Menjalani tugas sebagai orang tua bukanlah perkara mudah. Sewaktu kita memutuskan menikah kemudian dikaruniai buah cinta, tidak selalu secara otomatis kita akan menjadi orang tua yang cakap. Namun, menjadi orang tua adalah tugas mulia dari Sang Pencipta agar kita semakin dekat dengan-Nya. Untuk itu, kita perlu belajar terus-menerus, berupaya berdiri ideal sebagai orang tua teladan, menghargai gagasan anak, dan mencintainya tanpa syarat.
Dalam semboyan yang terkenal, Ki Hajar Dewantara menempatkan teladan di nomor satu: Ing Ngarso Sung Tulodho. Menjadi orang tua teladan sangat mudah diucapkan namun praktiknya, kita harus berjuang sekuat tenaga dan pikiran untuk mewujudkannya. Misalnya, salah satu kelemahan yang mengindikasikan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah kurangnya minat membaca buku.
Penelitian Programm International Student Assesment (PISA) memperlihatkan kapasitas membaca anak-anak kita berada pada level yang sangat dasar (level 1), yang mencapai angka itu pun tak meyentuh seratus persen. Sejumlah ahli menyimpulkan, anak-anak kita bisa membaca kalimat dan kata-kata, namun tak mampu memahami substansi yang dibaca. Anak-anak Indonesia sebagian besar hanya mampu membaca teknis, tapi gagal membaca secara fungsional.
Menurut saya, gejala ini sebagai konsekuensi logis absennya keteladanan orang dewasa, orang tua, atau guru. Keteladanan membaca buku baik di rumah maupun di sekolah adalah modal penting bagi tumbuhnya daya nalar kritis dan suburnya kemampuan imajinasi.
Kedua, orang tua perlu menghargai gagasan apapun yang dilontarkan oleh anak. Kita tak boleh menganggap sepele ide yang lahir dari murninya pikiran anak-anak. Contohnya, suatu kali anak-anak sedang mencoba unjuk kemampuan menyuci tempat makannya sendiri, akan tetapi bukannya bersih, air meluber ke mana-mana. Yang ada, dapur menjadi kotor dan berantakan. Umumnya, respons orang tua adalah gestur kaget dan berbuah omelan. Padahal, jika momen kecil itu dikelola dengan manis, akan menumbuhkan sikap tanggung jawab pada diri anak. Nada suara keras yang timbul spontan justru akan mematikan tunas inisiatif yang sedang mekar.
Betapa menjadi orang tua adalah kesempatan untuk terus belajar mengolah batin agar tak gampang reaktif pada situasi yang mungkin saja memang sulit mengelak dari jebakan emosional. Tapi begitulah perjuangan belajar. Apalagi, kita sering dengar bahwa untuk menjadi profesi tertentu ada sekolahnya, sementara kesiapan menjadi orang tua yang sedemikian penting itu tak ada sekolahnya. Ungkapan ini ada benarnya, mengingat pendidikan anak yang pertama adalah rumah, kerja sama yang padu antara suami dan istri.
Ketiga, cintailah anak-anak kita tanpa syarat. Sebagai orang tua, tentu saja sebuah kemewahan jika anak-anak kita menunjukkan sikap yang baik dan manis dalam kondisi apapun. Mau belajar dengan rajin, disiplin dalam setiap kegiatan positif, dan pandai di sekolah. Rumus kehidupan tak selalu berjalan mulus sesuai kehendak dan keinginan kita. Tantangan dan ujian akan selalu ada di depan perjalanan proses memanusia. Tak kecuali ujian yang terbit dari sikap dan laku anak.
Cinta tanpa syarat adalah kasih sayang yang tak pernah jeda walau sebentar. Ia melekat pada diri orang tua dan setulus jiwa ditujukan untuk anak-anak, betapapun, sewaktu-waktu anak melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati. Cinta yang tulus tak mensyaratkan itu, anak berperilaku baik atau buruk, tatapan kasih sayang tetap mengalir dalam jiwa sang anak. Cinta tanpa syarat bukanlah sebentuk hadiah sebab anak telah bersikap baik. Cinta tanpa syarat adalah temali jiwa yang menguatkan pertautan hati antara anak dan orang tua.
Andai saja sikap-sikap yang saya sebutkan itu menjadi ruh yang telah menetap pada kedalaman batin orang tua, maka apa pun yang dipertunjukkan oleh anak di depan kita, respons yang kita hadirkan adalah kebijaksanaan yang lembut. Ia mewujud pada gestur tubuh yang tak panik, mimik wajah dengan ekspresi yang sejuk, dan seulas senyum yang penuh kasih. Dan, tentu saja ada hal yang kadang tidak bisa kita kontrol, lahir di dalam benak. Misalnya rasa sedih dan kecewa ketika anak menampakkan sikap negatif. Pada saat itu terjadi, pilihlah sikap diam. Nasihat ”berkata baik atau diam” merupakan pilihan yang arif agar diri tak masuk jerembab amarah.
Alhasil, menjadi orang tua yang mau terus-menerus belajar adalah sebuah perjuangan ibadah yang juga istimewa. Orang tua yang merasa cukup, sudah benar, dan berhenti menginsafi makna di balik amanah Allah dalam wujud si buah hati, menurut pandangan saya, ia adalah orang tua yang mengingkari nikmat dan jauh dari rasa syukur. Belajar untuk bersikap berkata baik atau diam bukanlah perjuangan yang ringan. Pengendalian diri semacam itu perlu dilatih dengan tetap berupaya berdiri pada kesadaran penuh. Selamat memetik makna
Editor:


