Dark
Light
Dark
Light

Kecanduan Gawai di Usia Dini Ancam Generasi

Kecanduan Gawai di Usia Dini Ancam Generasi

"Sejak kapan kamu pakai kacamata?” tanya seorang dokter kepada Aisyah.

"Sejak Masuk TK," jawab siswi kelas 1 sebuah Sekolah Dasar Negeri di Kota Banjarnegara, Jawa Tengah. 

Hari itu di sekolah memang sedang ada pemeriksaan kesehatan bagi siswa. Anak-anak per kelas antre untuk diperiksa dalam sebuah ruangan.

Para dokter pun dengan saksama memeriksa kesehatan mata, gigi, dan telinga, tekanan darah, skrining jiwa. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendeteksi berbagai gangguan kesehatan pada anak usia sekolah.

"Berarti matamu minus?” sang dokter melanjutkan.

“Minus dan silindris,” cetusnya sambil tertawa, seakan menyebut jenis permen kesukaannya.

"Kenapa bisa begini?"

“Aku sukanya main HP gelap-gelapan, Bu,” jawab si bocah polos, dengan suara ringan seolah tiada yang salah.

Usai pemeriksaan, sang dokter yang penasaran menemui guru kelas. Dokter ingin tahu mengapa siswa itu begitu kecanduan gawai, sehingga kedua matanya terganggu. 

Sang guru pun mengaku telah memanggil orang tua siswi dan beberapa kali mewanti-wanti untuk mengendalikan anaknya bermain gawai, mengingat bahaya dan efek negatifnya.

Namun, jawaban yang didapat sungguh membuat tercekat: "Sebagai orang tuanya kami sudah menyerah, Bu. Semua cara sudah dicoba. Dari mengunci pasword, memutus wifi, ngasih mainan ataupun jajan yang mahal. Tapi, anak kami tetap tidak bisa lepas dari HP. Kami mau bersikap keras taoi khawatir juga. Yang penting, dia masih mau belajar dan ngaji," ujar sang guru menirukan jawaban pasrah orang tuanya.

Bukan Salah Anak Semata
Di balik percakapan sederhana di atas, sebuah kenyataan getir memang sudah lama membelenggu anak-anak kita. Sejak dini usia, anak-anak telah kecanduan gawai alias ponsel pintar. Mereka tergiring masuk ke dunia layar, dunia tanpa batas yang penuh warna-warni, sekaligus jebakan yang mencekam.

Cerita nyata bocah SD yang kondisi matanya sudah minus dan silindris sejak usia dini, adalah alarm keras bagi kita semua. Dewasa ini sangat jamak terlihat pemandangan anak-anak kita yang asyik masyuk dengan HP di genggamannya. Sembari rebahan dari posisi telentang, lelah sebentar miring meghadap ke kanan, lalu gantian ke kiri, kemudian telungkup. Begitu seterusnya. Mata mereka menajam menatap layar. Diselingi senyum, tawa, dan emosi sendiri.

Menjauhkan anak dari gadget rasanya mustahil di era yang serba teknologi. Namun sebagai orang tua itu harus dilakukan. Dari cari yang paling permisif hingga tegas. Jangan sampai saking sayangnya kepada buah hati, orang tua kalah dengan kehendak anak. 

Dengan pengalihan kegiatan yang bermanfaat dan mereka sukai seperti ajak rekreasi, tak perlu yang jauh tapi terjangkau dan menarik, ikutkan anak-anak kursus yang mereka minati, beri mereka tantangan untuk berkarya atau menyelesaikan tugas dengan memberi reward. Tak kalah penting, ajaklah mengobrol dan diskusi, Kenalkan  dengan keluarga besar atau lingkungan masyarakat, biarkan mereka saling kenal dan mengibrol.

Dengan begitu secara perlahan, kita kurangi dan jauhkan mereka dari gawai. Untuk berhenti pastinya sangat sulit, tapi harus kita batasi. Orang tua harus tahu  kalau ada efek negatif dari pemakaian gawai berlebihan pada anak. Pun telah banyak penelitian yang mengungkap persoalan ini.

Penyakit mata seperti mata minus, rabun, juling bahkan kebutaan, adalah salah satu dampak nyata yang harus diwaspadai. Posisi menggunakan handphone sambil rebahan, apa lagi di kegelapan seperti cerita Aisyah di atas, membuat organ bagian dalam mata bekerja lebih ekstra untuk menangkap cahaya. Sementara itu cahaya dari telepon genggam diketahui mengandung sinar biru yang tidak baik bagi mata. 

Menurut Dr Hesti, yang memimpin pemeriksaan kesehatan di sekolah tersebut menuturkan, sinar biru pada handphone yang ditangkap berlebihan bisa merusak makula atau titik kecil pada mata di belakang retina. 

Kondisi degenerasi makula bisa saja terjadi pada anak usia muda. Data yang dikeluarkan Digital GFK Asia menunjukkan, bahwa rata-rata anak muda menghabiskan waktu di telepon genggam sebanyak 5,6 jam.

Jika terlalu lama terpapar sinar biru maka akan memicu kerusakan sel-sel fotoreseptor (peka cahaya) pada mata sehingga menghasilkan molekul beracun yang berbahaya. Rusaknya sel fotoreseptor inilah menyebabkan degenerasi makula (macular degeneration).

Sementara itu, menurut laporan State of Mobile 2024, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 6,05 jam per hari untuk menatap layar ponsel, atau tertinggi di dunia, dan ini berarti sekitar seperempat dari waktu bangun mereka dalam sehari. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan penggunaan ponsel terlama.

Kecemasan Indonesia Emas
Dewasa ini, dunia nyata dirasa kurang menarik dan membosankan bagi anak-anak. Serba kompetitif, penuh aturan, tapi minim kesenangan. Sedangkan dunia digital menawarkan reward cepat, sensasi instan, dan kebebasan tanpa batas. Maka tak heran bila handphone menjadi pelarian bagi anak-anak dan remaja kita. 

Bila pola ini terus berlanjut, setidaknya ada empat bahaya besar yang mengintai generasi muda saat ini, yakni: melemahnya daya pikir kritis dan mandeknya imajinasi, hilangnya minat baca karena buku kalah telak dengan video singkat (short), terkikisnya identitas, diganti budaya global serba instan, serta luruhnya idealisme yakni kata “cita-cita” terdengar kuno di telinga remaja yang terbiasa hidup serba cepat.

Waktu terus berjalan. Dua puluh tahun lagi, Indonesia akan menyongsong 2045, tahun yang disebut sebagai Indonesia Emas. Namun, bagaimana mungkin Indonesia Emas bisa dicapai bila anak-anak kita terjebak dalam kecanduan gawai sejak dini? Bukan cahaya dari layar gawai yang kita butuhkan, melainkan cahaya kehidupan yang nyata, yakni : cahaya ilmu dan kebijaksanaan guna membentuk generasi bangsa yang tangguh, cerdas dan berkarakter. Tanpa itu, Indonesia Emas  hanya tinggal slogan. Bahkan bisa jadi  Indonesia (C)emas. 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo