Laut (Banyak) Bercerita

Laut (Banyak) Bercerita

Pikiran saya 'mabuk' laut. Apa pun yang saya lakukan selalu terlintas suara ombak dan bau rumput laut yang bercampur aroma amis. Saya membayangkan terlentang di atas pasir memandangi langit sambil mendengarkan suara burung-burung. 

Laut itu tempat kembali dari banyak hal. Laut bisa menjadi rumah bagi ribuan pertanyaan, kebahagiaan, kekecewaan, dan harapan. Di sana muncul banyak kehidupan sekaligus kematian. Laut akan selalu menjadi tempat untuk dirindukan. 

Tak mau berhenti di angan-angan, saya putuskan mengunjungi Pantai Parangtritis di Yogyakarta dengan naik kereta commuter line dan sepeda motor. Pukul 05.00 WIB kaki saya menyentuh kawasan pantai. Senang! Hari saya diawali menatap bentangan cakrawala dilengkapi bismillah. Cahaya masih malu-malu muncul tapi orang-orang sudah berhamburan mempersiapkan dagangan. Laut penyedia rezeki bagi segala makhluk.

Selesai bercengkrama dengan segara, saya langsung pulang sebelum matahari berada di atas kepala. Sampai di rumah, pikiran saya berkelana meraba cerita-cerita tentang laut yang pernah saya temukan dalam novel, film, dan biografi. Potongan gambar menguap meminta untuk dilihat. Saya membuka ingatan itu kembali, satu demi satu.

Sebuah novel berkisah tentang laut dalam latar sejarah. Indonesia punya riwayat luka yang melibatkan mahasiswa. Kejadian itu berlangsung di era akhir 90-an. Laut Bercerita (KPG, 2017) merekam potongan kisah itu lewat tokoh utama bernama laut. Leila S. Chudori, sang penulis, merangkumnya dalam pembuka awal halaman: “Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali.” 

Konon, buku ini dipersembahkan bagi mereka yang dihilangkan rezim tanpa peradilan. Buku ini menjadi tubuh bagi para korban agar tetap hidup selamanya menyuarakan suara-suara yang telah lama ditiadakan.

Era telah berganti, dan masa reformasi kini telah berlangsung selama dua puluh tujuh tahun. Namun, masyarakat harap-harap cemas. Kebijakan berbau militer dan iklim anti kritik mulai tercium baunya. Novel Laut Bercerita diharapkan tidak kembali hidup membayangi Republik yang tak kunjung mentas dari permasalahan internal. Dunia mulai berpikir tentang iklim, pangan, perdamaian, dan kemajuan teknologi. Indonesia tolong jangan mundur menjauhi kemajuan. 

Setelah sejarah, laut membawa saya teringat pada film bertajuk Life of Pie (2012). Film garapan Ang Lee adaptasi dari novel laris karya Yann Martel. Film ini mengisahkan seorang laki-laki yang terjebak di laut lepas bersama para hewan. Kejadian itu bermula karena kerusakan kapal yang membuat Pi terdampar di tengah Samudra Pasifik dengan seekor zebra, hyena, orang utan, dan harimau bernama Richard Parker. Tragedi itu membawa Pi pada banyak pertemuan, perenungan, peristiwa, dan tempat-tempat yang sebelumnya tak pernah ia duga. 

Film itu menggugah penonton untuk bermain tafsir. Visual dan kalimat percakapan dibuat menyisakan tanda tanya hingga detik akhir. Keimanan, cara hidup, dan pembentukan keluarga banyak dipertanyakan dalam dialog. Salah satu ungkapan yang dianggap penting: “Keraguan itu berguna, karena membuat iman tetap hidup. Lagipula, Anda tidak akan tahu seberapa kuat iman Anda sampai ia diuji.”

Beranjak dari film, saya berupaya menyelami kehidupan tokoh pendiri bangsa. Kartini dan Sutan Sjahrir pernah hidup dengan laut. Biografi mereka turut merekam pengalaman bersama ombak.

Di sebuah karangan tanggal 8 Agustus 1901, Kartini menulis ungkapan hatinya tentang laut. Ia menggambarkan laut dengan amat manis: “Tampak lagi padaku pantai indah jelita, putih-putih disinari oleh cahaya bulan pudar keemasan, berkilat-kilat pada air sejuk yang senantiasa bergetar, berkilau-kilau keemasan.” Saya menduga ia banyak menghabiskan waktu di hadapan laut. 

Selama hidup, gadis itu menyimpan ribuan tanda tanya, kegelisahan, impian, dan harapan yang tak semua boleh terucap. Di hadapan laut, ia bebas menjadi dirinya, berkata seturut keinginannya bahkan mengutuk dunia yang penuh derita. Salah satu impian Kartini untuk menapaki negeri lain ia selipkan lewat karangannya tentang laut:

"…kami duduk mendengarkan suara merdu, dinikmati tenang-tenang, terasa badai berangsur-angsur dilambungkan gembira, suara merdu, mengisahkan kidung negeri asing, jauh, jauh di seberang lautan, lepas luasan emas perak di hadapan kita, kidung tanah tumpah darahnya sendiri, negeri yang murni itu.”

Sutan Sjahrir pernah hidup dalam asuhan laut. Ia sempat diasingkan ke Banda Neira bersama Mohammad Hatta oleh Kolonial Belanda. Salah satu ucapan yang hingga kini dikenal adalah pujiannya pada tempat tersebut: “Jangan mati sebelum ke Banda Neira”. Konon, tempat itu turut berperan menjadi pengantar lahirnya pemikiran tentang kemerdekaan. 

Terakhir, ingatan saya soal laut habis di novel karangan Ernest Hemingway dan Carlos Maria Dominguez. Hemingway menulis Lelaki Tua dan Laut (1952) dengan latar di tengah laut. Buku ini menghantarkan penulisnya meraih Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1954. Di novel itu, laut menyajikan kebijaksanaan.

Di tangan Dominguez, laut tampil sebaliknya. Lewat novel Rumah Kertas (2016) laut menjadi penghancur buku-buku langka. Si penggila buku menjadikan tumpukan kertas itu sebagai dinding rumah yang berakhir hanyut tersapu ombak.

Demikian ingatan saya seputar laut. Barangkali, kelak ingatan itu akan bertambah. Tak hanya menyisakan kenangan soal sejarah, film, dan novel tetapi pertemuan-pertemuan yang bisa berakhir pada perubahan nasib juga status. 
 


Editor:
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo