Surat Yunus: Penamaan dan Kisah di Baliknya

Surat Yunus: Penamaan dan Kisah di Baliknya

Surat Yunus merupakan surat ke-10 dalam urutan penulisan kodifikasi Al-Qur’an setelah surat Taubat. Surat ini termasuk dalam kategori Makkiyah kecuali ayat 40, 94, 95, dan 96. Topik pembicaraan dalam surat ini berkutat seputar pengukuhan dasar-dasar ketauhidan, meruntuhkan kesyirikan, pengukuhan kerasulan, hari kebangkitan, hari pembalasan, dan yang berhubungan dengan pokok-pokok ajaran agama yang sangat identik dengan ciri khas surat Makkiyah. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir, Mustofa al-Halabi, 1946], juz 11, hal. 58.).

Al-Harari mencatat surat ini terdiri dari 109 ayat, 1832 kata, dan 7567 huruf. Al-Harari mengutip pendapat Ibnu Hazm terdapat empat revisi (mansukh) dalam surat ini yaitu ayat ke-15 direvisi dengan ayat ke-2 surat al-Fath. Kemudian ayat ke-102, dan ayat ke-41, serta ayat ke-108 direvisi dengan ayat pedang (ayatus saif). Tentunya nasakh ini hanya nasakh hukum atau khitab dari ayatnya saja, bukan me-nasakh bacaan ayat tersebut sebagaimana masyhur dalam dialektika Nasakh Mansukh. (Muhammad Amin al-Harari, Hadaiqur Ruh war Raihan fi Rawabi Ulumil Qur’an, [Beirut: Dar Thauqin Najat, 2001], juz 12, hal. 126.).

Menurut al-Zuhaili, surat ini masyhur dinamakan dengan Surat Yunus karena surat ini mereportase kisah Nabi Yunus, baik kisah beliau sendiri yakni tentang kisah ditelan oleh ikan, atau terkait kisah kaumnya yang dianugrahi kekhususan oleh Allah berupa dibebaskan dari azab sebab beriman dan bertaubat kepada Allah SWT. (Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz 6, 97.).

Tahir bin Asyur lebih spesifik menganalisis kronologi penamaan surat ini dengan nama Nabi Yunus. Ibnu Asyur mengatakan bahwa surat ini tertulis dengan nama Yunus di mushaf-mushaf, kitab-kitab tafsir, dan riwayat hadits. Penamaan ini didukung atas dasar kisah kaum Nabi Yunus yang mempunyai kekhususan yakni mereka beriman setelah diancam oleh nabinya untuk diazab kemudian Allah mengampuni mereka ketika mereka beriman yang terrekam dalam ayat ke-98.

Ibnu Asyur mengatakan kekhususan itu berkat kehormatan Nabi Yunus disisi Alllah. Sedangkan nabi Yunus sendiri tidak banyak disebutkan dalam surat ini. Padahal Nabi Yunus juga disinggung dalam Surat al-Shaffat bahkan dengan redaksi yang lebih banyak. Oleh karena itu menurut Ibnu Asyur, penamaan surat ini dengan nama Yunus tidak murni karena kisahya dan kisah kekhususan kaumnya saja.

Berdasarkan analisis pribadinya, Ibnu Asyur mengatakan bahwa surat ini dinamakan Yunus atas dasar pembedaan antara surat yang bernama Nabi lainnya yang dimulai dengan Alif Lam Ra (الر) yang ada empat (Yunus, Hud, Yusuf, dan Ibrahim). Oleh karena itu masing-masing surat itu disandarkan kepada nama Nabi atau nama sebuah kaum agar tidak dinamakan dengan alif lam ra satu, dua, dan seterusnya.  (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz 11, hal. 77.).

Ayat yang berbicara tentang kisah Nabi Yunus dan kaumnya dalam surat ini adalah ayat 98 berikut ini

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

Artinya: "Mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang segera beriman sehingga imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami berikan kesenangan hidup (sementara) kepada mereka sampai waktu yang ditentukan." (QS. Yunus Ayat 98).

Al-Razi mengutip kisah ini dalam tafsirnya bahwa Nabi Yunus diutus oleh Allah di daerah Niniwe atau Naynawa, satu kota kuno yang terletak di Mosul Irak. Karena penduduk Niniwe mendustakannya, maka Nabi Yunus meninggalkan mereka dengan marah. Ketika mereka kehilangan Nabi Yunus, mereka khawatir akan datangnya azab dari Allah. Mereka menggunakan kain kasar dan berkerumun selama 40 malam.

Nabi Yunus mengatakan, ajal kalian hanya tinggal 40 malam. Mereka menjawab: "Jika kami melihat tanda-tanda azab, maka kami akan beriman kepadamu."

Ketika telah sampai di malam ke-35 muncul awan hitam di langit dan kabut pekat yang menyebar sampai ke kota Niniwe dan menggelapkan pandangan di sekitar kota itu. Kemudian mereka lari ke padang pasir, dan memisah antara wanita dengan anak-anak termasuk antara induk ternak dengan anaknya. Mereka saling meratapi satu sama lain, suara-suara mengeras, dan banyak doa dipanjatkan. 

Mereka menampakkan keimanan dan taubat, dan mendekatkan diri kepada Allah. Maka kemudian Allah mengasihi mereka dengan menghilangkan tanda-tanda azab itu, dan kejadian itu bertepatan dengan hari Jumat tanggal 10 Muharram. (Muhammad bin Umar al-Razi, Mafatihul Ghayb, [Beirut: Darul Fikr, 1981],  juz 17, hal. 172.). Wallahu a’lam bis shawab


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo