Surat At-Taubah: Sejarah di Balik Penamaannya

Surat At-Taubah: Sejarah di Balik Penamaannya

Surat At-Taubah menjadi surat kesembilan dalam urutan pembukuan Al-Qur’an setelah surat Al-Anfal. Surat ini termasuk kategori Madaniyah menurut konsensus para pakar kecuali dua ayat terakhir yang menurut Ibnu Jauzi diturunkan di Makkah. Surat ini terdiri dari 129 ayat dan ada yang mengatakan 130 ayat. Surat ini terdiri dari 4.078 kata, 10.084 abjad. (Alla’uddin Ali al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2004], juz II, hal. 332.).

Terdapat lima hubungan (munasabah) antara surat ini dengan surat sebelumnya, yakni surat Al-Anfal, menurut al-Maraghi sebagai berikut:

  1. Keduanya mengandung pembicaraan terperinci tentang peperangan dengan orang kafir dan ahlul kitab.
  2. Surat sebelumnya (ayat 34) menerangkan tentang orang-orang musyrikin menghalangi dari Masjidil Haram dan menekankan bahwa mereka bukan orang yang berhak menjadi pengurusnya. Sedangkan surat At-Taubah (ayat 17-18) menerangkan tentang bahwa mereka tidak pantas menjadi orang yang mengurusi Masjid-masjid Allah dengan kekufuran mereka.
  3. Surat Al-Anfal menyebutkan tentang perjanjian (ayat 56). Sedangkan surat At-Taubah di mulai dengan pembicaraan tentang perjanjian dengan rinci.
  4. Surat Al-Anfal menyebutkan tentang anjuran menginfakkan harta ke jalan Allah. Sedangkan surat At-Taubah menerangkan lebih detail tentang itu.
  5. Surat Al-Anfal menurutkan tentang orang-orang munafiq dan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit. Sedangkan surat At-Taubah memerinci dengan rincian yang lebih lengkap. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir, Mustofa al-Halabi, 1946], juz X, hal. 50-51.).

Surat At-Taubah dalam catatan sejarah Islam menjadi salah satu surat yang turun paling akhir, sedangkan surat Al-Anfal termasuk surat yang awal mula turun. Surat At-Taubah turun pada tahun 9 hijriah. Di tahun itu juga terjadi perang Tabuk yakni perang yang terakhir kali diikuti oleh Nabi Muhammad. (Wahbah  bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz V, 439.). 

Nama At-Taubah kebanyakan digunakan untuk nama surat ini di berbagai mushaf Al-Qur’an, sedangkan nama Al-Bara’ah terkenal di kalangan ulama salaf untuk surat ini. Tahir bin Asyur mencatat nama Al-Bara’ah diinisiasi dari kalimat pertama dalam ayat pembuka surat ini. Sedangkan nama At-Taubah menurut Ibnu Asyur, berdasarkan kisah taubat tiga orang yang tidak mengikuti perang Tabuk (ayat 118) dan kisah ini termasuk kisah yang fenomenal. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz X, hal. 95.).

Ketiga orang itu menurut al-Suyuthi adalah Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, Murarah bin Rabi’ah, dan mereka adalah dari golongan Anshar. Al-Suyuthi mengutip kisah mereka dalam tafsirnya sebagai berikut:

“Diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Anas bin Malik berkata ketika Rasulullah sampai di daerah Dzi Awan, keluarlah para munafiqin yang tidak mengikuti perang untuk menemui beliau, Rasullah berkata kepada para sahabat “jangan berbicara dengan orang yang tidak mengikuti kita dan jangan duduk bersama mereka sampai aku mengizinkan”, kemudian para sahabat tidak berbicara dengan mereka. Ketika Rasulullah masuk ke kota Madinah keluarlah orang-orang yang tidak mengikuti perang dan menyambut kedatangan beliau, Rasulullah dan para sahabat acuh kepada mereka, bahkan mereka juga ditolak oleh keluarganya, sehingga mereka menghadap Rasulullah dan mengutarakan alasan untuk tidak mengikuti perang dikarenakan dalam keadaan kurang stabil dan sakit, kemudian Rasulullah mengasihi mereka dan mereka berbai’at dan beristighfar, dan termasuk orang yang tidak mengikuti perang tidak karena ragu dan munafik adalah tiga orang yang diceritakan Allah dalam surat At-Taubah yakni Ka’ab bin Malik al-Sulami, Hilal bin Umayyah al-Waqifi, dan Murarah bin Rabi’ah al-Amiri”. (Abdurrahman al-Suyuthi, al-Durrul Mantsur fi Tafsiri al-Ma’tsur, [Beirut: Darul Fikr, 2011], juz IV, hal. 310.). 

Selain nama At-Taubah dan Al-Bara’ah, surat ini mempunyai nama lain dan terhitung lumayan banyak. Al-Harari mencatat sepuluh nama untuk surat ini mengutip Alla’udin al-Khazin sebagai berikut:

  1. Al-Taubah, atas dasar keterangan tentang taubat masyarakat mukmin.
  2. Bara’ah, atas dasar kutipan tentang terbebasnya Allah dan Rasul-Nya dari masyarakat musyrik.
  3. Al-Muqasyqisyah, atas dasar komentar Ibnu Umar bahwa surat ini bisa menyembuhkan dari kemunafikan.
  4. Al-Muba’tsirah, atas dasar surat ini memaparkan informasi tentang masyarakat munafik.
  5. Al-Fadhihah, atas dasar komentar Ibnu Abbas bahwa surat ini membuka kedok masyarakat munafik.
  6. Al-Azab, atas dasar komentar Hudaifah al-Yamani.
  7. Al-Mukhziyah, atas dasar surat ini mempermalukan masyarakat munafik.
  8. Al-Mudamdimah, atas dasar surat ini menerangkan binasanya masyarakat munafik.
  9. Al-Musyridah, atas dasar surat ini mencerai-beraikan kelompok masyarakat munafik.
  10. Al-Mutsirah, atas dasar surat ini mempermalukan masyarakat munafik dan membongkar kedok mereka. (Muhammad Amin al-Harari, Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an, [Beirut: Dar Thauqin Najat, 2001], juz XI, hal. 117.).

Tahir bin Asyur mencatat nama-nama lain selain yang telah dicatat oleh al-Harari sebagai berikut:

  1. Al-Munaqirah, atas dasar komentar Ubaid bin Umair bahwa surat ini menggali apa yang ada dalam hati masyarakat musyrik.
  2. Al-Bahuts, atas dasar komentar al-Miqdad bin Aswad, alasannya sama seperti nama sebelumnya.
  3. Al-Hafirah, atas dasar komentar Hasan al-Bashri bahwa surat ini menggali isi hati masyarakat munafik dan menampakkannya kepada masyarakat Muslim.
  4. Al-Munakkilah.
  5. Al-Musyaddidah. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz X, hal. 98.).

Sekilas penulis merasa canggung dengan komentar Hudaifah al-Yamani bahwa surat ini ia namai dengan al-Azab. Pasalnya, secara diksi tekstual nama ini bertolak belakang dengan nama At-Taubah yang menunjukkan kisah pertaubatan masyarakat Muslim khususnya tiga orang yang telah disebutkan. 

Sedangkan jika dinamakan azab seakan surat ini menyimpan keterangan tentang siksa-siksa seperti umat terdahulu. Padahal surat ini lebih fokus kepada membongkar kedok masyarakat munafik dan fokus ini selaras dengan pendapat lain yang lebih fokus kepada tema masyarakat munafik seperti yang telah penulis kutip.

Hudaifah al-Yamani menamai surat itu dengan azab atas dasar sebagaimana catatan Ibnu Asyur bahwa surat ini diturunkan untuk mengazab orang kafir, yakni azab peperangan, dan hukuman ketika mereka tersadar. 

Al-Suyuthi juga mencatat komentar Hudaifah tentang nama Al-Azab yang mengatakan tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari pembicaraan surat ini. Seseorang akan merasakan bahwa dirinya disinggung dalam surat ini, dan demikian juga komentar Umar bin Khattab tentang penamaan surat ini dengan Al-Azab. Wallahu a’lam bisshawab


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo