Sudah menjadi tradisi bagi khatib di Indonesia dalam menyampaikan khutbah Jumat menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan di sejumlah wilayah, bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Bugis, hingga Madura turut digunakan.
Fenomena umum juga terlihat di masjid-masjid institusi tertentu. bahkan ada di sebagian masjid di Jakarta yang justru sang khatib menggunakan bahasa Inggris dalam menyampaikan materi khutbah. Hal itu dilakukan karena sebagian besar jamaah sholat Jumat adalah ekspatriat, dan karyawan di perusahaan asing.
Mengingat hal tersebut, lalu bolehkah menggunakan bahasa selain Arab dalam prosesi khutbah Jumat?
Prosesi khutbah merupakan hal yang paling krusial dalam rangkaian ibadah shalat Jumat. Tanpa memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, maka pelaksanaan shalat Jumat tidak sah.
Khutbah Jumat memiliki lima rukun yang wajib dipenuhi, yaitu: Pertama, memuji Allah SWT di kedua khutbah (khutbah yang pertama dan kedua).
Kedua, bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW di kedua khutbah. Ketiga, menyampaikan nasihat ketakwaan kepada jemaah di kedua khutbah. Keempat, membaca ayat suci Al-Qur’an di salah satu dua khutbah. Kelima, mengakhiri khutbah dengan memanjatkan doa untuk seluruh umat Islam.
Kelima rukun ini sebagaimana yang dirangkum oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari (wafat 987 H) dalam kitab Fath Al-Mu’in Bi Syarh Qurrah Al-Ain:
يُشْتَرَطُ وُقُوْعُ صَلاَةِ الجُمُعَةِ بَعْدَ خُطْبَتَيْنِ مَعَ إِتِيَانِ أَرْكَانِهِمَا الْآتِيَةِ. وَهِيَ خَمْسَةٌ: أَحَدُهَا: حَمْدُ اللهِ تَعَالَى. وَثَانِيْهَا: صَلاَةٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَثَالِثُهَا: وَصِيَّةٌ بِتَقْوَى اللهِ. وَرَابِعُهَا: قِرَاءةُ آيَةٍ مُفْهِمَةٍ فِيْ إِحْدَاهُمَا. وَخَامِسُهَا: دُعَاءٌ أُخْرَوِيٌّ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Disyaratkan dalam pelaksanaan shalat Jumat harus dilakukan setelah dua khutbah, dengan memenuhi rukun-rukun berikut. Rukun-rukun tersebut ada lima yaitu: Pertama, memuji Allah SWT. Kedua, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ketiga, wasiat untuk bertakwa kepada Allah. Keempat, membaca ayat yang memahamkan dalam salah satu khutbah. Kelima, mendoakan ukhrawi terhadap orang-orang mukmin.” (Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fath Al-Mu’in Bi Syarh Qurrah Al-Ain [Beirut: Dar Ibn Hazm], vol. 1, h. 199-200)
Di samping harus memenuhi syarat-syarat sah khutbah di atas, isi khutbah Jumat hendaknya juga berisikan nasihat yang mencerahkan, mendidik, dan sarat dengan muatan hikmah bagi seluruh umat Islam. Isi khutbah sepatutnya menghindari penggunaan bahasa yang bernada kasar, provokatif, caci-maki atau mengandung unsur SARA.
Merujuk sejumlah literatur fiqih, kewajiban menggunakan bahasa Arab dalam prosesi khutbah Jumat hanya berlaku bagi kelima rukunnya saja, yang meliputi bacaan hamdalah, shalawat, wasiat taqwa, ayat Al-Qur’an, serta doa. Sedangkan, untuk bagian penjelasan dan nasihat lainnya diperbolehkan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh jemaah, seperti halnya bahasa Indonesia atau selainnya.
Berkaitan dengan hal ini, Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1302 H) menerangkan dalam anotasinya:
قَوْلُهُ: وَشُرِطَ فِيْهِمَا، أَيْ فِيْ الْخُطْبَتَيْنِ. وَالْمُرَادُ أَرْكَانُهُمَا، كَمَا فِيْ التُّحْفَةِ... وَكَتَبَ سم مَا نَصُّهُ: قَوْلُهُ دُوْنَ مَا عَدَاهَا: يُفِيْدُ أَنَّ كَوْنَ مَا عَدَا الْأَرْكَانِ مِنْ تَوَابِعِهَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لَا يَكُوْنُ مَانِعًا مِنَ الْمُوَالَاةِ
Artinya: Yang dimaksud dengan pernyataan bahwa dalam dua khutbah harus menggunakan bahasa Arab adalah hanya rukun-rukun khutbah saja, sesuai penjelasan dalam kitab At-Tuhfah. Syekh Ibn Qasim menulis, kewajiban menggunakan bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yakni materi lain yang berkaitan dengan khutbah dan diucapkan dalam bahasa selain Arab tidak sampai menghalangi kewajiban muwalah antara rukun-rukun khutbah. (Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah At-Thalibin [Beirut: Dar Al-Fikr], vol. 2, h. 82)
Sementara itu, jika tidak ada satu pun jemaah yang bisa berbahasa Arab, maka khatib boleh menerjemahkan rukun khutbah ke dalam bahasa daerah atau bahasa yang umum digunakan para jamaah.
Namun, pembacaan ayat suci Al-Qur’an tetap harus dilakukan dalam bahasa Arab sebagaimana aslinya. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka dapat diganti dengan bacaan zikir atau doa.
Syekh Ibn Hajar Al-Haitami (wafat 974 H) dalam catatannya menegaskan:
وَكَوْنُ الْخُطْبَةِ عَرَبِيَّةً، وَمَحَلُّ اشْتِرَاطِ الْعَرَبِيَّةِ إنْ كَانَ فِي الْقَوْمِ عَرَبِيٌّ، وَإِلَّا كَفَى كَوْنُهَا بِالْعَجَمِيَّةِ إلَّا فِي الْآيَةِ. فَلَوْ لَمْ يُحْسِنْ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ أَتَى بِبَدَلِ الْآيَةِ مِنْ ذِكْرٍ أَوْ دُعَاءٍ، فَإِنْ عَجَزَ وَقَفَ بِقَدْرِهَ
Artinya: Konteks kewajiban menggunakan bahasa Arab dalam rukun-rukun khutbah berlaku jika terdapat khatib yang mampu berbahasa Arab dalam jemaah yang melaksanakan shalat Jumat. Jika tidak ada, maka diperbolehkan untuk menerjemahkan rukun-rukun khutbah, kecuali untuk pembacaan ayat Al-Qur’an, ke dalam bahasa lain (non-Arab). Apabila khatib tidak dapat membaca ayat Al-Qur’an dengan baik, maka ia diperkenankan untuk menggantinya dengan bacaan zikir, doa, atau berdiam diri selama waktu yang setara dengan membaca satu ayat Al-Qur’an. (Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj [Mesir: Al-Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra], vol. 2, h. 450)
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa hukum menggunakan bahasa selain Arab dalam prosesi khutbah Jumat diperbolehkan lantaran kewajiban berbahasa Arab tersebut hanya berlaku pada rukun-rukun inti khutbah seperti bacaan hamdalah, shalawat, wasiat taqwa, ayat Al-Qur’an, dan doa.
Adapun bagian khutbah yang bersifat tambahan, seperti penjelasan isi khutbah yang pada umumnya menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain, maka tidak diwajibkan untuk disampaikan dalam bahasa Arab. Wallahu a’lam bis shawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


