Lailatul Qadar dan Ciri-ciri Orang yang Mendapatkannya

Lailatul Qadar dan Ciri-ciri Orang yang Mendapatkannya

Arina.id - Bulan Ramadan tidak dapat dilepaskan dari malam yang penuh dengan keutamaan yakni Lailatul Qadar. Malam istimewa ini menjadi dambaan umat Islam karena keutamaannya melebihi seribu bulan. Umumnya orang-orang yang berlomba ingin mendapatkan lailatul qadar fokus di malam 10 terakhir, tepatnya malam-malam tanggal ganjil. Hal ini berdasarkan hadits:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya:“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan” (HR. Bukhari)

Sedangkan anjuran berlomba mendapatkan lailatul qadar di malam ganjil berdasarkan hadits:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: "Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

Artinya: “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa” (HR. Bukhari).

Dalam firman Allah, momentum lailatul qadar bahkan dijelaskan dalam satu surat khusus, yakni QS.Al-Qadr yang berisi 5 ayat. Pada ayat ketiga, jelas sekali ditampakkan bahwa lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan yang dimaksud pada ayat tersebut ialah amaliyah, puasa, dan berdirinya di tengah malam (qiyamu al-lail) lebih baik dari seribu bulan.

Lebih ringkas, Amru bin Qays menjelaskan:

عمل فيها خير من عمل ألف شهر

Artinya: "Amalan di malam tersebut lebih dari amalan selama seribu bulan"

Dalam tafsir Ibnu Kasir, seribu bulan tidak dimaknai secara tekstual yakni lailatul qadar merupakan ibadah yang lebih baik dibanding 83 tahun lebih 4 bulan. Namun, seribu bulan ialah wujud keberkahan yang berlimpah pada malam tersebut. Seribu keberkahan itu berupa ampunan Allah terhadap hamba yang menghidupkan malam tersebut.

Oleh karena itu, fenomena pencarian lailatul qadar biasanya melalui program mabit (bermalam) atau i’tikaf di masjid.

Ciri-ciri Orang yang Mendapatkan Lailatul Qadar

Imam Abu Muhammad bin Abi Hatim menjelaskan dalam tafsirnya tentang peristiwa lailatul qadar. Para malaikat yang dipimpin oleh Malaikat Jibril turun ke langit bumi untuk mendoakan hamba yang terjaga dan beribadah pada Allah.

… و جبريل لا يدع أحدا من المؤمنين إلا صافحه، و علامة ذلك من اقشعر جلده و رقّ قلبه و دمعت عيناه، فإن ذلك من مصافحة جبريل

Artinya: "Tiga tanda peraih Lailatul Qadar yang diibaratkan bersalaman dengan Jibril pada penjelasan Ibnu Hatim di atas ialah: (1) Merinding bulu kuduknya (2) Lembut hatinya (3) Berlinang air matanya."

Ketiga tanda tersebut merupakan indikasi seorang hamba yang sungguh-sungguh beribadah pada Allah di malam tersebut lailatul qadar. Merinding bulu roma dimaknai dalam Tafsir Baghawi sebagai hati yang takut pada Allah atas segala dosanya. Kemudian melunak hatinya, mengakui atas segala nista dan dosa dan berlinang air matanya memohon ampun pada Allah dengan penuh kesungguhan dan keimanan.

Dari beberapa keterangan ini dapat dipahami bahwa ciri-ciri seseorang yang mendapatkan lailatul qadar adalah mencerminkan tiga tanda tersebut; merinding bulu kuduknya, melunak hatinya, dan meneteskan air mata. Ketiga ciri ini bisa dirasakan secara individu, sebab lailatul qadar itu bersifat rahasia (sir) dan dampaknya pun hanya dapat dirasakan oleh masing-masing orang. Wallahu a'lam bish shwawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo