Jakarta, Arina.id—Jarak publik dengan partai politik masih terlihat lebar. Survei Poltracking Indonesia menunjukkan hanya 12,3 persen masyarakat yang merasa dekat dengan partai politik, sementara 66,8 persen lainnya menyatakan tidak merasa dekat.
Temuan tersebut menjadi salah satu gambaran dalam survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 terhadap 1.220 responden di 38 provinsi.
Meski kedekatan publik dengan partai politik rendah, tingkat kepercayaan terhadap keberadaan partai politik masih lebih tinggi. Sebanyak 49,7 persen responden menyatakan percaya terhadap keberadaan partai politik, sedangkan 37,1 persen menyatakan tidak percaya.
Jarak tersebut juga terlihat dalam pilihan masyarakat pada pemilihan legislatif. Sebanyak 53,3 persen responden mengatakan lebih cenderung memilih calon anggota legislatif dibandingkan partai politik. Sementara itu, 24,7 persen menyatakan lebih cenderung memilih partai politik.
Survei ini juga menemukan masih banyak masyarakat yang tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerahnya. Sebanyak 57,6 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerahnya. Hanya 26,2 persen yang menyatakan tahu atau mengenal.
Elektabilitas Gerindra Tertinggi
Dalam simulasi surat suara dengan 18 partai politik, Partai Gerindra memperoleh elektabilitas tertinggi sebesar 23,2 persen.
PDI Perjuangan berada di posisi berikutnya dengan 11,6 persen, disusul Partai Golkar 10,4 persen. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh 6,2 persen, sementara Partai Demokrat 6,1 persen.
Selanjutnya, Partai NasDem memperoleh 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Partai lainnya memperoleh kurang dari 1 persen.
Dalam pertanyaan terbuka atau top of mind, Poltracking juga menemukan sejumlah asosiasi yang muncul ketika publik mendengar nama partai politik.
Ketika mendengar PKB, sebanyak 6,1 persen responden menyebut Nahdlatul Ulama. Sementara itu, nama Prabowo Subianto paling banyak muncul ketika responden mendengar Partai Gerindra, yakni 26,1 persen.
Pada PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri disebut 17 persen responden. Untuk Partai Golkar, sebanyak 6,4 persen menyebut lambang pohon beringin.
Surya Paloh menjadi hal yang paling diingat ketika mendengar Partai NasDem dengan 11 persen. Sementara pada PKS, sebanyak 3,2 persen menyebut kata agamis.
Untuk PAN, Zulkifli Hasan disebut 2,8 persen responden. Sedangkan pada Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono menjadi nama yang paling banyak disebut dengan 16 persen.
Mayoritas Tak Tahu Ambang Batas Parlemen
Poltracking juga mengukur pengetahuan masyarakat mengenai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen.
Hanya 17,7 persen responden yang mengaku mengetahui ketentuan ambang batas parlemen saat ini. Sebanyak 64,7 persen lainnya menyatakan tidak tahu.
Dari responden yang mengetahui ambang batas tersebut, sebanyak 49 persen menilai ambang batas parlemen lebih tepat tetap 4 persen. Sebanyak 14,8 persen menilai lebih tepat di atas 7 persen, sedangkan 7,6 persen memilih angka 6 persen.
Sementara terkait pengaruh dukungan partai politik terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden, sebanyak 44,6 persen responden mengatakan dukungan tersebut tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap partai politik. Sebanyak 32,8 persen menyatakan memengaruhi.
Pada pilihan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden, sebanyak 44,5 persen mengatakan dukungan partai politik tidak memengaruhi pilihan mereka, sedangkan 33 persen menyatakan memengaruhi.
Survei Poltracking Indonesia menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih terhadap responden yang dipilih secara acak.
Poltracking menyebut survei tersebut bertujuan mengukur peta elektoral dan dinamika partai politik terkini. Temuan survei merupakan gambaran persepsi publik berdasarkan pengambilan data pada 14-20 Agustus 2026.
Editor:


