Meski sering terjadi, bullying masih menjadi fenomena yang kerap luput dari perhatian, terutama di lingkungan sekolah. Banyak remaja tidak menyadari bahwa tindakan mengejek, mempermalukan, atau mengintimidasi teman sebaya merupakan bentuk kekerasan psikologis yang dapat meninggalkan luka mendalam dalam jangka panjang.
Dalam konteks inilah sebuah penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku bullying dan dampaknya terhadap remaja, khususnya siswa kelas VII dan VIII pada satu sekolah menengah pertama (SMP). Penelitian dilakukan oleh Nabila Pasha Amelia, Suryani, Sri Hendrawati dari Fakultas Keperawatan, Universitas Padjajaran, Indonesia.
Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan 50 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria korban bullying yang masih aktif bersekolah dan bukan pelaku bullying. Instrumen penelitian menggunakan Retrospective Bullying Questionnaire, dan analisis dilakukan menggunakan analisis item.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran penting mengenai jenis bullying, frekuensi kejadian, hingga dampak psikologis yang dialami korban.
Bullying Verbal Mendominasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa verbal bullying merupakan jenis paling banyak terjadi, dialami oleh 43 dari 50 responden (86%).
Bentuk verbal bullying yang sering diterima meliputi:
- Mengejek nama orang tua
- Menghina nama teman
- Mengejek kekurangan fisik
- Mengolok-olok perbedaan agama.
Kebiasaan mengejek ini sering dianggap sepele oleh lingkungan sekitar. Banyak siswa bahkan tidak menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk bullying.
Hal ini menurut peneliti, sejalan dengan penelitian Sugiariyanti (2009) yang menemukan bahwa remaja kerap tidak memahami bahwa perilaku mereka, di ruang kelas maupun halaman sekolah, telah masuk kategori bullying.
Tidak hanya responden, pelaku bullying sendiri sering tidak menyadari perannya, sehingga fenomena ini digambarkan sebagai “gunung es”: tampak kecil di permukaan, tetapi menyimpan banyak masalah tersembunyi di bawahnya (Surilena, 2016).
Frekuensi Kejadian: Berlangsung Beberapa Hari dan Berulang
Sebanyak 37 siswa (74%) menyatakan bahwa mereka mengalami bullying selama beberapa hari, bahkan dengan pengulangan. Kebiasaan mengejek sehari-hari (Putri, 2009) lambat laun berubah menjadi pola intimidasi yang sistemik.
Dalam banyak kasus, pelaku merasa lebih berkuasa, sedangkan korban merasa semakin tidak berdaya, persis seperti yang dijelaskan Ariesto (2009).
Perilaku bullying yang terus berulang terjadi karena beberapa faktor:
- Minimnya pengawasan guru dan orang tua
- Normalisasi perilaku mengejek sebagai “candaan”
- Korban tidak melapor karena takut atau malu
- Ketidaktahuan bahwa perilaku tersebut sudah termasuk kekerasan.
Akibatnya, bullying yang terjadi berulang menjadi ancaman serius bagi perkembangan mental dan sosial remaja.
Dampak Psikologis: Dari Stres hingga Gejala PTSD
Penelitian menemukan bahwa dampak psikologis bullying sangat signifikan. Sebanyak 22 siswa (44%) mengalami stres atau tekanan mental akibat peristiwa yang mereka alami.
Jumlah yang sama, yaitu 44%, juga menyatakan masih sering mengingat kembali (flashback) kejadian bullying.
Selain itu:
- 13 siswa (26%) mengalami mimpi buruk terkait pengalaman bullying.
- 10 siswa (20%) pernah bolos sekolah atau berpura-pura sakit untuk menghindari perundungan.
- Sebanyak 6 siswa (12%) bahkan menyatakan pernah berpikiran untuk bunuh diri. Angka yang mengkhawatirkan meski secara jumlah kecil.
Menurut peneliti, temuan ini sejalan dengan penelitian Kowalski & Limber (2013) yang menyebutkan bahwa korban bullying menunjukkan dampak negatif terhadap kesehatan mental, fisik, dan akademik.
Gejala yang dialami responden juga menunjukkan indikasi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), seperti flashback, ketegangan berlebih, dan gangguan tidur (Nawangsih, 2016).
Yayasan Sejiwa (2017) menegaskan bahwa korban bullying memiliki risiko depresi dan kecenderungan menyakiti diri sendiri yang lebih tinggi daripada remaja lain. Bahkan seandainya hanya sedikit responden yang melaporkan keinginan bunuh diri, hal ini tetap merupakan ancaman serius bagi keselamatan remaja.
Mengapa Banyak Korban Tidak Menyadari Bahwa Mereka Dibully?
Menariknya, masih ada beberapa siswa yang merasa tidak sedang di-bully, meskipun ketika ditanya lebih spesifik, mereka mengaku mengalami tindakan diejek, dihina, atau diolok-olok.
Hal ini terjadi karena:
- Mereka menganggapnya hanya sebagai lelucon
- Lingkungan sekolah menormalisasi perilaku tersebut
- Korban tidak ingin dianggap lemah
- Tindakan bullying terjadi secara halus atau bertahap.
Fenomena ini memperkuat pandangan bahwa bullying sering berlangsung tanpa disadari, baik oleh korban maupun pelaku.
Implikasi: Masalah yang Harus Ditangani Serius
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa:
- Bullying verbal adalah yang paling dominan, dan terjadi dalam frekuensi yang cukup sering.
- Dampak psikologis pada korban sangat nyata, mulai dari stres, mimpi buruk, flashback, hingga dorongan untuk mengakhiri hidup.
- Perilaku bullying sering dianggap sepele dan tidak dikenali, sehingga risiko jangka panjangnya semakin besar.
Karena itu, hasil penelitian ini akan diserahkan kepada pihak sekolah dan puskesmas setempat sebagai bahan evaluasi dan dasar penanganan kasus bullying.
Peran Sekolah, Tenaga Kesehatan, dan Masyarakat
Penanganan bullying tidak bisa dilakukan oleh pihak sekolah saja. Kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan.
1. Sekolah
- Menciptakan lingkungan aman dan ramah siswa
- Menyediakan layanan konseling reguler
- Melakukan sosialisasi tentang jenis dan dampak bullying
- Mengaktifkan pengawasan di area rawan kejadian.
2. Puskesmas dan Tenaga Kesehatan
- Memberikan edukasi dan konseling tentang pencegahan dan dampak bullying
- Membantu deteksi dini gangguan mental akibat bullying
- Menyediakan layanan psikolog atau rujukan profesional.
3. Orang Tua dan Masyarakat
- Lebih peka terhadap perubahan perilaku anak
- Mendengarkan tanpa menghakimi
- Mengedukasi anak tentang empati dan komunikasi sehat
Salah Satu Solusi: Teknik Assertive Training
Penelitian yang dimuat di Jurnal Ilmu Keperawatan Anak Vol 5 No 2, Nov 2022 itu menyebutka salah satu intervensi yang direkomendasikan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah assertive training.
Assertive Training adalah pelatihan untuk meningkatkan kemampuan remaja dalam:
- Mengungkapkan pendapat tanpa takut
- Menolak ajakan negatif
- Meningkatkan self-esteem
- Mengomunikasikan batasan dengan tegas
Teknik ini terbukti efektif dalam membantu korban bullying membangun keberanian dan kepercayaan diri (Karyanti, Atmoko, & Hitipeuw, 2015; Farida, Dahlan, & Widiastuti, 2018).
Penutup
Hasil penelitian ini memberikan gambaran yang jelas bahwa bullying, terutama verbal, merupakan masalah serius yang masih marak terjadi di sekolah.
Dampak psikologis yang dirasakan korban tidak hanya jangka pendek, tetapi juga dapat berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.
Karena itu, peran aktif sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan remaja mendapatkan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bebas kekerasan.
Editor: Kendi Setiawan


