Viral, Pengakuan Remaja Membunuh karena Bisikan Ghaib, Ini Pandangan Islam

Viral, Pengakuan Remaja Membunuh karena Bisikan Ghaib, Ini Pandangan Islam

Arina.id - Peristiwa tragis mengguncang kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, ketika seorang remaja berusia 14 tahun ditangkap pihak kepolisian atas dugaan pembunuhan terhadap ayah dan neneknya. Kejadian ini mengejutkan masyarakat, bukan hanya karena pelaku masih sangat muda, tetapi juga karena alasan yang diungkapkan di balik tindakannya.

Menurut pihak Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, pelaku mengaku bertindak demikian akibat adanya “bisikan” yang membuatnya resah. Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh “bisikan” yang mengarah pada keburukan yang kerap dikaitkan dengan setan.

Lantas bagaimana Islam memandang tentang bisikan ghaib ini? Apakah ada bisikan semacam itu menurut para ulama?

Sejatinya, dalam Islam, menurut ulama, setan memiliki peran sebagai makhluk yang berusaha menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Tak bisa dipungkiri, dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap dihadapkan pada berbagai bisikan hati yang mempengaruhi tindakan dan keputusan mereka.

Imam Yahya bin Hamzah Az-Zammar, dalam kitab Tashfiyatul Qulub, menjelaskan bahwa bisikan hati terbagi menjadi dua jenis, yakni; bisikan yang terpuji dan bisikan yang tercela. Bisikan hati yang terpuji disebut ilham, yang berasal dari malaikat, sementara bisikan hati yang tercela disebut waswas, yang datang dari setan. Kedua jenis bisikan ini memengaruhi manusia sesuai dengan kondisi hati mereka.

Pemahaman ini mengajarkan kita untuk selalu waspada terhadap tipu daya setan yang senantiasa mengajak kepada keburukan. Setan memiliki cara-cara halus untuk membisikkan keburukan kepada manusia. Bisikan ini sering kali menyerang pada saat-saat kelemahan atau keraguan, menjadikan keburukan terlihat sebagai sesuatu yang menarik atau bahkan benar.

Dalam terminologi Imam Yahya, kondisi hati yang menerima bisikan setan disebut ighwa (penyesatan) dan khidlan (pengabaian). Kondisi ini terjadi ketika hati seseorang jauh dari nilai-nilai kebenaran dan kemurnian iman. Ketika hati seseorang tidak terisi dengan taufik dari Allah, waswas setan memiliki peluang besar untuk merasuk.

Simak penjelasan Imam Yahya bin Hamzah Az-Zammar berikut: 

والخاطر المحمود يسمى إلهاماً، والخاطر المذموم الداعي إلى الشر يسمى وسواساً، ثم إن سبب الخاطر الداعي إلى الخير يسمى ملكاً وسبب الخاطر الداعي إلى الشر يسمى شيطاناً، واللطف الذي به يتهيأ القلب لقبول إلهام الملك يسمى توفيقاً، والذي به يتهيأ لقبول وسواس الشيطان يسمى إغواء وخذلاناً، فإن المعاني المختلفة تفتقر إلى القاب مختلفة،

Artinya: “Bisikan hati yang terpuji disebut ilham, sedangkan bisikan hati yang tercela yang mengajak kepada keburukan disebut waswas. Kemudian, penyebab bisikan hati yang mengajak kepada kebaikan disebut malaikat, dan penyebab bisikan hati yang mengajak kepada keburukan disebut setan. Kelembutan yang dengannya hati menjadi siap untuk menerima ilham malaikat disebut taufik, sedangkan kelembutan yang dengannya hati menjadi siap untuk menerima waswas setan disebut penyesatan dan pengabaian. Sebab makna-makna yang berbeda memerlukan kesiapan hati yang berbeda pula,” [Imam Yahya bib Hamzah Az-Zammar, Tashfiyatul Qulub, hlm, 26]

Sementara itu, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, mengibaratkan hati manusia sebagai benteng, sementara setan adalah musuh yang senantiasa mencari celah untuk masuk dan menguasainya. Agar benteng tersebut tetap kokoh, diperlukan pengawasan yang ketat terhadap pintu-pintu masuknya.

Pernyataan Imam Ghazali ini mengajarkan kita betapa pentingnya mengenali jalan masuk setan dan menjaga hati dari segala bisikan buruk yang dapat merusaknya. Setan menggunakan sifat-sifat manusia sebagai pintu masuk utama. Di antara sifat-sifat tersebut adalah amarah, keserakahan, keinginan berlebihan terhadap dunia, dan kesombongan.

Ketika manusia membiarkan sifat-sifat ini tidak terkendali, setan dengan mudah memasuki hati dan menanamkan godaan yang membuat seseorang cenderung melakukan keburukan. Sebagai contoh, keserakahan dapat mendorong seseorang untuk melakukan korupsi atau mencuri, sementara amarah yang tak terkendali dapat memicu tindakan kekerasan.

Oleh karena itu, mengenali sifat-sifat ini sebagai jalan masuk setan adalah langkah awal untuk menjaga benteng hati.

Selain mengenali sifat-sifat tersebut, manusia juga dituntut untuk memperkuat benteng hati dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Zikir, shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa adalah perisai-perisai yang dapat melindungi hati dari serangan setan. 

Dalam konteks ini, Imam Ghazali menyebut bahwa perlindungan hati merupakan fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf. Artinya, setiap orang bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan hatinya demi meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

Namun, menjaga hati bukanlah perkara yang mudah. Godaan setan sering kali tersamar dan sulit dikenali. Setan dapat membisikkan hal-hal yang tampaknya baik tetapi sejatinya membawa keburukan. Misalnya, seseorang mungkin merasa bangga dengan amal ibadahnya hingga terjerumus dalam riya. 

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan ilmu untuk memahami tipu daya setan. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan mana bisikan yang berasal dari setan dan mana yang merupakan ilham dari Allah. Simak keterangan Imam Ghazali berikut;

اعلم أن مثال القلب مثال حصن والشيطان عدو يريد أن يدخل الحصن فيملكه ويستولي عليه ولا يقدر على حفظ الحصن من العدو إلا بحراسة أبواب الحصن ومداخله ومواضع ثلمه ولا يقدر على حراسة أبوابه من لا يدري أبوابه فحماية القلب عن وسواس الشيطان واجبة وهو فرض عين على كل عبد مكلف وما لا يتوصل إلى الواجب إلا به فهو أيضاً واجب ولا يتوصل إلى دفع الشيطان إلا بمعرفة مداخله فصارت معرفة مداخله واجبة ومداخل الشيطان وأبوابه صفات العبد وهي كثيرة ولكنا نشير إلى الأبواب العظيمة الجارية مجرى الدروب التي لا تضيق عن كثرة جنود الشيطان

Artinya: "Ketahuilah bahwa perumpamaan hati adalah seperti sebuah benteng, dan setan adalah musuh yang ingin masuk ke dalam benteng tersebut untuk menguasainya dan mengambil alih kendali atasnya. Tidak mungkin menjaga benteng dari serangan musuh kecuali dengan mengawasi pintu-pintu benteng, jalan masuknya, dan tempat-tempat yang rusak. Namun, seseorang tidak akan mampu menjaga pintu-pintu tersebut jika ia tidak mengetahui di mana letaknya. Maka, melindungi hati dari bisikan setan adalah kewajiban yang harus dilakukan, bahkan merupakan fardhu ‘ain bagi setiap hamba yang mukallaf (dibebani tanggung jawab syariat). Apa pun yang menjadi sarana untuk mencapai kewajiban tersebut juga menjadi wajib hukumnya. Dan tidak mungkin menghalau setan kecuali dengan mengetahui jalan masuknya. Oleh karena itu, mengetahui jalan masuk setan menjadi sebuah kewajiban. Adapun jalan-jalan masuk setan dan pintu-pintunya adalah sifat-sifat manusia itu sendiri, dan pintu-pintu itu sangat banyak. Namun, kami akan menunjukkan pintu-pintu besar yang seperti jalan-jalan lebar yang dapat dilalui oleh banyak pasukan setan." [Imam Ghazali, Ihya Ulumiddin,  [Beirut: Darul Ma'rifah, tt], Jilid III, hlm, 32].

Lebih jauh lagi, Al-Qur'an secara tegas menggambarkan kejahatan bisikan setan dalam Surat An-Nas ayat 4:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

Artinya: "Dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi"

Mengenai ayat ini, Makki bin Abi Thalib dalam Tafsir Hidayah ila Bulugh Nihayah, dengan mengutip Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa setan memiliki tempat di hati manusia. Ketika manusia lalai dari mengingat Allah, setan memanfaatkan kelengahan itu untuk membisikkan kejahatan, menghasut, dan menggoda manusia agar terjerumus dalam dosa. Sebaliknya, saat manusia berdzikir dan mengingat Allah, setan akan menyingkir dan tidak memiliki kuasa untuk menggoda. Inilah yang dimaksud oleh istilah “al-khannas”.

Sementara itu, Mujahid, seorang mufassir dari kalangan Tabi'in, menjelaskan bahwa setan senantiasa mencari celah untuk mempengaruhi pikiran manusia. Ketika manusia sibuk dengan urusan duniawi dan melupakan Allah, setan akan kembali mendominasi pikiran manusia. Pun setan juga membisikkan kejahatan pada hati manusia.  

مِن شَرِّ الوسواس الخناس: أي الشيطان الخناس، يعني الشيطان يخنص مرة ويوسوس (أخرى، فيخنس إذا ذكره العبد ربه، ويوسوس من صدور الرجل) إذا غفل عن ذكر ربه. فقال ابن عباس: “ الشيطان جاثم على قلب ابن آدم، فإذا سها وغفل [وسوس]، [وإذا] ذكر الله خنس، فذلك قوله: {الوسواس الخناس} وقال مجاهد: ينبسط الشيطان فإذا ذكر لله خنس وانقبض، فإذا غفل الإنسان انبسط، وهو قول قتادة.

Artinya: "{مِن شَرِّ الوسواس الخناس}: “Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi.” Yaitu, setan yang disebut “al-khannas” (yang bersembunyi), artinya setan yang kadang bersembunyi dan kadang membisikkan (kejahatan). Ia bersembunyi ketika seorang hamba mengingat Tuhannya, tetapi ia membisikkan (kejahatan) di dalam dada manusia ketika mereka lalai dari mengingat Tuhan mereka. Ibnu Abbas berkata: “Setan duduk bersimpuh di hati anak Adam. Ketika ia lalai dan lupa, setan membisikkan (kejahatan). Namun, ketika ia mengingat Allah, setan bersembunyi. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: {الوسواس الخناس} (bisikan setan yang bersembunyi).” Mujahid berkata: “Setan menguasai (pikiran manusia) ketika manusia lalai, tetapi ketika Allah disebut, setan bersembunyi dan menyingkir. Jika manusia lalai, setan kembali menguasai. Pendapat ini juga disampaikan oleh Qatadah." [Makki bin Abi Thalib, Tafsir Hidayah ila Bulugh Nihayah, Jilid XII, hlm, hlm, 514]. 

Dengan demikian, setan menggunakan bisikan untuk mempengaruhi manusia secara halus. Bisikan ini bisa berbentuk godaan untuk melakukan dosa kecil yang perlahan menjurus pada dosa besar, hingga menanamkan keraguan terhadap kebenaran, dan mengarah pada kejahatan. Wallahu a'lam bis shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo