Hukum Khatib Tak Pegang Tongkat saat Khutbah Jumat

Hukum Khatib Tak Pegang Tongkat saat Khutbah Jumat

Arina.id - Sudah lazim ketika khatib berkhutbah memegang tongkat sembari menyampaikan materi khutbahnya kepada hadirin jamaah Jumat. Namun, bagaimana jika khatib tidak memegang tongkat saat khutbah? Apakah hal tersebut berpengaruh pada sah tidaknya khutbah yang disampaikan?

Khatib memegang tongkat saat berkhutbah sudah menjadi tradisi yang mengakar di kalangan umat Islam. Hal tersebut tidak hanya terjadi saat khutbah Jumat saja, tetapi juga pada khutbah-khutbah lainnya, seperti khutbah Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Dalam sebuah hadits, memang telah dijelaskan perihal memegang tongkat saat berkhutbah, sebagaimana riwayat Abu Dawud berikut:

عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ

Artinya: “Dari Syu’aib bin Zuraiq at-Thaifi dia berkata: "kami melaksanakan sholat jumat bersama Rasululullah SAW, lalu beliau berdiri (untuk berkhutbah) seraya berpegangan dengan tongkat atau busur panah.” (HR. Abu Daud)

Dari hadits ini ulama berpendapat bahwa memegang tongkat atau pedang ketika berkhutbah hukumnya adalah sunnah. Sehingga khutbah tanpa memegang tongkat tetap dihukumi sah secara syariat.

Sebagaimana penjelasan dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah berikut:

يُسْتَحَبُّ لِلْخَطِيبِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْ يَعْتَمِدَ عَلَى قَوْسٍ أَوْ سَيْفٍ أَوْ عَصًا، وَذَلِكَ عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ؛ لِمَا رَوَى الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ قَال: وَفِدْتُ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَقَمْنَا أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ

Artinya: ”Dianjurkan (sunnah) bagi khatib pada hari Jumat untuk bertumpu pada busur panah, pedang, atau tongkat. Hal ini berdasarkan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Hazn Al-Kulafi yang berkata: ”Saya datang menemui Rasulullah SAW, dan kami tinggal beberapa hari, di mana kami mengikuti sholat Jumat bersama beliau. Ketika itu, beliau berdiri dengan bertumpu pada tongkat atau busur panah.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz 25 halaman 311)

Memegang tongkat saat khutbah juga bukan hanya merupakan anjuran untuk mencontoh Rasulullah SAW. Menurut Imam Al-Ghazali, hal ini memiliki tujuan tertentu. Tongkat berfungsi agar khatib tidak bermain-main dengan kedua tangannya. Tanpa tongkat, khatib bisa jadi malah menyatukan kedua tangannya atau sibuk dengan gerakan lainnya.

فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَر

Artinya: ”Setelah muadzin selesai adzan, khatib berdiri menghadap jamaah dengan wajah yang tidak menoleh ke kanan atau kiri. Khatib juga dianjurkan memegang pedang, tombak, atau tiang mimbar agar tidak bermain-main dengan kedua tangannya atau menyilangkan salah satunya di atas yang lain.” (Ihya’ Ulumiddin, juz 1 halaman 179)

Dengan demikian dari ulasan ini dapat disimpulkan bahwa hukum memegang tongkat saat khutbah Jumat merupakan sunnah yang dianjurkan. Hal ini memiliki tujuan untuk membantu khatib fokus serta menjaga agar tidak bermain-main dengan tangannya, sehingga khutbah tetap sah meskipun tanpa memegang tongkat. Hal ini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo