Cinta selalu menjadi tema menggugah, tak hanya dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga dalam pemikiran filsafat dan agama. Ia bukan sekadar emosi atau perasaan, melainkan kekuatan penghubung manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dalam tasawuf, cinta tidak berhenti pada hubungan antar manusia, tetapi meluas menjadi hubungan spiritual melampaui batas duniawi. Rabiah al-‘Adawiyah, seorang sufi perempuan dari Basra, mengajarkan cinta sejati kepada Tuhan tanpa syarat dan keinginan.
Berbeda dengan pandangan umum yang melihat ibadah sebagai jalan menuju pahala atau keselamatan, Rabiah menegaskan Tuhan dicintai bukan karena surga atau ancaman neraka, melainkan karena hakikat-Nya yang memang layak dicintai. Pemikiran ini bukan hanya radikal dalam teologi Islam, tetapi juga mengubah cara pandang hubungan manusia dengan Tuhan.
Pemikiran Rabiah
Lahir dari keluarga miskin, Rabiah mengalami penderitaan sejak kecil. Kesalehan dan keteguhan spiritual membawanya pada kehidupan zuhud yang sepenuhnya berpusat pada Allah.
Dalam salah satu puisinya, Rabiah berkata:
"Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, maka haramkanlah bagiku. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, maka janganlah Engkau sembunyikan wajah-Mu dariku" (Nicholson, 1975, p. 62).
Ibadah, menurutnya, bukan negosiasi manusia dengan Tuhan. Cinta sejati tumbuh tanpa syarat, tanpa motif tersembunyi, dan tanpa menunggu balasan. Ia membedakan antara ta’abbud, ibadah yang lahir dari kewajiban, dengan mahabbah, ibadah yang tumbuh dari cinta. Baginya, cinta adalah puncak tertinggi dari hubungan manusia dengan Tuhan.
Ketika berbicara tentang cinta ilahi, para sufi kerap menggambarkannya dengan konsep fana’, pelepasan ego hingga yang tersisa hanyalah kehadiran Tuhan. Namun, pemahaman fana’ berkembang beragam di antara para sufi. Rabiah, melihat fana’ sebagai peleburannya ke dalam Allah yang tetap menjaga jarak dan kesadaran. Ia mencintai Allah dengan segenap keberadaan, tetapi tidak larut dalam ekstase yang menghilangkan kesadaran dirinya.
Lain halnya dengan Rumi, yang melihat fana’ sebagai arus yang membawa seorang pecinta ke dalam gelombang ekstase, tetapi pada akhirnya mengembalikan dirinya ke dunia dengan cinta yang lebih luas, lebih menyala, dan lebih berbagi. Rumi menari dalam gelombang cintanya, memutar diri dalam tarian derwisnya, lalu kembali menularkan cinta itu kepada dunia.
Sedangkan Al-Hallaj, fana’ baginya adalah titik penyatuan mutlak dengan Tuhan, hingga tiada lagi batas antara manusia dengan Tuhan. Ketika ia berkata "Ana al-Haqq" (Aku adalah Kebenaran), ia tidak sedang meninggikan dirinya, tetapi justru kehilangan dirinya dalam kebesaran Tuhan. Namun, bahasa yang dipakainya terlalu sulit diterima, hingga akhirnya ia dianggap sesat dan dieksekusi.
Rabiah tidak menari seperti Rumi, tidak pula berteriak seperti Al-Hallaj. Cintanya mengalir tenang, seperti sungai yang menemukan jalannya sendiri menuju lautan. Ia tenggelam dalam cinta, tetapi tetap menjaga kesadaran bahwa dirinya adalah hamba.
Kritik
Beberapa ulama mengkritik Rabiah yang dianggap terlalu menekankan cinta dan mengabaikan aspek hukum Islam. Fokusnya pada hubungan batin dengan Tuhan dinilai kurang memperhatikan keseimbangan antara syariat dan hakikat (Chittick, 2000).
Selain itu, sikapnya yang menolak konsep pahala dan hukuman juga kontroversial. Dalam Islam, keseimbangan antara rahmat dan keadilan Tuhan menjadi dasar teologis yang kuat. Namun, bagi Rabiah, surga dan neraka hanyalah ilusi yang bisa mengaburkan esensi cinta sejati (Knysh, 2019).
Keputusannya untuk tidak menikah juga menuai kritik. Dalam Islam, pernikahan bagian dari kesempurnaan ibadah. Namun, Rabiah memilih hidup sendiri, sebab bagi dirinya mencintai Tuhan berarti menyerahkan seluruh hidup tanpa distraksi apa pun (Smith, 2001).
Meskipun demikian, pemikirannya tetap menjadi bagian penting dalam tradisi tasawuf. Ia mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak harus dipenuhi ketakutan atau harapan imbalan, tetapi cukup didasarkan pada cinta yang tulus.
Refleksi
Pandangan Rabiah al-‘Adawiyah menawarkan perspektif yang kontras dengan dunia modern memahami cinta. Di era sekarang hubungan antarmanusia sering bersifat transaksional — apa yang bisa didapat dari orang lain, bagaimana hubungan menguntungkan, atau sejauh mana komitmen mendatangkan kebahagiaan pribadi.
Cinta dipandang sebagai kontrak yang harus menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan dalam spiritualitas banyak orang beribadah bukan karena mencintai Tuhan, tetapi mengharapkan balasan rezeki yang lancar, hidup yang mudah, atau tempat di surga.
Di tengah budaya transaksional - material, konsep Rabiah menawarkan kedalaman. Ia mengingatkan cinta sejati tidak mengenal hitung-hitungan. Ia memberi tanpa meminta, mengalir tanpa kembali. Seperti matahari bersinar meski tak pernah diminta, seperti air yang tetap mengalir meski tak ada yang menampungnya.
Dalam hidup mungkin tidak semua hal bisa dilakukan dengan cinta seperti yang Rabiah ajarkan. Tetapi, di antara kebisingan dunia yang dipenuhi kepentingan, setidaknya ada satu ruang dalam diri yang tetap dijaga agar cinta tetap murni—entah dalam ibadah, dalam hubungan manusia, atau dalam cara memandang dunia.
Karena di penghujung hari bukan tentang seberapa banyak yang kita dapat tetapi seberapa tulus kita memberi.
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor: Fajar WH


