Arina.id - Siapa yang tidak mengenal Syekh Abdul Qadir Jailani. Beliau adalah seoarang tokoh ulama fiqih terkemuka yang sangat dikenal sebagai seorang wali dalam dunia tarekat dan sufisme.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki nama lengkap Abu Muhammad Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani bin Abi Shalih as Sayyid Musa bin Junki Dausit bin as-Sayyid Abdullah al-Jili bin as-Sayyid Yahya az-Zahid bin as-Sayyid Muhammad bin as-Sayyid Dawud bin as-Sayyid Musa bin as-Sayyid Abdullah bin as-Sayyid Musa al Juni.
Menurut pendapat paling sahih yang disampaikan Ibn al-Jauzi, Syekh Abdul Qadir Al Jailani dilahirkan pada tanggal 1 bulan Ramadan tahun 471 Hijriyah.
Kealiman dan akhlak terpuji Syekh Abdul Qadir Al Jailani banyak mendapat pujian dari beberapa ulama. Salah satunya Imam Adz-Dzahabi beliau memuji Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitab karyanya Siyar A’lam An Nubala sebagai berikut:
الشَّيْخُ الإِمَامُ العَالِمُ الزَّاهِدُ العَارِفُ القُدْوَةُ شَيْخُ الإِسْلَامِ عَلَمُ الأَوْلِيَاءِ
Artinya: “Seorang Syekh, imam, ulama, yang zuhud, arif, panutan, Syekh Islam, dan pemuka para wali”
Begitu pula Imam As-Sam’ani, beliau tak ketinggalan ikut memuji Syekh Abdul Qadir Al Jailani.
كَانَ عَبْدُ القَادِرِ مِنْ أَهْلِ جَيْلَانَ، إِمَامَ الحَنَابِلَةِ وَشَيْخَهُمْ فِي عَصْرِهِ، فَقِيهٌ، صَالِحٌ، دَيِّنٌ، خَيِّرٌ، كَثِيرُ الذِّكْرِ، دَائِمُ الفِكْرِ، سَرِيعُ الدَّمْعَةِ.
Artinya: ”Abdul Qadir berasal dari daerah Jilan. Ia adalah imam dan pemimpin ulama Mazhab Hanbali di masanya. Seorang faqih (ahli fikih), saleh, religius, dermawan, banyak berzikir, selalu berpikir mendalam, dan mudah meneteskan air mata (karena keimanan dan ketakwaannya).” (Siyar A’lam An Nubbala’, juz 20 halaman 441)
Kalimat ini menggambarkan keutamaan dan karakteristik mulia Syekh Abdul Qadir al-Jailani, baik dalam keilmuan maupun ketakwaannya.
Berpuasa Ramadan Sejak Bayi
Salah satu karamah dan kisah unik beliau Syekh Abdul Qadir Al Jailani adalah sejak kecil ikut serta berpuasa Ramadan. Kisah tersebut terekam jelas dalam kitab Fawaid Al Mukhtarah halaman 449 berikut;
قَالَتْ أُمُّ الشَّيْخِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيلَانِيِّ: لَمَّا وَضَعْتُ وَلَدِي عَبْدَ القَادِرِ كَانَ لَا يَرْضَعُ ثَدْيًا فِي نَهَارِ رَمَضَانَ، وَلَقَدْ غُمَّ عَلَى النَّاسِ هِلَالُ رَمَضَانَ، فَأَتَوْنِي وَسَأَلُونِي عَنْهُ، فَقُلْتُ لَهُمْ: إِنَّهُ لَمْ يَلْتَقِمِ اليَوْمَ ثَدْيًا، ثُمَّ ٱتَّضَحَ أَنَّ ذَلِكَ اليَوْمَ كَانَ مِنْ رَمَضَانَ، وَٱشْتُهِرَ بِبَلَدِنَا فِي ذَلِكَ الوَقْتِ أَنَّهُ وُلِدَ لِلأَشْرَافِ وَلَدٌ لَا يَرْضَعُ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ
Artinya: “Ibu Syekh Abdul Qadir Al Jailani berkisah:”Saat aku melahirkan anakku (Abdul Qadir), setiap tiba siang bulan Ramadan, ia enggan menyusu”. Pernah suatu ketika, hilal Ramadan sulit untuk dilihat lantaran cuaca mendung. Maka, masyarakat sekitar pun berbondong-bondong mendatangi rumah si ibu dan bertanya apakah anak beliau (Abdul Qadir) mau ataukah enggan untuk menyusu? Si ibu menjawab bahwa si bayi saat ini enggan untuk menyusu. Maka mereka pun memutuskan istbat Ramadan di hari tersebut. Dan kejadian ini menjadi viral bahwa ada bayi yang ikut serta berpuasa (enggan menyusu) di siang Ramadan.”
Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa seorang bayi saja mampu berpuasa, lalu bagaimana dengan kita yang sudah dewasa? Masihkah kita mencari alasan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan?
Mungkin ada yang beranggapan, “Itu kan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, beliau seorang wali. Kita ini manusia biasa.” Tapi bukankah Islam mengajarkan kita untuk meneladani orang-orang saleh? Jika kita selalu bersembunyi di balik alasan “saya ini bukan wali,” kapan kita akan mulai berusaha menjadi lebih baik?
Kita bisa belajar juga dari para sahabat Nabi. Mereka juga manusia biasa seperti kita, tetapi mereka berusaha meneladani Rasulullah SAW dalam setiap aspek kehidupan. Tidak ada yang mengatakan, “Ah, Rasulullah itu kan Nabi, saya mana bisa seperti beliau.” Sebaliknya, mereka justru berusaha mencontoh beliau sebaik mungkin, karena itulah ajaran Islam. Wallahu a’lam bissawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor:


