Jakarta, Arina.id - Siapa sih yang tidak mengenal kolak? Jajanan manis khas Indonesia ini selalu menjadi incaran warga +62 buat memanjakan lidah saat berbuka puasa Ramadan setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Perpaduan rasa manis dari kuah dengan berbagai isian, seperti pisang, ubi, kolang-kaling, nangka, dan sagu mutiara, menjadikan kolak sebagai menu favorit sebelum menyantap makanan berat.
Walakin, di Gresik, Jawa Timur, kolak justru dikreasikan dengan ayam dan disantap bersama sepiring nasi panas. Sementara itu, di Malang kolak berbahan durian menjadi idaman dan beberapa daerah kolak pisang mulai dikreasikan dalam bentuk pai.
Lalu bagaimana sih asal usul kolak hingga menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia sebagai takjil berbuka puasa?
Dalam buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia karya Fadly Rahman, kreasi kolak berasal dari wilayah Timur Tengah, terlihat dari hidangan kolak teksturnya yang kental dan manis. Nama kolak sendiri dinukil dari bahasa Arab "Khaliq" yang artinya Sang Pencipta Alam.
Sejarawan menyebut kolak menjadi sarana untuk menyebarkan agama Islam di masa lalu. Pada waktu itu, para ulama berdiskusi panjang tetap cara menyiarkan agama Islam khususnya di Jawa. Masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa masih sedikit yang memeluk Islam. Usai berdiskusi panjang tercetuslah ide menggunakan makanan sebagai sarana mengenalkan Islam secara luas.
Dipilihnya makanan karena sangat dekat dengan kehidupan rakyat pada masanya. Selain itu bahan kolak yang mudah ditemukan di Indonesia membuatnya jadi hidangan yang memadukan kearifan lokal dan pengajaran Islam.
Dilansir dari Historia.id, Arkeolog dan Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dewi Cahyono berujar unsur atau isian kolak dikaitkan dengan ajaran Islam. Pisang Kepok misalnya, merujuk pada kata dalam bahasa Jawa yakni "Kapok" yang dalam bahasa Indonesia berarti "Jera." Hal ini dimaksudkan agar manusia jera berbuat dosa dan bertaubat kepada Tuhan.
Kemudian ada kolak berbahan Ubi yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan "Telo Pendem" yang berarti agar manusia mengubur kesalahannya.
Selanjutnya, santan yang menjadi tambahan dalam kuah kolak. Santan dalam bahasa Jawa diucapkan sebagai "Santen" kata ini kependekan dari "pangapunten" atau permohonan maaf.
Budaya menyantap kolak pisang bukan hanya dilakukan masyarakat Jawa, tapi sejumlah daerah di Indonesia. Makanan sejenis kolak juga kerap ditemukan di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.
Editor: Muhammad Taufiq


