Penyebab utama terjadinya kekerasan seksual atau perampasan hak orang lain untuk merasakan kenyamanan adalah luputnya perhatian perihal consent. Consent atau persetujuan merupakan landasan untuk membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai. Idealnya, pemahaman soal consent sudah didapatkan sejak masa anak-anak baik lewat keluarga, masyarakat, maupun sekolah.
Namun, sayangnya karena beragam faktor yang melatarbelakangi, pendidikan perihal consent sering disampaikan tidak menyeluruh. Pemahaman soal persetujuan hanya berhenti pada kata “ya” atau “tidak, “mau” atau “tidak” tanpa ada pemahaman lebih spesifik apa yang mesti diperhatikan sebelum sampak kata iya atau mau.
Secara sederhana, consent adalah izin atau kesediaan yang diberikan seseorang dengan penuh kesadaran terhadap sesuatu yang akan dilakukan kepada dirinya atau yang melibatkan dirinya. Persetujuan ini harus diberikan secara sukarela, tanpa tekanan, dan setelah mendapatkan informasi yang cukup.
Ini berarti seseorang harus tahu apa yang ia setujui, memiliki kemampuan untuk membuat keputusan, dan merasa bebas untuk mengatakan "ya" maupun "tidak". Dalam berbagai aspek kehidupan; baik dalam hubungan sosial, pendidikan, layanan kesehatan, hingga penggunaan teknologi, consent berperan sebagai bentuk penghormatan terhadap hak, martabat, dan otonomi individu.
Konsep consent tidak hanya berlaku dalam situasi formal seperti menandatangani surat izin medis, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang ingin memegang temannya, ia sebaiknya bertanya dulu: "Bolehkah aku menggandeng tanganmu?"—dan jawaban dari temannya, baik "ya" maupun "tidak", harus dihormati.
Ini menunjukkan bahwa consent bukan sekadar soal aturan, tetapi soal sikap saling menghargai dan memastikan kenyamanan orang lain. Agar consent dianggap sah, ada beberapa unsur penting yang harus dipenuhi.
Pertama, adanya pemahaman atau informasi yang cukup. Artinya, orang yang memberikan persetujuan harus tahu dengan jelas apa yang ia setujui, termasuk dampak atau risiko yang mungkin terjadi.
Kedua, harus ada kebebasan dalam memberikan persetujuan. Persetujuan yang diberikan karena tekanan, ancaman, atau manipulasi bukanlah consent yang valid.
Ketiga, consent harus diberikan oleh seseorang yang memiliki kapasitas atau kemampuan untuk membuat keputusan. Anak-anak, orang dengan gangguan kognitif, atau mereka yang sedang berada dalam keadaan sangat emosional atau tertekan mungkin perlu perlakuan khusus dalam konteks ini.
Keempat, consent bisa ditarik kembali kapan saja. Jika seseorang sudah memberikan izin tapi kemudian merasa tidak nyaman, ia berhak untuk mengatakan "tidak lagi". Dan terakhir, harus dilakukan dengan antusias antar kedua belah pihak.
Dalam praktiknya, consent bisa berwujud dalam berbagai bentuk. Ada yang disampaikan secara verbal, yaitu langsung dikatakan secara lisan, seperti "Saya setuju" atau "Silakan". Ada juga yang tertulis, seperti menandatangani formulir persetujuan sebelum menjalani operasi.
Bentuk lain adalah consent implisit, yang terlihat melalui tindakan seseorang. Misalnya, saat seseorang mengulurkan lengan untuk diukur tekanan darahnya, itu dianggap sebagai bentuk persetujuan tak langsung. Yang paling penting adalah informed consent, yaitu persetujuan yang diberikan setelah mendapat penjelasan menyeluruh.
Ini biasanya diterapkan di bidang medis, riset, dan layanan pendidikan, di mana seseorang harus paham betul sebelum menyetujui suatu prosedur atau kegiatan.
Di dunia pendidikan, consent menjadi bagian penting dalam menjaga hak dan kenyamanan siswa. Sebagai contoh, guru atau lembaga sekolah tidak boleh memaksa siswa ikut kegiatan ekstrakurikuler tanpa seizin mereka. Begitu pula, jika ada kegiatan penelitian yang melibatkan murid; terutama anak-anak, maka harus ada izin dari orang tua atau wali.
Ini menekankan bahwa anak-anak, walau belum sepenuhnya memiliki kapasitas hukum, tetap berhak mendapatkan perlindungan atas keputusan-keputusan yang menyangkut mereka.
Dalam era digital seperti sekarang, konsep consent juga sangat penting dalam hal privasi dan data pribadi. Saat kita mengakses situs web, biasanya akan muncul notifikasi tentang cookie, yaitu data yang dikumpulkan oleh situs tentang aktivitas kita.
Pengguna harus diberikan pilihan untuk menyetujui atau menolak pelacakan tersebut. Begitu juga saat mengunduh aplikasi di ponsel, aplikasi harus meminta izin untuk mengakses fitur seperti kamera, lokasi, atau kontak.
Sayangnya, banyak orang yang mengabaikan hal ini karena terbiasa langsung menekan “Setuju” tanpa membaca. Padahal, menjaga privasi dan memahami apa yang kita izinkan adalah bagian dari literasi digital yang penting.
Contoh lain yang tidak kalah penting adalah dalam hubungan interpersonal. Dalam interaksi sosial atau romantis, selalu penting untuk memastikan bahwa setiap tindakan yang melibatkan orang lain, terutama yang menyentuh aspek tubuh atau perasaan, dilakukan dengan persetujuan.
Memeluk, mencium, menyentuh, atau bahkan membuat candaan yang bersifat pribadi sebaiknya diawali dengan komunikasi terbuka dan persetujuan. Ini bukan soal berlebihan, tapi soal menghargai batasan dan kenyamanan orang lain.
Mengapa consent begitu penting? Karena melalui konsep ini, kita belajar untuk saling menghargai, berkomunikasi dengan jujur, dan membangun hubungan yang sehat. Consent bukan sekadar aturan atau formalitas, tetapi cara kita menunjukkan bahwa kita peduli dan tidak ingin melanggar hak orang lain.
Buku dan Consent
Pendidikan perihal consent bisa dilakukan dengan beragam cara. Selain lewat penjelasan secara langsung, penggunaan media buku bisa menjadi pilihan. The Golden Goose (2003) gubahan Dick King Smith menjadi salah satu buku anak yang bisa dijadikan sebagai daftar bacaan pendukung untuk memahami consent lewat jalur pengisahan.
The Golden Goose menceritakan kehidupan seorang petani bernama Jhon Skint. John dikisahkan sebagai petani yang awalnya miskin berubah menjadi kaya setelah memiliki angsa emas. Kisah dalam buku ini memuat beragam nilai: saling berbagi, kesabaran, kerja keras, saling menyayangi, menghargai orang lain, dan kepercayaan.
Diceritakan, Sir Ottebury, seorang peneliti alam dan penyair diberitahu oleh petugas pos bahwa di rumah John ada angsa emas. Awalnya, Jhon tidak mau menunjukkan angsanya karena khawatir berbondong-bondong orang akan datang ke rumahnya, namun akhirnya ia memberitahu Ottebury dengan syarat kebenaran itu tidak boleh dikatakan pada siapa pun.
Singkat cerita, Sir Ottebury berniat untuk mengabadikan angsa emas tersebut menjadi sebuah film dokumenter. Menurut data yang ia temukan, dalam sejarah Romawi, unggas emas lambat laun akan berubah menjadi putih. Ia tidak ingin kehilangan bukti keberadaan hewan langka tersebut.
Sebelum merealisasikan keinginannya, Ottebury kembali menemui John untuk menanyakan pendapatnya soal rencana pembuatan film. Jika diperbolehkan, berarti kebenaran soal angsa emas akan diketahui oleh dua orang, juru kamera dan juru rekam suara.
Awalnya, John menolak karena ia tidak ingin keberadaan angsa emasnya diketahui oleh banyak orang. Namun, setelah Otterbury menjelaskan maksud tujuannya, memberitahukan dampak positif dan negatifnya tanpa tendensi memaksa apalagi memanipulasi, John menyetujuinya.
Selama melakukan percakapan dengan John mengenai proyek penggarapan filmnya, Otterbury tidak melakukan paksaan atau ancaman, semua informasi disampaikan secara jelas, terbuka, dan penuh kejujuran, dan hingga di akhir cerita, semua pihak antusias dalam melakukannya.
“Tapi John, hanya jika Anda mengizinkan saya untuk memfilmkannya, kita bisa memiliki dokumen tentangnya untuk selamanya.”
Kata “jika Anda mengizinkan” sering diucapkan berkali-kali, disertai pertimbangan-pertimbangan yang mengiringinya. Ini mengajarkan pembaca soal persetujuan yang tidak berhenti hanya pada kata “iya” atau “tidak” tanpa penjelasan lebih detail antar kedua belah pihak.
Pada akhirnya, pengajaran perihal consent menjadi upaya amat penting di tengah dunia yang semakin kompleks dan cepat berubah. Kemampuan untuk meminta dan memberi persetujuan dengan benar menjadi salah satu keterampilan sosial yang paling penting untuk dimiliki dan diajarkan sejak dini.
Ketika membiasakan diri untuk meminta dan memberi persetujuan dengan sadar dan tepat, kita turut menciptakan budaya yang aman dan penuh penghormatan.
Editor: Kendi Setiawan


