Tafsir Surat Al-Muddatstsir ayat 6-7: Larangan Mengharap Imbalan

Tafsir Surat Al-Muddatstsir ayat 6-7: Larangan Mengharap Imbalan

Arina.id - Dalam keseharian, kebaikan sering sekali dianggap sebagai sebuah transaksi sosial yang harus terkait dengan imbalan. Sangat jarang ditemukan, orang yang berbuat kebaikan secara sukarela tanpa syarat. Semua orang rata-rata mengharap balas budi atas perbuatan yang mereka lakukan.

Bukan hanya manusia di era sekarang, akan tetapi kebiasaan kurang baik semacam ini telah ada berabad-abad lamanya. Nabi Muhammad SAW pernah ditegur langsung oleh Allah SWT sebab beliau berharap memperoleh balasan dari dakwah yang dijalankannya.

Hal ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 6-7. Secara umum ayat ini berisi tentang teguran sekaligus larangan Allah SWT terhadap sikap pamrih dan anjuran terhadap perilaku sabar.

Berikut ini teks, terjemahan dan beberapa tafsir QS. Al-Muddatsir ayat 6-7:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُۖ ٦ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْۗ ٧

Wa lâ tamnun tastaktsir, wa lirabbika fashbir

Artinya: "Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! Karena Tuhanmu, bersabarlah!."

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatihul Ghaib, menyebutkan bahwasanya para ulama menyatakan beberapa pandangan dalam menafsirkan ayat ini. Salah satunya, menegaskan larangan terhadap umat Islam, khususnya Nabi Muhammad dalam ayat tersebut, untuk mengharap imbalan dari manusia sebab berbuat baik dengan mengajarkan ilmu agama dan wahyu tuhan kepada mereka. Karena sejatinya perbuatan baik itu berasal dari Allah SWT:

لَا تَمْنُنْ عَلَى النَّاسِ بِمَا تُعَلِّمُهُمْ مِنْ أَمْرِ الدِّينِ، وَالْوَحْيِ كَالْمُسْتَكْثِرِ لِذَلِكَ الْإِنْعَامِ، فَإِنَّكَ إِنَّمَا فَعَلْتَ ذَلِكَ بِأَمْرِ اللَّهِ، فَلَا مِنَّةَ لَكَ عَلَيْهِمْ، وَلِهَذَا قَالَ: وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ [المدثر: 7]

Artinya: "Janganlah berharap kepada manusia dengan apa telah engkau ajarkan terhadap mereka berupa perkara agama dan wahyu seperti orang yang mengharap imbalan banyak dari tindakan kebaikan tersebut. Karena sesungguhnya engkau (Muhammad) melakukannya dengan kuasa Allah, tiada kebaikan sepenuhnya darimu atas mereka. Atas hal ini, Allah berfirman dalam ayat setelahnya, “Karena tuhanmu, bersabarlah!” (Mafatihul Ghaib, jilid X, halaman 700)

Selanjutnya, Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan dan menafsirkan ayat ini dengan mengutip pendapat dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya dalam ayat tersebut Rasulullah SAW dilarang untuk mengharap imbalan terhadap kebaikan yang diperbuat terhadap manusia. Begitu juga, pendapat tersebut selaras dengan pendapat dari beberapa ahli tafsir lainnya. 

وقوله تعالى: وَلا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: لَا تُعْطِ الْعَطِيَّةَ تَلْتَمِسُ أَكْثَرَ مِنْهَا، وَكَذَا قَالَ عِكْرِمَةُ وَمُجَاهِدٌ وَعَطَاءٌ وَطَاوُسٌ وَأَبُو الْأَحْوَصِ وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ وَالضَّحَّاكُ وَقَتَادَةُ وَالسُّدِّيُّ وَغَيْرُهُمْ

Artinya: "Firman Allah swt, “Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!” Ibnu Abbas berkata, maksudnya adalah: janganlah engkau (Muhammad) memberikan pemberian yang engkau harapkan kelebihan darinya. Demikian pula hal ini dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, ‘Atha’, Thawus, Abul Ahwas, Ibrahim an-Nakho’i, Ad-Dhahak, Qotadah, As-Sa’di dan selain dari mereka."

Selain itu, Ibnu katsir mengutip riwayat dari Ibnu Mas’ud bahwa dia membaca ayat tersebut dengan bacaan (وَلَا تَمْنُنْ أَنْ تَسْتَكْثِرَ) yang berarti, janganlah engkau memberi sesuatu, kemudian di masa yang akan datang engkau mengharapkan imbalan yang banyak.

Hasan al-Bashri berkata dan berpendapat berkaitan dengan ayat ini, yakni maksudnya, janganlah engkau (Muhammad) berharap dengan amal perbuatanmu itu untuk memperoleh sesuatu yang lebih. (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, jilid VIII, halaman 273)

Kemudian dilansir dari akun Instagran @tuangurubajang, yakni milik dari KH. Zainul Majdi, dalam unggahannya pada 18 Oktober 2024 menjelaskan tentang salah satu tantangan kebaikan yaitu megharapkan imbalan atau apresiasi dari manusia atas apa yang dilakukan.

Dalam sebuah video, ia menjelaskan tafsiran dari QS. Al-Mudattsir ayat 6-7 yakni larangan manusia untuk mengharapkan imbalan atas perbuatan baiknya. Entah yang berupa harta, jasa bahkan hanya seulas senyuman.  

“Jangan melakukan kebaikan itu untuk tastaktsir, mengharap banyak. Apa itu mengharap banyak? Mungkin saja mengharapkan orang lain berterima kasih. Kan tidak setiap orang yang kita perbuat baik kepadanya pasti berterima kasih, sering kali nanti bisa membuat kita kecewa,” jelas Kiai lulusan S3 Al-Azhar jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an tersebut.

Lalu ia menjelaskan arti sabar dalam ayat setelahnya, bahwa bersabar juga berarti kokoh dan teguh pendirian atas kebaikan yang dilakukan hanya semata-mata untuk mencari ridha Allah swt.

Demikianlah penjelasan tentang Tafsir Qur’an Surat Al-Muddatstsir ayat 6-7 yang mengungkapkan larangan umat manusia untuk mengharapkan imbalan atas kebaikan yang diperbuatnya. Oleh karena itu, mari berbuat baik dengan hanya mengharapkan ridha Allah SWT.  Wallahu a'lam bis shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhaimin Yasin
Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo