Kematian Liam Payne dan Pentingnya Melatih Kesadaran Mental untuk Menghadapi Tekanan Hidup

Kematian Liam Payne dan Pentingnya Melatih Kesadaran Mental untuk Menghadapi Tekanan Hidup

Dunia dibuat kaget oleh kematian salah satu personel One Direction yang digadang-gadang akan comeback 2024. Liam Payne ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh dari kamar hotelnya. Kantor kejaksaan pidana dan pemasyarakatan nasional di Buenos Aires mengungkapkan Liam meninggal akibat “multiple trauma” dan “pendarahan internal dan eksternal”. Aparat juga menemukan beberapa zat dari kamar hotel Liam yang memperkuat dugaan adanya indikasi kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Tempo.co (17/10/2024) dalam tulisan bertajuk Liam Payne Curhat tentang Kesehatan Mentalnya di One Direction sebelum Meninggal mengabarkan bahwa dalam beberapa wawancara, Liam mengaku sering mabuk lantaran depresi. Ia juga mengatakan bahwa banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental tidak mendapatkan bantuan yang diperlukan. Ini menjadi masalah serius di dunia hiburan.

Gara-gara miras
Kematian pubic figure karena masalah kesehatan mental bukan kali ini saja terjadi. Pada tahun 1994, Kurt Cobain, vokalis band sejuta umat, Nirvana, ditemukan meninggal dengan luka tembakan di kepala. Washington Post menuliskan bahwa Kurt pernah mengakui menggunakan obat-obatan untuk mengatasi tekanan depresi akibat ketenaran. Nama-lama lain yang juga ikut menyusul adalah Chester Bennington (2017), Avicii (2018), Goo Ha-ra (2019), dan Sushant Singh Rajput (2020).

Hal yang bisa kita pahami, beragam masalah yang tidak ditangani dengan tepat akan melahirkan kecemasan, depresi, stres dan uncontrol diri. Biasanya untuk mengalihkan perasaan tersebut, alkohol juga narkoba kerap dijadikan solusi. Pengalihan itu memang sejenak bisa meringankan tetapi bersifat sangat sementara dengan “bayaran” tidak sebanding, yaitu kecanduan dan yang paling ekstrim keinginan bunuh diri.

Dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh L.Sherly bertajuk Alcohol Consumption and Suicide (2005) ditemukan data bahwa orang yang memilih untuk bunuh diri memiliki kadar alkohol yang lebih tinggi dalam darahnya. Ketergantungan pada alkohol menjadi faktor penting yang mendorong pada tindakan tersebut. Sarah Ledden, psikiatri University College London, juga mengungkapkan bahwa mereka yang berada dalam kategori kecanduan pada alkohol menghadapi kemungkinan lebih tinggi untuk melakukan upaya bunuh diri dan melukai diri sendiri.

Larangan miras di Indonesia
Di Indonesia, kita patut bersyukur karena beragam kalangan aktif mengkampanyekan bahaya miras dan obat-obatan terlarang. Pemerintah, pemuka agama hingga tokoh panggung hiburan satu suara dalam hal tersebut.

Lewat Perpres Nomor 74 tahun 2013, pemerintah mengatur pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol. Lalu, dalam UU No. 35 tahun 2009, pemerintah juga berupaya melakukan pencegahan atas penyalahgunaan narkotika. Dalam mimbar agama, kita sering menjumpai para pengkhotbah menganjurkan untuk menjauhi kedua benda tersebut dengan kata sakti yaitu “haram”.

Di panggung, musisi ikut bersuara. Rhoma Irama melalui lagunya Mirasantika (1997) menyanyikan bahaya minuman keras dan narkotika yang kemudian disingkat menjadi mirasantika: “Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila/Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah/Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan/ Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan."

Yang terbaru, panggung hiburan kembali mengkampanyekan bahaya miras melalui suara Revina Alvira dalam lagunya berjudul Gara-gara Sebotol (2023). Revina melukiskan realitas yang terjadi pada anak-anak muda di masa kini: “Gara-gara sebotol minuman/Dia jalan sempoyongan/Hobi anak muda sekarang/Yang penting botol katanya. Lalu, pendengar diajak memikirkan kembali bahaya minuman keras: “Pala pusing karena minuman/ Badan rusak karena minuman/ Uang habis karena minuman/Akhirnya kesana sini ngutang.”

Miras dan beragam obat terlarang yang ditemukan dalam tubuh-tubuh dengan beban depresi, membuktikan masih minimnya pengetahuan seputar kesehatan mental yang dapat ditempuh melalui jalur yang sehat. Yaitu jalur yang tidak melibatkan unsur-unsur yang membahayakan tubuh maupun jiwa.

Melatih kesadaran mental
Ternyata, ada beragam alternatif lain untuk bisa terhindar dari depresi tanpa melibatkan alkohol maupun zat adiktif lainnya, salah satunya dengan melatih kesadaran mental. Ketika dipenuhi kecamuk pikiran yang mengarah pada depresi, kita memang sadar, tetapi tidak sepenuhnya.

Kesadaran biologis (conscious) memang kita miliki, tapi tidak dengan kesadaran mental (awareness). Absennya kesadaran mental inilah yang membuat kita terjebak para riuh pemikiran yang negatif.

Untuk melawan hal tersebut, kita perlu memperhatikan pikiran dengan sadar. Perhatian yang dimaksud adalah sebuah tindakan yang berupaya untuk menyadari kecenderungan otak kita ketika memutar pengalaman menjadi asumsi, cerita, kalimat, ide, pikiran, pendapat, bahkan vonis.

Orang-orang yang mengalami depresi sering memiliki pola pikir maladaptif yang mengarah pada melemahkan harga diri, menyalahkan diri sendiri, dan menghilangkan semua hal baik yang dimiliki. Maka, dibutuhkan awareness untuk menyadari pikiran negatif seperti itu dan membelokkannya ke arah sebaliknya.

Ada berbagai cara untuk melatih kesadaran mental atau awareness, salah satunya dengan melatih mindfulness. Dr. Jiemi Ardian dalam Merawat Luka Batin (2022) menjelaskan bahwa secara sederhana, mindfulness bisa dilakukan dengan meluangkan waktu selama sepuluh sampai tiga puluh menit setiap harinya untuk melatih otot pikiran.

Kita bisa melakukannya pada waktu yang sama secara konsisten misalnya sebelum tidur, setelah bangun tidur, setelah makan siang, atau di tengah-tengah jam kantor yang padat. Nyalakan alarm ponsel jika perlu, agar bisa mengingat kapan waktu yang tepat untuk melatih kesadaran.

Dalam buku Ayo, Nak! Menggali Pola Asuh bagi Generasi Digital (2024), Dr. Muhammad Faisal dan Tara Talitha, juga mempromosikan gaya parenting yang menekankan pada kesadaran mental. Buku itu memaparkan bahwa mindfulness telah menjadi keterampilan yang dianggap sangat penting pada abad ke 21. Mindfulness dipercaya bisa menyembuhkan sekaligus mencegah stress, depresi, kesulitan konsentrasi, hingga beberapa gangguan mental.

Secara sederhana, mindfulnesss bisa diartikan sebagai kondisi pada diri manusia ketika ia lebih sadar terhadap dirinya sendiri, apa yang tengah ia rasakan, dipikirkan, serta apa yang indra serta tubuh tengah alami.

M. Faisal juga menuliskan bahwa kita dapat mencapai mindfulness dengan menemukan tiga poin. Pertama, memperhatikan tiga hal berbeda yang tertangkap oleh mata kita dengan sungguh-sungguh. Kedua, menemukan tiga suara berbeda dari lingkungan sekitar. Ketiga, merasakan tiga anggota badan kita sendiri. Melalui metode tersebut yang dilakukan secara konsisten, dipercayai dapat mencapai kesadaran penuh serta mengembalikan fokus dan atensi.

Jalin kedekatan dengan alam
Selain mindfulness, cara yang sedang ramai di tempuh oleh banyak orang untuk tetap waras dalam melewati kecamuk hidup adalah menjalin kedekatan dengan alam. Sebuah artikel berjudul A Walk in the Woods May Boost Mental Health (2023) yang dipublikasikan oleh Harvard Medicine mengungkapkan bahwa alam dapat menjadi jawaban untuk masalah kesehatan mental seperti kesedihan, depresi, dan kecemasan.

Dokter Daphne Miller yang berdomisili di California, kerap meresepkan dosis alam sebagai bagian rencana pengobatan untuk masalah kesehatan mental. Dosis itu antara lain berjalan di hutan, menyentuh pepohonan,  menatap ruang hijau dan beberapa aktivitas lainnya.

Gagasan itu sejalan dengan yang diungkapkan oleh Karen Armstrong dalam bukunya yang berjudul Sacred Nature (2023), ia mengungkapkan bahwa kedekatan kembali manusia dalam alam akan membawa pada kehidupan yang lebih baik. Namun sayangnya, kesadaran untuk kembali pada alam belum banyak disadari, manusia justru malah melakukan eksploitasi dan pengabaian secara terang-terangan.

Dalam pengantar bukunya, Armstrong menuliskan kita kerap berjalan di tempat yang sangat indah sambil bercakap-cakap di ponsel atau scrolling media sosial. Kita hadir secara fisik tapi absen secara batin. Alih-alih duduk merenung di tepi sungai atau memandang kagum bentangan alam pegunungan, kita terobsesi untuk mengambil foto pemandangan demi pemandangan. Bukannya membiarkan pemandangan itu menemukan tempat yang intim di dalam pikiran dan hati kita. Kita menjarakkan diri darinya.

Barangkali hal yang dialami oleh Liam Payne dan sederet public figure lain adalah permasalahan yang juga diamini banyak orang. Kecanggihan teknologi dan perubahan zaman telah menuntut kehidupan manusia menjadi serba cepat, terbuka, dan repetitif. Kondisi itu membuat manusia kerap merasa asing dengan hidupnya sendiri lantaran mengingkari takdirnya sebagai makhluk pencari makna.

Kita boleh yakin, manusia akan mampu melewati sengkarut persoalan yang disuguhkan zaman dengan jalan yang lebih bijak, selain mengakhiri hidup. Kemampuan itu bisa muncul ketika manusia berupaya meraih kembali kesadaran dalam hidupnya, baik kesadaran secara biologis (conscious) maupun mental (awareness).  
 


Editor:
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo