Arina.id - Serangan Amerika Serikat (AS) mengebom tiga titik situs nuklir Iran, yaitu Fordow, Natanz dan Isfahan pada Minggu pagi, 22 Juni 2025, membuat berbagai elemen rakyat Iran murka. Bukan hanya pemerintah dan militer, tetapi kelompok masyarakat, media, hingga politisi marah dengan serangan Amerika yang mereka tuding sebagai "penghianatan terhadap diplomasi" itu.
Serangan AS ini terjadi ketika Iran sedang bernegosiasi dengan tiga negara Eropa (E3), yakni Inggris, Prancis dan Jerman, terkait situs nuklirnya. Apalagi, Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyatakan bakal mengambil keputusan dua pekan lagi untuk ikut melompat ke palagan perang bersama Israel menyerang Iran atau tidak.
Namun belum 14 hari, tepatnya tiga hari setelah pernyataannya itu, militer AS memilih menyerang lebih dulu. Hal itulah yang kemudian disebut oleh Iran sebagai bentuk penghianatan diplomasi.
Seperti dilaporkan Al-Jazeera, saluran 3 televisi pemerintah Iran menampilkan peta-peta pangkalan militer AS di seluruh kawasan, termasuk di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Irak, berada dalam jangkauan rudal Iran. Media-media di negeri para Mullah itu juga menyebar propaganda semangat perlawanan terhadap AS tersebut.
"Kini lebih jelas dari sebelumnya, bukan hanya bagi bangsa Iran tetapi juga bagi seluruh rakyat di kawasan, bahwa semua warga negara dan personel militer AS adalah target yang sah," kata Pembawa Acara Saluran 3, Mehdi Khanalizadeh.
"Kami bernegosiasi dan mencapai kemajuan melalui jalur diplomatik, tetapi Anda (Trump) memilih untuk menumpahkan darah prajurit Anda. Presiden AS di Ruang Oval memilih untuk menerima peti jenazah hingga 50.000 prajurit AS di Washington," katanya menambahkan.
Amirhossein Tahmasebi, pembawa acara lain juga merilis video menantang Amerika dari dalam gedung televisi negara: IRIB, di Teheran utara setelah beberapa waktu lalu dibom oleh Israel. Ia meludahi Trump dan siapa pun yang mengklaim presiden AS itu sebagai presiden perdamaian--merujuk pada pemberitaan Trump meraih Nobel perdamaian.
Sedangkan Kepala Surat kabar Harian Keyhan, Hossein Shariatmadaru yang ditunjuk oleh Khamenei, menumpahkan kemarahannya dalam tulisan: “Sekarang giliran kita untuk segera menghujani pasukan angkatan laut AS di Bahrain dengan rudal sebagai tindakan pertama.”
Ia juga mengulangi seruan lamanya kepada Iran untuk menutup Selat Hormuz yang strategis. Kemudian ia juga meminta Teheran harus menolak akses kapal-kapal dari AS, Inggris, Prancis, dan Jerman.
Hamid Rasaei, salah satu anggota parlemen Iran garis keras yang dekat dengan Faksi Paydari yang dipimpin oleh anggota dewan keamanan dan kandidat presiden kalah-- Saeed Jalili--meminta Teheran melangkah lebih jauh dengan menyerang pangkalan AS di Arab Saudi. Meskipun hubungan antara Teheran dan Riyadh telah mencair dalam beberapa tahun terakhir.
Aljazeera juga melaporkan sampai saat ini warga Iran masih belum bisa mengakses internet karena pembatasan jaringan yang diberlakukan negara. Tetapi mereka yang berhasil menemukan koneksi menggunakan proxi juga nampak menumpahkan kemarahannya terhadap deklarasi perang AS tersebut.
“Tiga puluh tahun uang minyak Iran dan tiga puluh tahun peluang ekonomi yang dapat bisa mengubah nasib puluhan juta orang menjadi bagian dari warga dunia lainnya telah berubah akibat tiga lubang yang dalan (yang diciptakan AS),” tulis seorang pengguna di X, mengacu pada situs nuklir tersebut.
“Trump bilang saya tinggal jatuhkan bom terberat di dunia, baru semuanya akan damai,” tulis pengguna lain dengan nada sarkastis.
“Teguh seperti Damavand, hingga napas terakhir untuk Iran,” tulis sutradara film pemenang Oscar dua kali Asghar Farhadi di Instagram dengan gambar Gunung Damavand, puncak tertinggi di Iran dengan ketinggian 5.609 meter (18.402 kaki) dan simbol kebanggaan nasional.
Namun, tidak sedikit warga Iran di luar negeri justru menentang kebijakan perang pemerintahnya, dan malah mendukung serangan AS serta Israel dengan keyakinan bahwa serangan itu dapat membantu menggulingkan rezim pemerintah. Hal ini memicu kecaman, dan bahkan ancaman, oleh otoritas Iran dan media pemerintah terhadap segala bentuk “pengkhianatan”.
Elias Hazrati, Kepala Dewan Komunikasi Presiden Masoud Pezeshkian, mengatakan dalam sebuah wawancara televisi pemerintah, Sabtu 21 Juni 2025, bahwa negara memandang mereka yang berpihak pada Israel dan AS sebagai "oposisi tidak terhormat" yang mengkhianati negara mereka sendiri.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, 20 Juni 2025, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga mengatakan kepada mereka yang secara sukarela atau tidak sukarela bekerja sama dengan Israel memiliki waktu hingga akhir pekan menyerahkan diri – atau menghadapi hukuman terberat karena berkolusi dengan musuh negara selama masa perang. Iran juga telah mengeksekusi beberapa orang yang dianggap sebagai mata-mata Israel pada Minggu pagi lalu sejak dimulainya perang.
Adapun akibat serangan AS terhadap tiga situs nuklirnya, pihak berwenang Iran mengonfirmasi tidak ada kebocoran radioaktif. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) juga mengonfirmasi tidak ada kontaminasi di luar lokasi situs nuklir.
Media pemerintah Iran, IRNA bahkan nampak meremehkan dampak serangan dengan membuat laporan dari daerah dekat Fordow, lokasi nuklir paling penting dan sulit dijangkau. Mereka menyebut hanya ada sedikit asap mengepul dari bekas lokasi yang dibom AS tersebut.
Citra satelit yang beredar pada hari Minggu juga menunjukkan kemungkinan lokasi dampak di Fordow, tempat "Bungker Buster" bom GBU-57 diyakini telah tertanam jauh di bawah tanah sebelum meledak dalam upaya menghancurkan fasilitas nuklir Iran di bawah pegunungan.
Ketua Bulan Sabit Merah Iran, Pir Hossein Kolivand, mengatakan tidak ada korban jiwa dalam serangan AS. Gambar-gambar juga menunjukkan pergerakan besar truk dan buldoser di sekitar Fordow pada hari-hari menjelang serangan. Kendaraan-kendaraan tersebut untuk memindahkan peralatan dan bahan nuklir sebagai antisipasi serangan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan pernyataan yang mengindikasikan bahwa respons militer Teheran tidak dapat dihindari. "Negara saya telah diserang, dan kita harus menanggapinya," katanya kepada wartawan dalam acara pertemuan negara-negara Islam di Turki.
Ia menambahkan, "Kita harus tetap sabar dan menunjukkan tanggapan yang proporsional terhadap agresi ini. Hanya jika tindakan ini dihentikan, maka kita akan membuat keputusan tentang jalur diplomatik dan kemungkinan memulai kembali negosiasi."
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, dalam pesan yang disiarkan di televisi Minggu lalu dari lokasi yang tidak diketahui, memperingatkan bahwa kerugian besar bakal diderita Washington jika memilih untuk langsung memasuki perang bersama Israel.
"Kerusakan yang akan dideritanya akan jauh lebih besar daripada kerugian yang mungkin dialami Iran. Kerugian yang akan diderita AS pasti tidak akan dapat diperbaiki jika ia ikut campur dalam konflik ini secara militer," katanya.
Editor: Muhammad Taufiq


