Dark
Light
Dark
Light

Tafsir Asy-Syura Ayat 23: Membincang Siapa Ahlul Bait dalam Al-Qur’an

Tafsir Asy-Syura Ayat 23: Membincang Siapa Ahlul Bait dalam Al-Qur’an

“Saya ingin menganut paham yang memperluas makna keluarga Nabi. Siapa itu? Orang yang dekat dengan Nabi. Umatnya itu keluarganya, bukan cuma orang Arab, bukan cuma turunannya,”

Pandangan itu disampaikan Prof Quraish dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ), yang berlangsung di Pesantren Bait al-Quran, Pondok Cabe, Tangerang Selatan (28/9/2024) lalu. 

Menurut Prof Quraish, makna Ahlul Bait tidak hanya terbatas pada aspek biologis, melainkan jauh lebih luas, mencakup siapa pun yang berusaha untuk meneladani sifat, perilaku, dan ajaran Nabi Muhammad SAW. 

Semangat yang terkandung dalam istilah Ahlul Bait harus dipahami dengan pendekatan yang lebih inklusif. Baginya, Ahlul Bait bukan sekadar mereka yang memiliki hubungan darah dengan Nabi, tetapi juga siapa saja yang memiliki hubungan batin dan kedekatan spiritual dengan Rasulullah. 

Pakar tafsir Indonesia ini mengutip Surat Asy-Syura ayat 23: 

قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ 

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” 

Tafsir Jamiul Bayan

Menurut Ibnu Jarir Thabari, dalam kitab Tafsir Jamiul Bayan, ulama berbeda pendapat tentang maksud مَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ [keluarga Nabi] dalam ayat ini. Pertama, ada yang berpendapat yang dimaksud dengan keluarga Nabi dalam ayat ini adalah Suku Quraisy, tempat asal Nabi Muhammad. Pasalnya, Nabi memang berasal dari Suku Quraisy Makkah. 

Dalam riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Jarir Thabari, beliau mengutip pernyataan dari Al-Husain yang berkata bahwa ia mendengar Abu Mu’adz mengatakan: Ubaid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Adh-Dhahhak menjelaskan mengenai firman Allah “Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atasnya, kecuali kasih sayang dalam keluarga (dekat)” — yang dimaksud adalah kaum Quraisy.

Riwayat ini menyatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa keluarga yang dimaksud adalah kaum Quraisy, suku yang menjadi asal-muasal Nabi Muhammad SAW. Pendapat ini mengacu pada hubungan kekerabatan suku yang diharapkan oleh Nabi untuk tidak dimusuhi dan diperlakukan dengan baik.

Simak penjelasan Imam Thabari berikut:

حُدثت عن الحسين، قال: سمعت أبا معاذ يقول: أخبرنا عبيد، قال: سمعت الضحاك يقول في قوله: (قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى) يعني قريشا

Artinya: "Diriwayatkan dari Al-Husain, ia berkata: Aku mendengar Abu Mu’adz berkata: Ubaid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Adh-Dhahhak berkata mengenai firman Allah (QS. Asy-Syura: 23) “Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atasnya, kecuali kasih sayang dalam keluarga (dekat)” — yang dimaksud adalah kaum Quraisy." [Ibnu Jarir At-Thabari, Jamiul Bayan, Jilid XXI, [Mekkah: darul Tarbiyah wa Turats, tt] halaman 524].

Kedua, ada yang mengatakan bahwa keluarga Nabi dalam ayat ini ditujukan kepada keluarga besar Rasulullah dari beberapa kabilah, yaitu Bani Hasyim, Bani Zuhrah, dan Bani Makhzum. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hushain Abdullah bin Ahmad bin Yunus menjelaskan bahwa Rasulullah berasal dari Bani Hasyim, ibunya dari Bani Zuhrah, dan ibu ayahnya dari Bani Makhzum.

حدثنا أبو حصين عبد الله بن أحمد بن يونس، قال: ثنا عبثر، قال: ثنا حصين، عن أبي مالك في هذه الآية: (قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى) قال: كان رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم من بني هاشم وأمه من بني زهرة وأم أبيه من بني مخزوم، فقال:”احفظوني في قرابتي”

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Abu Hushain Abdullah bin Ahmad bin Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abtsar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hushain dari Abu Malik tentang ayat ini: “Katakanlah: Aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas dakwah ini kecuali kasih sayang terhadap kerabat” (QS. Asy-Syura: 23), ia berkata: Rasulullah  berasal dari Bani Hasyim, ibunya dari Bani Zuhrah, dan ibu ayahnya dari Bani Makhzum. Maka beliau bersabda: “Jagalah hubungan kalian denganku dengan memperhatikan hak-hak kerabatku.” [hlm. 525]

Yang disebut dengan keluarga Nabi Muhammad adalah orang Mukminin yang mengikuti Nabi. Mereka inilah yang dimaksud dengan keluarga Nabi.

Ketiga, yang disebut sebagai keluarga Nabi Muhammad adalah orang-orang mukmin yang mengikuti dan meneladani ajaran Rasulullah. Dalam konteks ini, istilah “keluarga Nabi” tidak hanya merujuk kepada kerabat biologis Nabi, tetapi juga mencakup seluruh umat Islam yang beriman dan berkomitmen untuk menjalankan ajaran Islam,  yang dibawa oleh Nabi. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan spiritual dan keimanan yang kuat lebih diutamakan daripada hubungan darah semata, menjadikan setiap mukmin sebagai bagian dari keluarga besar Nabi.

Lebih lanjut, Imam Thabari menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak meminta imbalan apa pun atas wahyu dan ajaran Islam yang sampaikan, kecuali satu hal: cinta dan penghormatan kepada keluarganya. Dalam ayat tersebut, Nabi meminta kepada para pengikutnya untuk menunjukkan kasih sayang kepada kerabatnya, yang menandakan pentingnya menjaga hubungan sosial dan keakraban di antara umat. 

Untuk itu, pesan ini menegaskan bahwa cinta kepada keluarga Nabi merupakan bagian dari keimanan dan bukti pengikut yang sejati, menciptakan ikatan yang kuat antara Nabi dan umatnya.

وقال آخرون: بل معنى ذلك: قل لمن تبعك من المؤمنين: لا أسألكم على ما جئتكم به أجرا إلا أن تودّوا قرابتي

Artinya: “Dan sebagian ulama lain mengatakan: ‘maknanya adalah: Katakanlah kepada orang-orang mukmin yang mengikutimu: Aku tidak meminta upah kepada kalian atas apa yang aku bawa kepada kalian, kecuali agar kalian mencintai kerabatku.’” [526]

Keempat, yang dimaksud dengan keluarga Nabi adalah orang-orang yang senantiasa beramal saleh dan taat kepada Allah. Dengan demikian, menjadi “keluarga Nabi” tidaklah ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh kualitas iman dan amal seseorang.

وقال آخرون: بل معنى ذلك: قل لا أسألكم أيها الناس على ما جئتكم به أجرا إلا أن تودّدوا إلى الله، وتتقربوا بالعمل الصالح والطاعة

Artinya: “Dan berkata yang lain: Sebaliknya, makna itu adalah: Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepada kalian, wahai manusia, imbalan atas apa yang aku bawa kepada kalian, kecuali agar kalian berbuat baik kepada Allah dan mendekatkan diri dengan amal saleh dan ketaatan.’” [529]

Tafsir Ibnu Katsir

Sementara Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Jilid VII, halaman 183 bahwa surat Asy Syura ayat 23, Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menjelaskan kepada kaum Quraisy bahwa Nabi tidak meminta imbalan atas penyampaian wahyu dan nasihatnya. Nabi hanya mengharapkan agar mereka menghentikan kemusyrikan dan membiarkannya menyampaikan pesan dari Tuhannya. Jika mereka tidak dapat memberikan dukungan, setidaknya mereka tidak menyakiti Nabi, mengingat ada hubungan darah di antara mereka.

Lebih lanjut, yang dimaksud dengan “keluarga Nabi”, dalam ayat ini, sebagaimana dijelaskan Ibn Abbas bahwa itu adalah suku Quraisy. Pasalnya, setiap suku Quraisy memiliki hubungan keluarga dengan Nabi Muhammad, sehingga ayat tersebut mengingatkan mereka untuk menjaga hubungan tersebut. Nabi Muhammad mengajak mereka untuk menghargai hubungan kerabat dan menghindari permusuhan, seraya mengingatkan bahwa beliau berhak untuk disampaikan tanpa mendapat gangguan dari mereka.

  أي قل يا محمد لهؤلاء المشركين من كفار قريش لا أسألكم على هذا البلاغ والنصح لكم ما لا تعطونيه وإنما أطلب منكم أن تكفوا شركم عني وتذروني أبلغ رسالات ربي إن لم تنصروني فلا تؤذوني بما بيني وبينكم من القرابة. قال البخاري: حدثنا محمد بن بشار، حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة عن عبد الملك بن ميسرة قال: سمعت طاوسا يحدث عن ابن عباس ﵄ أنه سئل عن قوله تعالى ﴿إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى﴾ فقال سعيد بن جبير: قربى آل محمد فقال ابن عباس: عجلت إن النبي ﷺ لم يكن بطن من قريش إلا كان له فيهم قرابة فقال إلا أن تصلوا ما بيني وبينكم من القرابة 

Artinya: "Katakanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang musyrik dari kaum Quraisy ini: ‘Aku tidak meminta imbalan atas penyampaian dan nasihat ini, karena aku tidak mengharapkan imbalan yang tidak dapat kalian berikan. Yang aku minta dari kalian adalah agar kalian menghentikan kemusyrikan kalian terhadapku dan membiarkanku untuk menyampaikan wahyu Tuhanku. Jika kalian tidak menolongku, maka janganlah kalian menyakitiku karena hubungan darah yang ada di antara kita.’

Ibn Bukhari berkata: ‘Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bashar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syubah dari Abdul Malik bin Maisarah, ia berkata: ‘Aku mendengar Ta’was menceritakan dari Ibn Abbas r.a. bahwa ia ditanya tentang firman Allah ﴿إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى﴾ (kecuali kasih sayang terhadap kerabat).’ Maka Said bin Jubair berkata: ‘Kerabat Nabi Muhammad.’ Lalu Ibn Abbas berkata: ‘Engkau tergesa-gesa, karena sesungguhnya Nabi SAW memiliki hubungan keluarga dengan setiap suku Quraisy. Maka yang dimaksud adalah agar kalian menjaga hubungan yang ada di antara kita.’” [Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzhim, Jilid VII, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah,1998 M] halaman 183]

Selanjutnya, menurut Ibnu Katsir ada juga pendapat lain yang menjelaskan yang dimaksud keluarga Nabi dalam surat Asy Syura ayat 23, adalah orang-orang yang mengerjakan amal  ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Qatadah, dari Al-Hasan Al-Basri. 

إِلاَّ الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبى. أي إلا أن تعملوا بالطاعة التي تقربكم عند الله زلفى 

Artinya: "Firman Allah [“Kecuali kasih sayang kepada kerabat], maksudnya adalah, kecuali kalian melakukan ketaatan yang mendekatkan kalian kepada Allah." (184)

Tafsir as-Sam’ani

Pada sisi lain, Dalam kitab Tafsir as-Sam’ani, karya Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “keluarga dekat” dalam ayat ini adalah kerabat dekat Nabi, yakni Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, dan Husain. Mereka adalah Ahlul Bait yang dikenal secara khusus dalam tradisi Islam sebagai keluarga Nabi yang memiliki keutamaan dan kedudukan tinggi. Kendati demikian, pendapat yang ini sangat dhaif. 

وَحكى بَعضهم: أَن النَّبِي سُئِلَ عَن هَذِه، وَعَن معنى الْقُرْبَى فَقَالَ: “ عَليّ وَفَاطِمَة وولدهما “، وَهَذَا أغرب الْأَقَاوِيل وأضعفها

Artinya: "Beberapa ulama menceritakan bahwa Nabi ditanya tentang ayat ini dan tentang makna “kerabat” (al-Qurba), maka beliau menjawab: “Ali, Fatimah, dan anak-anak mereka.” Ini adalah pendapat yang paling ganjil dan paling lemah." [Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsir as-Sam’ani, jilid V, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], hal. 189].


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo