Ahmad Tohari dan Nafas Pesantren dalam Sastra Indonesia

Ahmad Tohari dan Nafas Pesantren dalam Sastra Indonesia

Sepenggal Nafas di Halaman yang Sunyi
Membaca karya-karya Ahmad Tohari serasa menapaki jalan tanah yang basah selepas subuh. Ada bau rumput, embun, dan suara ayam jantan dari kejauhan. Tidak ada kegaduhan kota, yang terdengar hanyalah desir angin dan detak hati yang mengajak kita merenung. Di halaman sastra Indonesia modern yang penuh dinamika, Ahmad Tohari telah menandai satu jalur sunyi yang berdaya gugah: sastra yang bernafas pesantren.

Ahmad Tohari mulai dikenal publik luas melalui novel triloginya yang ikonik, Ronggeng Dukuh Paruk (1982–1986), sebuah karya yang berhasil menyingkap realitas sosial pedesaan dengan bahasa yang lembut namun mengguncang kesadaran. Meskipun lebih dikenal sebagai novel bertema sosial dan politik, karya ini sesungguhnya mengandung kesadaran spiritual yang dalam. “Saya ingin menggambarkan dunia kecil masyarakat desa yang rawan dan mudah terombang-ambing, tapi juga sarat spiritualitas dan kemanusiaan,” tutur Tohari dalam suatu wawancara (dengan penulis, dimuat di koran Minggu Pagi,1997).

Meski tidak selalu menyebut pesantren secara eksplisit, Ahmad Tohari menghadirkan semangat dan nilai-nilai yang biasa kita temui dalam kehidupan pesantren: kesederhanaan, ketulusan, dan kesabaran. Dalam pandangannya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi "lanskap batin", tempat manusia belajar mengenali dirinya dan Tuhannya.

Pesantren sebagai Sumber Spiritualitas
Dalam konteks masyarakat Indonesia, pesantren memiliki kedudukan unik sebagai pusat transmisi ilmu, nilai, dan adab. Seperti dinyatakan oleh Zamakhsyari Dhofier, “Pesantren adalah institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia yang berfungsi sebagai tempat transmisi ilmu-ilmu Islam klasik dan pembentukan moralitas santri” (Dhofier, Tradisi Pesantren, Jakarta: LP3ES, 1982: 18). Nilai-nilai yang tumbuh di pesantren bukan hanya keilmuan, melainkan juga spiritualitas dan karakter.

Ahmad Tohari menyerap nilai-nilai itu bukan melalui khotbah, melainkan melalui kisah. Dalam banyak cerpennya, kita menjumpai tokoh-tokoh yang berasal dari atau berhubungan dengan pesantren, baik sebagai santri, kiai, atau masyarakat sekitar. Misalnya, dalam cerpen Nyanyian Malam (Tohari, Nyanyian Malam, Jakarta: Gramedia, 2000: 67–79), seorang penjaga masjid tua menghidupkan malam dengan lantunan sholawat dan zikir, bukan karena pamer kealiman, tetapi karena cinta yang tulus kepada Sang Pencipta.

Tohari sendiri lahir dari keluarga kiai di Banyumas, Jawa Tengah. Meskipun tidak mengikuti pendidikan formal di pesantren, lingkungan religius di sekitarnya membentuk pandangan hidupnya. Ia menulis: “Ayah saya adalah kiai kampung yang tidak terkenal, tapi dari beliau saya belajar bahwa agama bukan untuk ditunjukkan, tapi untuk diamalkan secara lembut dan jujur” (wawancara dengan Kompas, Ahmad Tohari: Menulis dari Pinggir, 25 November 2010).

Dalam hal ini, pesantren bagi Tohari merupakan model keindonesiaan yang khas: titik temu antara tradisi dan spiritualitas. Ia menyuguhkan nilai-nilai Islam bukan sebagai sistem dogma, tetapi sebagai sumber hikmah yang hidup di tengah masyarakat kecil.

Kesaksian Estetik terhadap Dunia Pesantren
Karya Ahmad Tohari menyajikan pesantren sebagai ruang kemanusiaan yang utuh, bukan tempat yang steril dari konflik atau kesalahan, melainkan tempat manusia bertumbuh, belajar, dan bertobat. Dalam novel Kubah (1980), Tohari menyajikan perjalanan Karman, seorang eks-tapol yang mengalami transformasi spiritual. Di sana, pesantren digambarkan bukan sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai tempat simbolik kembalinya seorang manusia kepada cahaya.

“Karman merasa sejuk. Di masjid tua itu, ia menemukan kembali tempat yang dulu ditinggalkannya: tempat di mana suara azan seperti memanggil hatinya yang lama beku.” (Tohari, Kubah, Jakarta: Gramedia, 1980: 109).

Dalam novel Bekisar Merah (1993), tokoh Lasi yang semula terseret dunia glamor akhirnya menemukan kembali akar moral dan spiritualnya. Di sini, pesantren tidak disebutkan secara langsung, namun nilai-nilainya hidup dalam karakter-karakter dan dalam suasana batin cerita. Tohari tampaknya ingin mengatakan bahwa pesantren sebagai nilai bisa hadir dalam siapa saja yang tulus dan sedang mencari jalan pulang.

Tohari tidak mengglorifikasi tokoh-tokoh pesantren. Dalam cerpen Mata yang Enak Dipandang, seorang pengemis buta menjadi simbol hikmah yang sederhana tapi dalam. “Mata yang buta tidak menipu. Ia hanya memandang dengan hati, dan di sanalah tempat Tuhan bersemayam,” tulis Tohari (Tohari, Mata yang Enak Dipandang, Jakarta: Gramedia, 2019). Dalam dunia pesantren, spiritualitas bukan milik golongan elite, tapi justru bisa muncul dari siapa saja yang hatinya bersih.

Jalan Sunyi Sastra yang Bersaksi
Ahmad Tohari memilih jalan sunyi dalam sastra Indonesia. Ia tidak menumpuk diksi-diksi abstrak atau mengejar eksperimentasi naratif. Ia tetap setia pada kesederhanaan bahasa, namun justru dalam kesederhanaan itu tersimpan kekuatan yang menyentuh. "Saya ingin menulis seperti orang tua bercerita, agar anak cucu saya mengerti nilai yang saya yakini,” ujarnya (Tohari, Menulis dari Pinggir, Yogyakarta: LKiS, 2012: 76).

Tohari bukan hanya penulis, melainkan saksi (saksi atas pergeseran nilai), perpecahan sosial, dan juga saksi tentang kemungkinan adanya harapan. Ia tidak berkhotbah, tetapi menghadirkan cerita yang mengandung makna. Dalam dunia yang makin bising oleh debat agama dan politik identitas, karya-karya Ahmad Tohari menyuguhkan kesunyian yang merangkul: suara lembut dari pesantren kampung yang mengajak kembali kepada nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Dalam istilah Paul Ricoeur, karya sastra yang kuat bukan hanya menyatakan (to say something) tetapi juga menjadi "kesaksian puitik" (poetic testimony), yakni ketika sebuah teks mengandung daya ilham untuk membangun kembali makna hidup yang retak (Ricoeur, La mémoire, l'histoire, l'oubli, Paris: Seuil, 2000: 131; Poetic testimony adalah kemampuan teks sastra untuk menghadirkan makna baru bagi dunia yang retak dan terluka).

Begitulah karya-karya Tohari bekerja: tidak menggurui, tapi menyelamatkan. Seperti seorang kiai kampung yang tidak dikenal televisi, namun kata-katanya diam-diam membekas dalam jiwa santri dan tetangga-tetangganya.

Tantangan Sastra Indonesia Terkini
Sastra Indonesia kontemporer berkembang dalam arus deras teknologi dan kebebasan berekspresi. Media sosial, platform digital, serta kemudahan akses informasi telah melahirkan ribuan karya setiap hari. Namun, banyak di antaranya yang terjebak dalam pola instan dan dangkal. Produksi cepat sering kali tidak dibarengi perenungan yang dalam. Sastra kerap menjadi respons sesaat terhadap isu aktual, bukan hasil dari laku batin yang panjang.

Seperti yang dikemukakan oleh Sapardi Djoko Damono, “Sastra tidak selalu harus mengangkat hal-hal besar. Bahkan yang paling kecil dan sederhana bisa menyentuh, asalkan ditulis dengan kejujuran dan penghayatan” (Damono, Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Jakarta: Gramedia, 1984:45). Pernyataan ini menegaskan bahwa kekuatan sastra justru terletak pada kedalaman makna, bukan pada kerasnya suara.

Ahmad Tohari menghadirkan alternatif yang menenangkan di tengah kebisingan itu. Ia tidak menulis untuk viral, tetapi untuk menyentuh. Ia tidak memaksakan diri menjadi ideologis, tetapi membiarkan narasi kemanusiaan berbicara apa adanya. Melalui tokoh-tokoh seperti Srintil dan Rasus dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Tohari tidak hanya menyajikan cerita, melainkan menghadirkan cermin batin masyarakat.

Dalam sebuah wawancara, Tohari menyatakan: “Saya tidak pernah bercita-cita menjadi penulis besar. Saya hanya ingin menjadi penulis yang jujur terhadap batin saya dan kepada dunia saya.” Kutipan ini sering ditemukan di berbagai tulisan di internet, namun ungkapan tersebut benar ketika penulis menanyakan langsung kepada sumbernya.

Sikap ini memperlihatkan bahwa sastra adalah kesaksian, bukan pernyataan. Bagi penulis-penulis muda, terutama mereka yang berasal dari komunitas pesantren, ini adalah pelajaran penting: bahwa menulis bukan soal teknik semata, tetapi juga soal keikhlasan ruhani.

Menghidupkan Warisan Pesantren dalam Karya
Pesantren tidak sekadar ruang belajar agama; ia adalah lumbung nilai dan kekayaan budaya yang sangat dalam. Nilai-nilai seperti tawadhu (kerendahan hati), sabar, ikhlas, dan cinta ilmu bukan hanya ajaran moral, tetapi sumber energi spiritual yang mampu menghidupkan karya sastra dengan napas berbeda.

Martin Heidegger menyatakan, “Language is the house of being” (Heidegger, Poetry, Language, Thought, trans. Albert Hofstadter, New York: Harper & Row, 1971:146). Bahasa adalah rumah bagi keberadaan. Maka, saat penulis membawa bahasa pesantren, baik dalam diksi, ritme, atau semangatnya ke dalam karya, ia sebenarnya sedang membangun ruang ruhani dalam sastra.

Ahmad Tohari adalah contoh utama. Ia tidak menghadirkan pesantren sebagai bangunan atau institusi, tetapi sebagai nafas dalam karakter-karakternya. Ia menulis dengan pandangan dunia pesantren: manusia sebagai makhluk lemah yang berjuang menuju Tuhan. Ia tidak menggurui pembacanya, tetapi menuntun dengan kelembutan. Ia tidak sedang berdakwah, tetapi berbagi kebijaksanaan.

Tohari menegaskan dalam pengantar salah satu kumpulan cerpennya: “Saya percaya bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga tempat belajar hidup. Nilai-nilai itu saya bawa dalam menulis, bukan untuk mengajari, tapi untuk berbagi.” (Tohari, Senyum Karyamin, Jakarta: Gramedia, 1989).

Karya-karya Tohari menjadi bukti bahwa pesantren dapat hadir dalam bentuk paling sederhana: dalam kesetiaan seorang istri, dalam perjuangan seorang santri, atau dalam doa-doa yang lirih menjelang subuh. Ini adalah dunia yang penuh potensi naratif namun masih jarang digali oleh para penulis muda.

Kembali ke Akar, Menulis dengan Hati
Ahmad Tohari tidak mendeklarasikan dirinya sebagai penulis spiritual, tetapi karya-karyanya menunjukkan bahwa ia menulis dengan ruh. Ia menulis bukan karena desakan pasar, tetapi karena dorongan batin. Dalam wawancara lain, ia berkata: “Saya menulis bukan untuk mengubah dunia, tetapi untuk menjaga agar dunia batin saya tidak rusak.” (dalam majalah Horison, edisi September 2002).

Ini adalah prinsip penting bagi siapa saja yang ingin menulis dari pesantren. Bahwa menulis bukan hanya keterampilan, tapi juga bentuk riyadhah (latihan batin). Jika pesantren adalah ladang nilai, maka menulis adalah cara menabur dan menuainya.

Karenanya, penulis muda yang tumbuh dari komunitas santri, madrasah, dan pesantren, harus mulai percaya pada dunia mereka sendiri. Mereka memiliki lanskap budaya yang otentik dan kaya. Cerita tentang perjuangan santri menjaga wudhu saat musim kemarau, kisah kiai sepuh yang tidak pernah absen dari masjid, atau kegelisahan santri perempuan di malam ujian, adalah narasi-narasi yang sarat makna dan kekuatan emosional.

Jalan Sunyi yang Terus Menyala
Karya-karya Ahmad Tohari adalah ruang jeda di tengah keriuhan sastra kita. Ia mengingatkan bahwa sastra sejatinya adalah perjalanan batin, bukan sekadar teknik atau tren. Seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rumi, “Let yourself be silently drawn by the strange pull of what you really love. It will not lead you astray.” (“Biarkan dirimu ditarik diam-diam oleh tarikan aneh dari apa yang sungguh kau cintai. Ia tidak akan menyesatkanmu.”; Rumi, The Essential Rumi, trans. Coleman Barks, San Francisco: HarperSanFrancisco, 1995:36).

Tohari telah membuktikan bahwa cinta kepada manusia dan kepada Tuhan bisa menjadi kekuatan utama dalam berkarya. Ia telah membuka jalan sunyi itu, dan tugas kita adalah meneruskannya. Menulis bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menggetarkan. Bukan untuk mencela dunia, tetapi untuk menuntun.

Dalam dunia sastra Indonesia yang serba cepat dan gaduh, karya-karya yang mengalir tenang dan jernih seperti sungai kecil dari pesantren tetap akan menemukan jalannya. Seperti doa yang lirih namun sampai. Seperti embun yang tak bersuara tapi menyuburkan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.


Editor:
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo