namun Rasulullah mengingatkan mereka secara lisan dengan ancaman dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an surat al-Nisa ayat 145 berikut:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ 

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka."

Pada kenyatannya orang-orang munafik juga turut merayakan hari raya Idul Fitri sebagaimana masyarakat Muslim lainnya. Oleh karena itu, menurut Mbah Moen secara pribadi dan diamini oleh santri-santrinya, tidak sepatutnya menambahkan diksi tekait munafiqun dalam redaksi takbiran.

Jika saja ingin menambahkan selain kafirun, maka menurut Mbah Moen tambahkan saja kata musyrikun. Sebab jika menambahkan kata musyrikun tidak akan problematis dan masih tercantum di Al-Qur’an surat al-Taubah ayat 33 berikut:

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَه بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَه عَلَى الدِّيْنِ كُلِّه وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ 

Artinya: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai."

Sedangkan jika mengambahkan diksi ولو كره المنافقون , disamping problematis, menurut Mbah Moen juga tidak ditemukan catatan Hadits Rasulullah atau bahkan ayat Al-Qur’an terkait redaksi itu. Untuk itu menurut beliau, tidak sepatutnya menambahkan diksi itu dalam redaksi takbiran. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo