Dalam perkembangannya, keris bukan semata benda pusaka tetapi beberapa di antaranya sudah menjelma produk kerajinan tangan yang dapat dengan mudah kita temukan dipajang sebagai souvenir.
Dalam konteks ini, kerajinan keris justru telah menjadi sumber mata pencaharian masyarakat. Derasnya arus globalisasi, telah membuat manusia mampu menaklukkan ”kekuatan” keris.
Padahal beberapa dekade sebelumnya, masyarakat kita masih akrab bergaul dengan dunia mitos, benda-benda sakral alias keramat serta hal-hal yang berbau mistik. Saat itu, beberapa komunitas masyarakat, seperti suku tertentu di Pulau Jawa misalnya, masih tunduk kepada alam.
Pada posisi ini, alam benar-benar menjadi subjek yang ”mengatur” kehidupan masyarakat. Gunung, misalnya, dimaknai sebuah episentrum tempat para ”penjaga” alam tinggal. Begitu pula dengan beberapa norma dalam masyarakat, telah menjelma larik-larik tulisan mengenai ”kesaktian” yang harus dirapal untuk kepentingan tertentu.
Itulah saat-saat di mana keris menjadi salah satu subjek sehingga keberadaannya ditengara beberapa ahli telah menyebabkan tumbuh dan berkembangnya mitologisasi (memitoskan), sakralisasi (mengkeramatkan), dan mistifikasi (memandang segala sesuatu sebagai misteri).
Belakangan, atas nama pemurnian ajaran agama, muncul gerakan sebaliknya. Beberapa organisasi memiliki misi yang bertujuan melakukan demitologisasi, desakralisasi serta demistifikasi. Keris menjadi salah satu korban dari gerakan pemikiran ini.
Akankah segera berakhir masa-masa kehidupan perkerisan ? Jawabannya; tidak. Selama Allah masih menciptakan besi, dan itu akan terus begitu sampai datangnya Hari Kemudian, keris-keris dan seluruh senjata yang sejenis dengannya, akan tetap dibuat dan diproduksi oleh manusia.
Keris seakan sudah menjelma ”fitrah” yang akan menyertai kehidupan manusia. Tanpa zat besi, tak akan ada makhluk hidup. Manusia, terutama, amat membutuhkan zat besi untuk melanjukan hidup. Dan, keris hanyalah salah satu di antara beberapa konsekuensi logis dari kreasi manusia dalam mensyukuri ciptaan Allah, yakni besi. Jadi ? Keris akan terus eksis karena besi tak akan pernah habis.
Terlebih, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini sudah mulai balik arah. Setelah berkembang begitu pesat sehingga meninggalkan landasan etiknya, ilmu pengetahuan oleh alam dipaksa untuk kembali menukik ke bawah.
Pulang ke bumi, pulang ke alam, bersahabat dengan lingkungan, berjuang mempertahankan denyut kehidupan hutan dan menjaga air dari ancaman kekeringan. Kalau tidak, maka beragam penyakit degeneratif akan mengenyahkan anak cucu Adam meninggalkan dunia sebelum waktunya. Alam butuh dijadikan sebagai subjek dan objek sekaligus.
Hidup, dengan begitu, adalah perpaduan antara tesis, antitesis dan sitensis sekaligus. Hidup adalah perpaduan akrab antara sesuatu yang das sein dan das sollen secara bersama-sama. Begitulah cara pandang semua orang terhadap keris sebagai produk budaya.
Janganlah isyarat ketinggian budaya ini distigma sebagai barang dari antah berantah sehingga keberadaannya harus diakhiri dan hal-hal yang berhubungan dengannya dinilai sebagai penyebab runtuhnya sebuah agama.
Sampai kapan pun, agama tak akan runtuh hanya gara-gara orang, komunitas atau masyarakat memiliki kedekatan dengan keris. Memaklumi keris, adalah wasilah menapktilasi jejak profetik Nabi Daud As yang menjadikan besi sebagai bukti mukjizat dari Allah.
Ishaq Zubaedi Raqib
Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi (LTN) PBNU
Editor: Muhammad Zunus


