Jakarta, Arina.id—Sebanyak 53 anak menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Peristiwa ini menyayat hati dan kembali menunjukkan bahwa kejahatan kemanusiaan terhadap anak masih terjadi. Para korban mayoritas berusia di bawah dua tahun.
Dalam kasus ini, anak-anak diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi, seperti kaki dan tangan diikat serta ditempatkan di kamar sempit yang diisi hingga 20 anak.
Kasus ini bukan pertama kali terjadi, Data Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (Kemen PPPA) menunjukkan sekitar 75 persen keluarga di Indonesia telah menggunakan pengasuhan alternatif, tetapi kualitas layanan masih menjadi tantangan besar.
Namun masih banyak persoalan mendasar dalam layanan daycare. Sekitar 44 persen belum memiliki izin atau legalitas, dan hanya 30,7 persen yang memiliki izin operasional. Sementara itu, 12 persen memiliki tanda daftar dan 13,3 persen berbadan hukum.
Dari sisi tata kelola, sekitar 20 persen daycare belum memiliki SOP, dan 66,7 persen SDM pengelola belum tersertifikasi. Proses rekrutmen pengasuh pun umumnya belum berbasis standar dan masih minim pelatihan khusus.
Kondisi ini menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan daycare belum diimbangi dengan kualitas layanan yang menjamin pemenuhan hak anak secara optimal.
Kasus viral Little Areesha menunjukkan, daycare dengan tampilan menarik belum tentu memiliki standar pengasuhan yang layak. Mainan baru, ruangan estetik, atau fasilitas premium bukan jaminan anak mendapatkan perlindungan, perhatian, dan pendidikan yang sehat.
Yang utama justru kualitas pengasuh, sistem pengawasan, kebersihan, hingga legalitas lembaga. Sementara Daycare Little Areesha sebagaimana diungkapkan Pemerintah Yogyakarta, belum berizin. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua memilih daycare.
1. Pastikan punya izin resmi
Legalitas adalah fondasi utama. Daycare yang memiliki izin operasional umumnya telah melalui proses verifikasi standar keamanan, fasilitas, dan kelayakan pengasuhan. Jangan ragu meminta dokumen izin kepada pengelola.
2. Cek reputasi daycare
Cari tahu rekam jejak tempat penitipan anak tersebut. Testimoni orang tua lain, ulasan publik, hingga pengalaman keluarga yang pernah menggunakan layanan daycare bisa menjadi bahan pertimbangan penting.
3. Lihat kualitas pengasuh
Pengasuh harus memiliki pengalaman, sabar, ramah, dan peka terhadap kebutuhan anak. Rasio pengasuh dan anak juga wajib proporsional agar pengawasan maksimal.
4. Tanyakan protokol darurat
Daycare yang baik punya SOP jelas, mulai dari penjemputan anak, izin dijemput orang lain, hingga penanganan saat anak sakit, cedera, atau menghadapi kondisi darurat.
5. Periksa jadwal harian
Anak membutuhkan ritme yang sehat: makan teratur, tidur cukup, aktivitas fisik, bermain, dan stimulasi edukatif. Daycare yang baik memiliki jadwal terstruktur, bukan sekadar menitipkan.
6. Pastikan kebersihan terjaga
Perhatikan lantai, toilet, dapur, mainan, ventilasi, dan kebiasaan pengasuh mencuci tangan. Kebersihan daycare sangat berpengaruh terhadap kesehatan anak.
7. Cermati menu makanan
Tanyakan makanan yang disajikan, pola gizi, serta fleksibilitas bila orang tua membawa bekal sendiri. Informasikan pula jika anak memiliki alergi tertentu.
8. Utamakan keamanan lingkungan
Pastikan daycare memiliki sistem keamanan, pengawasan ketat, serta CCTV yang aktif memantau aktivitas anak selama berada di lokasi.
Editor: Suci


