Dark
Light
Dark
Light

Siapakah Peneliti Ulul Albab?

Siapakah Peneliti Ulul Albab?

Hasil penelitian harus memiliki nilai manfaat (maa khalaqta hadza batilan), tidak menjadi tumpukan laporan, buku dan isi folder serta artikel yang menjadi hiasan dalam jurnal yang tidak dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.

***

Ulul albab bisa diartikan sebagai orang cerdik pandai atau cendekiawan. Dalam al-Qur'an, kurang lebih enam belas (16) kali disebut. Al-Qur'an tidak mendefinisikannya, hanya menyebutkan tanda-tanda manusia yang dapat diberi julukan sebagai ulul albab, misalnya telah disebutkan dalam QS. Ali Imran: 190-191.

Zaini Dahlan mendefinisikan ulul albab sebagai orang yang berakal cerdik, dapat mengambil pelajaran, berpikir cerdas, orang yang menggunakan akal, orang yang berpikir tajam.

Peneliti merupakan orang-orang yang menggunakan akal pikiran untuk keilmuan (ilmiah), memperhatikan dengan teliti, mengelola informasi dengan valid (tidak bohong), dan berbasis ilmu (dianalisis dengan ilmu) serta memberikan saran konstruktif.

Secara administratif, langkah-langkah tersebut selalu dituangkan dalam sebuah desain riset, namun dalam mengimplementasikan terkadang tidak seideal desainnya, sehingga hasilnya tidak optimal dan tidak banyak memberikan kemanfaatan. 

Peneliti termasuk orang-orang yang seharusnya sudah lepas dari sindirian Allah, dengan kata-kata “afala ta’qilun” dan sejenisnya, sebab mereka sudah memberdayakan akal pikiran untuk mengelola informasi menjadi pengetahuan.

Namun demikian, apakah mereka melibatkan Allah dalam mengelola akal pikiran yang kemudian menjadi informasi atau pengetahuan berdasarkan data atau fakta tersebut? atau hanya berorientasi pada materi saja (material oriented), dana besar, naik pangkat, dan lainnya.

Peneliti dapat dikategorikan dalam golongan kaum cendekiawan (ulul albab). Dalam QS. Ali Imran tersebut, mereka memiliki ciri selalu berdzikir (tadzakkur), selalu tersambung dengan Allah, berpikir kritis atau memiliki daya kritis yang tinggi (tafakkur), memiliki kepribadian sosial yang tinggi (humble), memiliki ketajaman analisis, memiliki ketakwaan (spiritualitas) dan pengetahuan yang tinggi, tidak cinta duniawi, dan solutif. 

Dalam duduk, berdiri, dan berbaring, peneliti selama proses penelitian harus dalam keterjagaan orientasinya pada ketuhanan sebagai rules of life. Hasil penelitian harus memiliki nilai manfaat (maa khalaqta hadza batilan), tidak menjadi tumpukan laporan, buku dan isi folder serta artikel yang menjadi hiasan dalam jurnal yang tidak dibaca dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Riset yang bermanfaat saat mendapatkan paten dikembangkan oleh industri, menjadi buku yang dirujuk banyak orang, menjadi artikel yang disitasi, dan menjadi berita yang menginspirasi serta menjadi bahan perbaikan kebijakan. Coba kita merenung sejenak, hasil riset para ulama terdahulu yang bisa dijadikan rujukan keilmuan baik di bidang fikih, ilmu kalam, tasawuf, atau bahkan ilmu matematika (al-Khwarizmi), kedokteran (Ibnu Sina), kimia (Jabir bin Hayyan) dan lainnya.

Mengapa hasil riset mereka sangat bermanfaat bagi keilmuan dan dunia hingga sekarang?

Peneliti Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sudah seharusnya memiliki keilmuan dan sikap dan perilaku yang integratif dengan keagamaannya. Muslim taat memiliki landasan keagamaan yang kokoh dengan keilmuan (kepakaran) yang dimiliki, diharapkan dapat menghasilkan pengetahuan (hasil riset) yang memiliki kemanfaatan lebih bagi keilmuan, masyarakat, bangsa dan negara serta dunia. Kenaikan pangkat, jabatan dan kesejahteraan diri merupakan personal impact. 

Proses yang tidak benar hingga pengambilan kesimpulan yang salah berakibat fatal, menjadi pengetahuan yang sia-sia (bathil) dan peneliti akan menerima hisabnya. Selain itu ada proses penelitian, penulisan laporan, buku dan artikel yang bisa jadi di luar penjagaan Allah seperti pembagian hasil yang tidak adil, tidak menggunakan dana dengan benar, plagiasi, dan penyimpangan lain dalam bahasa agama disebut kezaliman.

Hisab nyata adalah uncredible, sanksi moral/etik, dan karir terhambat dari penyimpangan tersebut. Agar penyimpangan tidak terjadi secara masif maka harus di tasbihkan, dibersihkan (disucikan) dengan mengurangi kadar penyimpangan hingga benar-benar menjadi seorang peneliti ulil albab. 

Berat memang, menjaga diri selalu terhubung dengan Allah selama beraktivitas, mengikuti aturan dan etika keilmuan. Berpikir out of the box bagian dari kreatifitas yang tidak harus melakukan penyimpangan. Sebab bila salah orientasi, maka proses dan hasilnya tidak akan memberikan manfaat kecuali bagi dirinya, termasuk madharatnya. Secara bertahap mari wujudkan peneliti perguruan tinggi keagamaan islam menjadi peneliti ulul albab, sesuai yang dicirikan dalam al-Quran al-Karim.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Basid
Subdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendis


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo