Arina.id - Manusia dikaruniai oleh Allah nikmat akal pikiran dan kemudahan untuk berbuat sesuatu. Meski sifatnya sementara, setiap amal perbuatan itu kelak tetap akan dimintai pertanggungjawaban. Sekecil apapun amal perbuatan itu tetap ada pertanggungjawabannya. Jika amal perbuatannya baik, maka ia akan bahagia, jika amal perbuatannya buruk, maka ia akan menyesal.
Terdapat ayat yang menjadi dalil bahwa amal perbuatan manusia yang telah dilakukan ketika masih hidup akan diminta pertanggungjawaban, yakni dalam Surat Al-Baqarah ayat 134:
تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: "Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan."
Bertobat dan Istighfar
Istilah tobat dalam beberapa literatur dapat diartikan menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan dan berjanji tidak akan mengulangi, seperti yang diungkap dalam riwayat berikut:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: النَّدَمُ تَوْبَةٌ
Artinya: "Diriwayatkan dari Ibn Masud dari Rasulullah, beliau bersabda, penyesalan adalah tobat," (Ibnu Hibban: 2/379)
Dalam kitab Risalah al-Qusyairiyah dijelaskan bahwa pengertian tobat dalam bahasa Arab adalah al-ruju’ (kembali) yaitu berasal dari akar kata taaba-yatuubu. Sedangkan dalam pengertian syariat, tobat adalah kembali dari sesuatu yang tercela kepada sesuatu yang terpuji menurut hukum syar’i. Sebab pada dasarnya manusia tidak akan pernah luput dari salah dan dosa, sehingga perlu adanya penyesalan dari dirinya untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.
Sedangkan istighfar adalah meminta pengampunan kepada Allah atas perbuatan dosa yang ia lakukan. Seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Battal dalam Syarah Sahih Bukhari juz 10/76:
الاستغفار في لسان العرب هو طلب المغفرة من الله تعالى، وسؤاله غفران الذنوب السالفة والاعتراف بها، وكل دعاء كان في هذا المعنى فهو استغفار
Artinya: "Istighfar dalam kamus Lisan Arab adalah berusaha mencari pengampunan dari Allah, dan meminta diampuni dosa-dosa yang lampau dan mengakui dosa itu, dan setiap permintaan yang mengandung makna ini tergolong istighfar."
Bertobat dan istighfar dianggap sangat penting, sebab seringkali manusia enggan mengakui kesalahannya, hingga Rasulullah mencontohkan untuk bertobat setiap hari. Dalam Shahih Ibn Hibban terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Umar:
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ، فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّة
Artinya: "Bertobatlah kalian semua kepada Allah. Maka sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali." (Syeikh Abu Bakar Syatha, Kifayah al-Itqiya’ wa Minhaj al-Ishfiya, (Beirut, DKI, 2015, halaman: 45)
Oleh karena itu, Rasulullah membiasakan berdoa meminta ampunan (istighfar) kepada Allah seperti berikut:
أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ، وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قدَّمت وَمَا أخَّرت، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: "Rasulullah membaca doa: Rabbighfirli khati’atiy wa jahli, wa israfiy fi amri kullihi, wa ma anta a’lamu bihi minniy, Allahummaghfirliy khataya, wa ‘amdiy wa ajahliy wa hazlu, wa kullu dzalika indiy, Allahummaghfirli ma qaddamtu wama akhartu, wa ma asrartu wa ma a’lantu, antal muqaddimu wa antal mua’akhhiru, wa anta ala kulli syain qadir," (Sahih Bukhari 5/2350)
Beberapa penjelasan tentang tobat dan doa meminta ampunan yang dicontohkan Nabi Muhammad tentu menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap Muslim agar membiasakan membaca istighfar dan bertobat. Rasulullah selaku manusia yang tidak pernah melakukan perbuatan dosa (ma’shum) saja membiasakan tobat dan istighfar, apalagi kita sebagai umat beliau yang berlumur dosa. Wallahu a’lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


