Shalat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki keistimewaan dan nilai spiritual tinggi dalam agama Islam. Meskipun bukan merupakan kewajiban, melaksanakan Shalat Dhuha memiliki banyak keutamaan dan manfaat, baik secara fisik maupun mental.
Shalat Dhuha mencerminkan kecintaan dan ketaatan seorang muslim kepada Allah swt di tengah kesibukan kehidupan modern yang terkadang sulit untuk menyisihkan waktu khusus untuk beribadah. Namun, Shalat Dhuha memberikan peluang bagi umat Islam untuk menghadirkan diri di hadapan Allah dengan penuh kesungguhan, menghidupkan ruh spiritualitas dalam keseharian yang sibuk.
Dengan menjelajahi makna, keutamaan, dan panduan pelaksanaannya, kita dapat mengeksplorasi kekayaan spiritual yang terkandung dalam Shalat Dhuha serta bagaimana melibatkannya dalam rutinitas keagamaan sehari-hari.
Waktu Shalat Dhuha
Menurut ulama mazhab Hanafi, Syekh Hasan bin ‘Ammar waktu pelaksanaan shalat dhuha yakni antara terbit matahari hingga tergelincir terbagi menjadi tiga waktu. Pertama adalah waktu dhahwah, yaitu dimulai dari terbitnya matahari hingga naik setinggi satu tumbak. Kedua adalah waktu dhuha, dimulai dari matahari setinggi satu tumbak hingga waktu istiwa (matahari tepat di atas langit). Dan, ketiga adalah waktu dhaha, yaitu dimulai dari waktu istiwa hingga waktu tergelincir.
Jadi, waktu dhuha bukanlah waktu terbitnya matahari, melainkan setelah melewati ketinggian satu tumbak. Sebab, waktu terbitnya matahari disebut dengan waktu dhahwah. Setelah matahari melewati ketinggian satu tumbak, barulah memasuki waktu shalat dhuha yang membentang hingga waktu istiwa.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menyebut dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan bahwa satu tumbak dimaksud kira-kira sepanjang 2,5 meter. Ia menjelaskan yang artinya: "Satu tumbak itu sepanjang 2,5 meter, atau kira-kira tujuh hasta dalam penglihatan kasat mata. Sedangkan menurut para ulama Maliki, satu tumbak adalah 12 jengkal,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Beirut, Darul Fikr, cetakan keempat, jilid I, halaman 676).
Niat, Tata Cara, dan Doa
Shalat Dhuha dapat dilaksanakan sebagaimana shalat-shalat sunnah lainnya, yaitu dua rakaat satu salam. Shalat Dhuha diawali dengan niat di dalam hati bersamaan takbîratul Ihrâm. Untuk memantapkan niat, sebelumnya bisa melafalkan niat shalat Dhuha berikut:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatad dhuhâ rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Saya niat shalat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Rukun selanjutnya adalah melaksanakan gerakan dan bacaan shalat sebagaimana umumnya sampai salam setelah dua rakaat. Dan setelah salam atau selesai seluruh shalat kemudian membaca doa yang terdiri dari 3 bagian doa sebagaimana disebutkan dalam Kitab Hâsyiyyah I’ânatut Thâlibîn.
Pertama:
اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَآءَ ضَحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَــالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِيْ مَآ أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Allâhumma innad dlahâ’a dlahâ’uka, wal bahâ’a bahâ’uka, wal jamâla jamâluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. Allâhuma in kâna rizqî fis samâ’i fa anzilhu, wa inkâna fil ardhi fa akhrijhu, wa inkâna mu’siran (mu‘assaran) fa yassirhu, wa in kâna harâman fa thahhirhu, wa inkâna ba‘îdan fa qarribhu, bi haqqi dlahâ’ika wa bahâ’ika wa jamâlika wa quwwatika wa qudratika, âtinî mâ atayta ‘ibâdakas shâlihîn.
Artinya, “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rejekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah kepadaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”
Kedua:
اَللّٰهُمَّ بِكَ أُصَاوِلُ وَبِكَ أُحَاوِلُ وَبِكُ أُقَاتِلُ
Allâhumma bika ushâwilu, wa bika uhâwilu, wa bika uqâtilu.
Artinya, “Dengan-Mu, aku menerjang. Dengan-Mu, aku berupaya. Dengan-Mu, aku berjuang.”
Ketiga, doa dibaca sebanyak 40 atau 100 kali:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Rabbighfir lî, warhamnî, wa tub ‘alayya, innaka antat tawwâbur rahîm.
Artinya, “Tuhanku, ampunilah aku. Kasihanilah aku. Terimalah tobatku. Sungguh, Engkau Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.”
Keutamaan dan Hikmah
Banyak banyak dalil dalam Al-Qur’an maupun hadits yang mengungkapkan keutamaan shalat dhuha. Seperti yang disebutkan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in:
ويسن الضحى لقوله تعالى "يسبحن بالعشي والإشراق" قال ابن عباس صلاة الإشراق صلاة الضحى. روي الشيخان عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أوصاني خليلي بثلاث: صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وركعتي الضحى، وأن أوتر قبل أن أنام
Artinya, “Shalat dhuha disunahkan berdasarkan firman Allah SWT, ‘Bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.’ Ibnu Abbas menafsirkan shalat isyraq adalah shalat dhuha. Bukhari-Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ‘Rasulullah pernah berwasiat tiga hal kepadaku: puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur.’”
Di antara hikmah shalat Dhuha adalah mendapatkan ampunan dosa sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah:
من حافظ على شفعة الضحى غفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر
Artinya, “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat Dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Orang yang melaksanakan shalat Dhuha juga masuk dalam kategori orang yang tidak lalai. Rasulullah bersabda:
من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين
Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).
Shalat Dhuha juga disebut sebagai Sedekah sebagaimana sabda Rasulullah:
يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، ويجزئ عن ذلك ركعتان يركعهما من الضحي
Artinya, “Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at,” (HR Muslim).
Editor:


