Mahasiswa Jabodetabek dan Stres: Antara Tugas, Tidur, dan Kepuasan Hidup

Mahasiswa Jabodetabek dan Stres: Antara Tugas, Tidur, dan Kepuasan Hidup

Di balik hingar-bingar kehidupan kampus di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), ada cerita lain yang jarang terdengar atau setidaknya jarang terperhatikan yaitu kondisi stres. Tidak sekadar rasa lelah karena tugas menumpuk, melainkan kondisi serius yang bisa memengaruhi kesehatan fisik, mental, bahkan kualitas hidup.

Sebuah penelitian berjudul Hubungan Karakteristik Individu, Kualitas Tidur, dan Kepuasan Hidup dengan Stres pada Mahasiswa di Jabodetabek menemukan fakta mengejutkan: lebih dari separuh mahasiswa di Jabodetabek (62,9%) mengalami stres. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan data di beberapa daerah lain di Indonesia.

Apa yang membuat mahasiswa mudah stres? Apakah karena karakteristik individu, kualitas tidur, atau kepuasan hidup mereka? 

Berikut ulasan hasil penelitian oleh Aisyah Rahma, Alvio Aldana Dewi, dan Hoirun Nisa dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah diunggah di ejournal.uin-suska.ac.id.

Dunia Mahasiswa: Antara Beban dan Harapan
Menjadi mahasiswa sering dianggap fase emas: usia muda, banyak teman, kesempatan belajar terbuka lebar. Namun di balik itu, fase ini juga penuh tuntutan. Mahasiswa dituntut mandiri, harus beradaptasi dengan lingkungan baru, membagi waktu antara kuliah, organisasi, hingga pekerjaan sampingan.

Belum lagi soal biaya kuliah yang kian meningkat, ekspektasi keluarga, dan godaan media sosial. Jika tidak dikelola dengan baik, semua itu bisa menjadi pemicu stres.

Penelitian di berbagai negara menunjukkan tingginya angka stres di kalangan mahasiswa. Misalnya, di Pakistan, hampir 84% mahasiswa mengaku mengalami stres. Di Amerika Serikat, pandemi COVID-19 memperburuk kondisi: 71% mahasiswa melaporkan stres meningkat selama masa pembelajaran jarak jauh. Indonesia pun tak jauh berbeda.

Perempuan Lebih Rentan
Salah satu temuan menarik dari penelitian di Jabodetabek adalah perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Mahasiswa perempuan memiliki risiko 2,3 kali lebih besar mengalami stres dibandingkan laki-laki.

Mengapa demikian? Secara biologis, perempuan memiliki fluktuasi hormon yang berpengaruh pada suasana hati. Faktor sosial juga berperan. Banyak perempuan merasa harus membuktikan diri lebih keras, menjaga citra diri, sekaligus mengelola tekanan akademik. Tidak heran jika mereka lebih rentan terhadap stres.

Namun bukan berarti mahasiswa laki-laki bebas dari masalah. Tekanan finansial, ekspektasi untuk "kuat", dan budaya yang sering menekan ekspresi emosional membuat laki-laki juga bisa mengalami stres, hanya saja mungkin tidak selalu terlihat.

Tidur: Senjata Rahasia yang Sering Diremehkan
Kita sering mendengar istilah “tidur adalah obat terbaik”. Ternyata, kualitas tidur memang punya hubungan erat dengan kondisi mental. Dalam penelitian ini, 80,8% mahasiswa mengaku kualitas tidurnya buruk.

Kurang tidur membuat otak sulit berkonsentrasi, emosi lebih mudah meledak, dan produktivitas menurun. Sebaliknya, terlalu banyak tidur juga bisa menjadi tanda adanya tekanan psikologis.

Meski kualitas tidur tidak terbukti berhubungan langsung dengan stres dalam penelitian ini, kita tidak bisa menutup mata. Bayangkan, bagaimana mahasiswa bisa menghadapi tumpukan tugas jika setiap malam terjaga karena overthinking?

Kepuasan Hidup: Kunci Utama
Selain jenis kelamin, faktor lain yang terbukti berhubungan erat dengan stres adalah tingkat kepuasan hidup.

Mahasiswa yang merasa puas dengan hidupnya lebih tahan menghadapi tekanan. Sementara itu, mereka yang kepuasan hidupnya rendah memiliki risiko 2,64 kali lebih besar untuk mengalami stres.

Kepuasan hidup di sini bukan sekadar soal materi, melainkan bagaimana seseorang menilai kehidupannya secara keseluruhan: hubungan sosial, pencapaian pribadi, rasa syukur, dan keseimbangan antara harapan dengan kenyataan.

Semakin banyak dukungan sosial dan semakin positif cara pandang seseorang terhadap hidup, semakin kecil kemungkinan stres menjerat.

Hidup Bersama Orang Tua vs Kos
Menariknya, mahasiswa yang tinggal bersama orang tua justru melaporkan tingkat stres sedikit lebih tinggi (64,4%) dibanding yang tinggal di kos. Mungkin karena hidup bersama orang tua menghadirkan tuntutan tambahan: aturan rumah, ekspektasi keluarga, atau keterbatasan ruang untuk berekspresi.

Sementara tinggal di kos memberi keleluasaan, meskipun ada tantangan lain seperti harus mengatur keuangan sendiri dan menanggung beban mandiri.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Fakta bahwa hampir dua dari tiga mahasiswa di Jabodetabek mengalami stres tentu menjadi alarm penting. Tapi jangan buru-buru putus asa, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:

  1. Jaga kualitas tidur. Disiplinkan jam tidur, kurangi penggunaan gadget sebelum tidur, dan ciptakan suasana kamar yang nyaman
  2. Bangun kepuasan hidup. Mulailah dengan hal-hal kecil: mensyukuri capaian, menikmati momen sederhana, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri
  3. Kelola ekspektasi. Tidak semua tugas harus sempurna, dan tidak semua target harus tercapai sekaligus
  4. Cari dukungan sosial. Bicara dengan teman, bergabung dengan komunitas, atau sekadar berbagi cerita bisa mengurangi beban
  5. Rutin berolahraga. Aktivitas fisik terbukti membantu menurunkan hormon stres dan memperbaiki suasana hati
  6. Kenali tanda-tanda bahaya. Jika stres mulai mengganggu tidur, nafsu makan, atau menyebabkan menarik diri dari lingkungan, jangan ragu mencari bantuan profesional.

Stres itu Nyata, Tapi Bisa Dikelola
Menjadi mahasiswa memang penuh tantangan. Namun, penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya mengenali faktor-faktor yang memengaruhi stres. Jenis kelamin dan kepuasan hidup terbukti punya peran besar, sementara kualitas tidur dan faktor lain tetap tidak boleh diabaikan.

Pada akhirnya, kunci ada pada keseimbangan: belajar menerima diri, menjaga gaya hidup sehat, dan mencari makna dalam setiap proses. Karena hidup sebagai mahasiswa bukan hanya soal lulus tepat waktu, tapi juga bagaimana kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.

Jika Anda mahasiswa yang saat ini sedang merasa kewalahan, ingatlah bahwa Anda tidak sendiri. Lebih dari separuh teman-teman Anda mungkin sedang merasakan hal yang sama. Bedanya, bagaimana kita mengelola stres akan menentukan arah perjalanan hidup selanjutnya.

Seperti kata pepatah, “badai pasti berlalu”. Stres adalah bagian dari kehidupan, tetapi dengan tidur cukup, rasa syukur, dukungan sosial, dan sedikit keberanian untuk menata ulang cara pandang, hidup bisa terasa jauh lebih ringan.


Editor:
Al-Quran Digital

Edukasi Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo