Dingin masih menyelimuti pagi di Dusun Gripit Jurang, Desa Gripit Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah. Kabut tipis perlahan sirna oleh hadirnya sang bagaskara di ufuk timur. Namun hawa akhir kemarau itu begitu membuat lena, butuh perjuangan untuk menepis kemalasan.
Seorang lelaki berkemeja rapi bertolak dari sebuah rumah sederhana menyusuri jalan desa dengan sepeda motor Honda Win tua yang terawat. Dialah Wasis Winarso, S.H.I, Penyuluh Agama Ahli Muda pada Kementerian Agama Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia sosok yang dikenal tekun dan ulet dalam menjalankan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.
Pulang untuk Mengabdi
Nama Wasis disematkan oleh orang tua yang berarti “cerdas” atau “pandai”. Masa SD hingga SLTA ia tempuh di Banjarnegara. Setelah menamatkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN, kini UIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada 2002, Wasis memutuskan pulang ke tanah kelahirannya, Desa Merden Kecamatan Purwanegara. Desa ini banyak melahirkan tokoh, seperti Imam Prasodjo, yang kini dikenal sebagai sosiolog Universitas Indonesia dan pegiat lingkungan. Wasis pun termotivasi dari para tokoh inspiratif itu.
Kembali ke kampungnya, pemuda Wasis memulai langkah pengabdian sebagai pegawai honorer di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purwanegara, sembari mengajar di Madrasah Diniyyah Muhammadiyah Merden setiap sore.
"Bagi saya, ilmu agama tak boleh berhenti di ruang kuliah. Ia harus hidup di tengah masyarakat, berdampingan dengan ilmu pengetahuan lainnya,” ujarnya kepada arina.id.
Empat tahun menekuni pengabdian. Pada 2007, Desa Merden membutuhkan SDM andal untuk mengisi jabatan Kepala Dusun (Kadus) yang lowong. Wasis mengambil kesempatan dan ia menjadi Kepala Dusun (Kadus) di desanya sendiri.
"Setelah menjadi perangkat desa, saya bersyukur bisa lebih dekat dengan warga, ikut merasakan denyut kehidupan mereka,” kenangnya.
Namun, panggilan jiwa sebagai penyuluh ternyata begitu kuat. Pada 2009, Wasis kembali menjadi penyuluh agama. Kali ini statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama Banjarnegara, bidang Penyuluhan Agama Islam.
Menjalin Keberagaman
Kiprah Wasis tak berhenti di lingkup pekerjaan formal, yakni melakukan penyuluhan, bimbingan, dan pengembangan kegiatan keagamaan serta pembangunan di wilayah kerjanya. Di luar tugas itu, Wasis sempat mengajar sebagai Dosen Luar Biasa di UNSIQ Wonosobo pada 2014-2015.
"Sama seperti tugas dalam pelayanan publik sebagai perangkat desa maupun penyuluh agama, sebagai pengajar kita juga melayani ilmu kepada anak didik, untuk membuka cakrawala wawasannya,” ujar penyuluh agama Kecamaan Banjarmangu ini.
Pria kelahiran Banjarnegara, 14 Agustus 1977 ini merupakan sosok yang hadir di berbagai ruang sosial dan keagamaan. Hingga ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banjarnegara, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banjarnegara, sekaligus Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) di tingkat kabupaten.
Kemudian dalam kapasitasnya sebagai Wakil Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), ia menjadi jembatan di tengah perbedaan. Ia meyakini, penyuluh agama bukan sekadar pengajar doktrin, melainkan perajut kedamaian.
Dalam ceramahnya ia kerap membawa pesan-pesan moderasi beragama. Seperti ketika menjadi penceramah dalam kegiatan tarawih keliling (tarling) yang digelar Pemkab Banjarnegara untuk menyambangi desa-desa terpencil, ia selalu bersyiar Islam sebagai rahmatan lil alamin.
“Perbedaan itu bukan tembok, akan tetapi jembatan untuk saling memahami, saling menghargai satu sama lain,” tuturnya dalam pengajian usai tarling.
Tak hanya memberikan pencerahan di majelis taklim, ia juga beberapa kali melakukan penyuluhan di hadapan para warga binaan di Rumah Tahanan Banjarnegara. Menurutnya, Allah memberikan hidayah dan kebajikan kepada siapa pun umatnya, termasuk kepada narapidana.
Kiprah seorang Wasis dalam bidang sosial cukup luas. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Karang Taruna Kabupaten Banjarnegara, anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), serta aktif di Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), serta Juru Sembelih Halal Indonesia (Juleha) bersertifikat. Di sela semua itu, ia masih menyempatkan diri menjadi Dai Kamtibmas mitra Polres Banjarnegara dan khotib tetap di Masjid Agung An-Nur Banjarnegara.
Menyatu dengan Warga, Dekat dengan Pemuda
Ada sisi lain dari diri Wasis yang membuatnya dekat dengan banyak kalangan, yakni kesahajaan dengan warga dan keluwesannya dengan kaum muda. Bahkan di sela kesibukannya, ia masih aktif menyalurkan hobi lamanya, yakni otomotif.
Ia masih sebagai pegiat di komunitas motor tua Banjarnegara Honda Win (Barawin) dan komunitas mobil Isuzu Panther Ngapak Raya (IPCI). Baginya, komunitas bukan sekadar tempat bersenang-senang, tetapi sebagai saluran untuk berdakwah menyebarkan kebajikan dengan cara yang menyenangkan.
Dakwah tidak harus formal, tapi bisa lewat apa saja. Bahkan lewat obrolan di bengkel atau saat touring,” katanya seraya tertawa renyah.
Pengabdian dan Penghargaan
Kerja keras dan ketulusannya membuahkan banyak pengalaman, persaudaraan, serta tak luput dari apresiasi. Tahun 2017, Wasis dinobatkan sebagai Juara 1 Penyuluh Agama Islam Teladan tingkat Kabupaten Banjarnegara. Beberapa tahun kemudian, ia juga menerima Piagam Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya 10 Tahun, atas pengabdiannya yang konsisten dan tanpa cela.
Namun, bagi Wasis, penghargaan sejati bukanlah piagam atau medali. Penghargaan paling indah adalah ketika masyarakat tercerdaskan dan terlayani dengan puas. Karena, di lapangan kendala kerja pasti ada. Maka prinsip ‘Tandang ke Gelanggang Walau Seorang’ selalu erat ia pegang. Bahwa tidak ada alasan untuk takut berjuang meski sendirian. Sesanti ini menjadi penyemangat baginya untuk terus bergerak, meski dengan fasilitas yang masih terbatas, kondisi wilayah bergunung-gunung, jam kerja yang kadang ekstra serta berbagai tantangan lainnya.
“Tantangan harus dihadapi, bukan dihindari. Para pahlawan dan orang tua pendahulu sering berpesan, jangan sekali-kali tinggal glanggang colong playu. Kita adalah bangsa ksatria,” ujarnya menukil pepatah Jawa, untuk tidak lari dari tanggung jawab atau ingkar janji.
Pulang, Jalan Indah Berkumpul dengan Keluarga
Di balik sosoknya yang aktif di banyak lini, ada keluarga yang menjadi tumpuan semangat. Istrinya, Ngaminah, A.Md, pegawai dinas kesehatan sebagai Bidan Desa Gripit kecamatan Banjarmangu, yang selalu setia mendampingi dalam suka dan duka.
Maka, ritual pulang menjadi jalan terindah bagi Wasis sebagai kepala keluarga. Mereka dikaruniai tiga putra: Lien Fadlina Hizbul Quro, Abid Mahasin Hizbullah, dan Azhar Fadil Akbara.
"Bukan hanya di depan warga saat penyuluhan, atau di depan jamaah pengajian. Di rumah, kami mencoba menjadi teladan depan anak-anak. Merekalah generasi yang kelak meneruskan eftafet perjuangan kita,” ujar Wasis di beranda rumahnya, ketika senja mulai turun di ufuk barat.
Honda Win tua kesayangan telah masuk garasi. Siap menemani tugas esok hari.
Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama.
Editor: Kendi Setiawan


