Dark
Light
Dark
Light

Perusakan Rumah Doa Umat Kristen; Luka-luka Mengenal Tuhan

Perusakan Rumah Doa Umat Kristen; Luka-luka Mengenal Tuhan

"Agama memang menjauhkan kita dari berbuat dosa. Tetapi, berapa banyak dosa yang dilakukan atas nama agama?" Kartini

Hari Minggu menjadi waktu penting bagi anak-anak untuk belajar keimanan. Anak-anak melangkahkan kaki, keluar dari pintu rumah, berharap berjumpa Tuhan lewat ilmu. Pertemuan itu mestinya menjadi perjumpaan penuh kasih. Sayangnya, yang mereka temui justru teriakan, kebencian, dan kekerasan. 

Empat hari lalu, Rumah Doa dan Sekolah Minggu GKSI (Gereja Kristen Setia Indonesia) di Padang, Sumatera Barat, dirusak dan dibubarkan secara paksa oleh sekelompok orang. Insiden itu terlihat amat bengis. Salah seorang berteriak "Ancurin semua!" dengan lantang, tanpa ada rasa prihatin, sesal, dan takut.

Tempo (29/7/2025) menuliskan anak-anak mengalami ketakutan dan luka fisik dalam kejadian tersebut. Dua anak menderita luka berat. Anak berusia 11 tahun kesulitan berjalan setelah dipukul kayu dan anak 13 tahun cedera punggung akibat tendangan. Insiden ini tak hanya meninggalkan kerusakan tempat tapi juga fisik dan hati anak-anak yang sedang tumbuh.

Saya merasa amat bersedih dengan kejadian itu. Dua hal yang paling memilukan; menyerang tempat ibadah dan anak-anak. Ini bentuk kekerasan yang melanggar nilai kemanusiaan paling dasar.

Menurut informasi yang beredar, kejadian perusakan itu dipicu salah paham atau miskomunikasi. Saya meyakini bukan hanya sekadar miskomunikasi tetapi ada akar permasalahan yang sudah terpendam lama. Miskomunikasi menggambarkan konflik ini terjadi spontan dan ada benang yang belum terurai antar kedua belah pihak.

Dalam konflik dua orang, miskomunikasi yang berujung pada kekerasan mungkin bisa terjadi. Namun, untuk konflik yang melibatkan agama juga kekerasan terhadap anak-anak, dialamatkan pada alasan miskomunikasi, menjadi terasa mendangkalkan masalah.

Biasanya ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan kekerasan terkait agama: radikalisme dan ekstrimisme, ketidakstabilan mental atau emosional, konflik sosial politik, dan provokasi atau manipulasi. Ini akumulasi dari pemaknaan agama yang keras, ketidakstabilan ekonomi, kepentingan penguasa, dan konflik pecah belah. Barangkali, penyerangan terhadap GKSI di Padang mengandung beberapa alasan tersebut.

Kekerasan Berbasis Agama
Membaca insiden kekerasan di GKSI Padang, membuat saya berpikiran soal sejarah. Saya teringat pemikiran Kartini, intelektual perempuan Jawa, yang pernah di hadapkan pada situasi serupa: kekerasan berbasis agama. Sebelum muncul teks pancasila, perempuan itu sudah merumuskan gagasan soal inklusivitas dan toleransi dalam memandang perbedaan, terutama menyoal agama.

Th. Sumartana di bukunya bertajuk Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini (2013) menuturkan bahwa Kartini bisa disebut menjadi orang pertama yang mulai membuka dialog antar agama dengan teman korespondensinya, yaitu orang Belanda. Dialog itu dilakukan dengan cara yang amat produktif yaitu sejak tahun 1899 hingga 1903. Konon, di Jawa pada saat itu belum ada seorang pemikir yang melakukan dialog agama dengan cara dan intensitas seperti itu.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang (1992) menyimpan banyak surat berisi pemikiran Kartini yang membahas perihal agama. Salah satu surat tertanggal 5 Juli 1903, yang ditujukan kepada Dr. Adrini:

“Kami tidak peduli agama mana yang dipeluk orang atau bangsa mana dia. Jiwa besar tetaplah jiwa besar, karakter mulai tetaplah karakter mulia. Anak-anak Allah ada pada tiap agama, ada di tengah-tengah tiap bangsa.”

Surat itu menegaskan pandangan Kartini dalam memaknai nilai keTuhanan. Perhatian Kartini pada agama tidak berputar hanya pada ritus syariat pada Tuhan, tetapi juga tertuju pada manusianya, para pemeluk agama.

Kartini kembali menuliskan pandangannya dalam surat tertanggal 20 Agustus 1902, kepada Ny. Van Kol:

“Dari dulu dan sampai sekarang kami masih akan bertanya, bukan tentang apa kepercayaan Tuhan, melainkan bagaimana tingkah laku Tuan. Kebaikan, yang selalu kami usahakan dan kami junjung tinggi, perintah-Nya adalah Tuhan kami sejak dulu. Sekarang kamu sudah tahu bahwa kebaikan dan Tuhan adalah satu!”

Ketuhanan dimaknai Kartini sebagai kebaikan yang merajut keharmonisan dalam kehidupan manusia. Kita bisa menduga, pengalaman interaksi Kartini dengan berbagai agama membentuk pikirannya menjadi terbuka pada keberagaman.

Di suratnya tanggal 31 Januari 1903, kepada Tuan E.C Abendanon, Kartini menyoroti cara pengajaran dalam mengenal agama:

“Jika orang hendak mengajarkan agama juga kepada orang Jawa, ajarilah ia mengenal Tuhan Yang Esa, Bapak Penyayang dan pengasih itu, yang jadi Bapak semua makhluk, orang Kristen maupun dia orang islam, budha, yahudi dan sebagainya. Ajarilah dia agama sebenarnya, ialah agama yang melekat di Rohani biarpun ia memeluk agama itu seperti orang islam dan sebagainya.”

Surat Kartini menyasar pada orang-orang yang bersikap fanatik, tidak toleran, diskriminatif, serta memandang rendah agama lain. Pandangan itu kerap tidak didasarkan atas ajaran atau nilai ketuhanan itu sendiri, melainkan provokasi yang dialamatkan pada label “Membela Tuhan”

Tentu, untuk mengenal makna agam tak harus hanya lewat kuliah umum, teks serius, atau pun pemikiran-pemikiran tokoh. Kita boleh memaknainya melalui musik, berpikir sambil bernyanyi. Salah satu lagu alternatif yang bisa dijadikan pilihan adalah Tafsir Mistik (2021).

Lagu ini bisa membantu pendengar melihat tragedi kekerasan agama yang banyak terjadi. Liriknya mengandung kritik terhadap penafsiran teks agama yang melegalkan dosa dengan balutan keimanan.

Ruang khayal yang telah kau buka
Beri pembenaran pada dosa-dosa
Manusia yang takabur neraka
Dan coba ciptakan swanirwana.

 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Khazanah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo