Bandarlampung, Arina.id—Di tengah-tengah kemeriahan upacara wisuda di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung (UIN RIL) pada 16 Oktober 2025 lalu, sebuah nama menarik perhatian banyak orang: Supron Ridisno, seorang guru dari SLB Fitrah Insani Bandar Lampung yang juga penyandang tunanetra.
Dengan langkah mantap ia naik ke panggung sidang senat terbuka untuk menerima penghargaan Disertasi Terbaik Program Doktor Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).
Disertasinya yang berjudul Kebijakan Pemerintah Daerah Guna Pemberdayaan Penyandang Disabilitas di Provinsi Lampung tidak sekadar akademis.
Ia menggali secara mendalam bagaimana kebijakan inklusif dan ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas berjalan (atau malahan belum berjalan) di lapangan.
Ia menemukan bahwa, meskipun regulasi telah ada, realitasnya masih diwarnai oleh keterbatasan tenaga pendidik, media pembelajaran adaptif, dan pelatihan kerja yang minim.
“Menuntut ilmu itu tidak ada batasnya. Saya ingin mengisi waktu dengan hal‑hal yang bermanfaat, salah satunya melalui pendidikan S3,” ujar Supron.
“Kita punya Convention on the Rights of Persons with Disabilities (CRPD) dan Undang‑Undang Nomor 8 Tahun 2016. Tapi yang penting bukan hanya regulasinya, melainkan bagaimana pelaksanaannya di lapangan benar‑benar menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Di balik gelar doktor itu, perjalanan Supron tak semata soal akademik. Ketika kecil, kecelakaan menimpanya hingga penglihatan menurun drastis; putus sekolah selama beberapa tahun kemudian menjadi kenyataan.
Namun dalam setiap tantangan, ia memilih berdiri kembal, menjadi siswa, mahasiswa, hingga guru.
Selama studi doktoral, ia memanfaatkan teknologi seperti pembaca layar dan buku digital. Ia pun tidak semata menyelesaikan tugas, melainkan mengolah data dan wawancara untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi provinsi tempatnya tinggal.
“Saya berterima kasih karena mereka sangat terbuka dan mendukung, meskipun saya memiliki keterbatasan penglihatan,” tuturnya.
“Tidak ada batasan untuk menuntut ilmu. Dunia pendidikan sekarang sudah sangat terbuka. Yang penting kita punya semangat dan kemauan. Keluarga juga harus memberi kesempatan, karena tantangan terbesar sering datang dari lingkungan sekitar,” katanya.
Dengan keberhasilan ini, Supron memberi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Ia membuktikan bahwa pendidikan tinggi bisa diakses oleh siapa saja yang memiliki tekad dan dukungan yang tepat.
Kisahnya menjadi cermin bahwa inklusivitas di dunia kampus bukan sekadar slogan, tetapi kenyataan yang bisa dibangun bersama.
Editor:


