Surat Ali Imran termasuk kategori surat Madaniyah dan terdiri dari 200 (dua ratus) ayat yang berisi diantaranya tentang teologi seperti ketuhanan, kenabian, kebenaran Al-Qur’an, dan yang lainnya. Terdapat juga tentang syariah seperti pensyariatan haji, jihad, keharaman riba, dan tentang pembangkang zakat.
Surat ini mempunyai korelasi dengan surat sebelumnya yakni surat Al-Baqarah yang sering dibahas oleh para pakar tafsir, setidaknya ada lima korelasi sebagaimana disebutkan oleh Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya sebagai berikut:
- Keduanya dimulai dengan menyebutkan Al-Qur’an dan kondisi masyarakat terkait pencerahan darinya. Dalam Al-Baqarah disebutkan dua model masyarakat yakni yang beriman terhadap Al-Qur’an dan yang tidak. Sedangkan dalam Ali Imran disebutkan dua kubu yang pertama sesat dan kubu kedua yang selamat dengan predikat para ahli keilmuan yang mendalam.
- Al-Baqarah menyebutkan penciptaan Nabi Adam, dan Ali Imran menyebutkan penciptaan Nabi Isa dan menyamakan penciptaan keduanya dengan terpaut tahun yang sangat jauh.
- Keduanya membidik argumentasi Ahlul Kitab, hanya saja Al-Baqarah lebih fokus ke Yahudi dan sedikit menyinggung Nasrani, dan sebaliknya dalam Ali Imran.
- Keduanya diakhiri dengan doa, hanya saja doa dalam Al-Baqarah lebih kepada pertolongan dari pembangkang dakwah, dispensasi untuk hal yang di luar batas kemampuan, dan Ali Imran lebih kepada diterimanya dakwah, dan permohonan balasan di akhirat.
- Surat Ali Imran diakhiri dengan diksi pembuka surat Al-Baqarah seakan Ali Imran menjadi closing statement (kalimat penutup) tentang kebahagiaan bagi masyarakat Muslim, Al-Baqarah dibuka dengan lafadz Muflihun sedangkan Ali Imran diakhiri dengan Tuflihun. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir, Mustofa al-Halabi, 1946], juz III, hal. 86-87.).
Surat ini sering disebut dengan Ali Imran, kronologi pengambilan nama ini dijelaskan oleh al-Zuhaili sebagai berikut:
سُمِّيَتْ السُّوْرَةُ سُوْرَةَ آلِ عِمْرَانَ لِإيرْاَدِ قِصَّةِ أُسْرَةِ عِمْرَانَ وَالِدُ مَرْيَمَ أُمِ عِيْسَى فِيْهَا ، وَإِعْدَادِ مَرْيَمَ الَّتِيْ نَذَرَتْهَا أُمُّهَا لِلْعِبَادَةِ ، وَتَسْخِيْرِ اللّهِ الرِّزْقَ لَهَا فِي المِحْرَابِ وَاصْطِفَائِهَا وَتَفْضِيْلِهَا عَلَى نِسَاءِ عَالمَيِ زَمَانِهَا ، وَتَبْشِيْرِهَا بِإِنْجَابِ عِيْسَى صَاحِبِ المُعْجِزَاتِ
Artinya: "Surat ini dinamakan Ali Imran karena mengandung kisah keluarga Imran ayahnya Maryam ibu Nabi Isa, dan menceritakan kisah nazar ibunya Maryam untuk beribadah, dan rizki yang diberikan Allah kepadanya ketika di mihrab, dan anugerah Allah terhadap posisi Maryam yang lebih utama dari wanita di zamannya, dan kabar baik untuknya dengan akan lahirnya Nabi Isa yang mempunyai mukjizat”. (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz II, 154.).
Abu Hayyan al-Andalusi mencatat beberapa nama lain untuk surat ini sebagai berikut:
هَذِهِ السُّوْرَةُ ، سُوْرَةُ آلِ عِمْرَانَ ، وَتُسَمَّى : الزَّهْرَاءَ ، وَالأَمَانَ ، وَالكَنْزَ ، وَالمُعَيَّنَةَ ، وَالمُجَادَلَةَ ، وَسُوْرَةَ الاِسْتِغْفَارِ وَطَيِّبَةِ
Artinya: “Surat ini juga dinamakan dengan al-Zahra (bunga mawar), al-Aman (kesentosaan), al-Kanz (simpanan), al-Mu’ayyanah (yang ditentukan), al-Mujadalah (perdebatan), dan surat istighfar dan surat yang baik”. (Abu Hayyan al-Andalusi, Bahrul Mukhith, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1994], juz II, hal. 389.).
Al-Zuhaili juga menyebutkan penyebutan lain untuk surat ini sebagai berikut:
وَسُمِّيَتْ آل عمران والبقرة بِالزَّهْرَاوَيْنِ لِأَنَّهُمَا النَّيِّرَتَانِ الهَادِيَتَانِ قَارِئَهُمَا لِلْحَقِّ بِمَا فِيْهِمَا مِنْ أَنْوَارِ أَيِّ مَعَانٍ ، أَوْ لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى قِرَاءَتِهِمَا مِنْ النُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ ، أَوْ لِأَنَّهُمَا اِشْتَرَكَتَا فِيْمَا تَضَمَّنَهُ اِسْمُ اللّهِ الأَعْظَمِ ،
Artinya: “Ali Imran dan al-Baqarah disebut juga dengan al-Zahrawan (dua mawar) karena keduanya adalah dua lentera yang menunjukkan pembacanya kepada kebenaran karena kandungan pencerahan berbagai makna, atau karena dampak kesempurnaan cahaya yang tercerahkan ketika membacanya kelak ketika kiamat, atau karena keduanya mengandung nama Allah yang agung”. (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 2009], hal. Juz II, 154.).
Muhammad Tahir bin Asyur mencatat dalam tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir bahwa penamaan surat ini dengan nama Ali Imran berdasarkan ucapan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, terdapat beberapa dalil yang dikutip oleh Ibnu Asyur untuk nama ini sebagai berikut:
، ففي ( صحيح مسلم ) ، عن أبي أمامة : قال سمعت رسول الله يقول : ( اقرأوا الزهراوين : البقرة وآل عمران )
Artinya: “Hadits riwaat Muslim dari Abi Umamah berkata aku pernah mendengar Nabi bersabda bacalah dua surat mawar, yakni al-Baqarah dan Ali Imran”.
وسمّاها ابن عباس . في حديثه في ( الصحيح ) . قال : ( بِتّ في بيت رسول الله فنام رسول الله حتى إذا كان نصفُ الليل أو قبلَه بقليل أو بعدَه بقليل استيقظ رسول الله فقرأ الآيات من آخر سورة آل عمران )
Artinya: “Ibnu Abbas menyebut surat ini berdasarkan haditsnya dalam al-Bukhari, dia berkata aku menginap di rumah Rasulullah dan beliau tidur sampai pertengahan malam sebentar baik sebelum atau sesudahnya beliau terbangun kemudian membaca beberapa ayat akhir surat Ali Imran”. (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz III, hal. 143.).
Ibnu Asyur juga berpendapat sama dengan al-Zuhaili bahwa kronologi penamaan surat ini berhubungan dengan kisah keluarga Imran sebagai berikut :
. وَوَجْهُ تَسْمِيَّتِهَا بِسُوْرَةِ آل عمران أَنَّهَا ذُكِرَتْ فِيْهَا فَضَائِلُ آل عمران وَهُوَ عِمْرَانُ بن مَاتَان أَبُوْ مَرْيَمَ وَآلُهُ هُمْ زَوْجُهُ حَنَّةُ وَأُخْتُهَا زَوْجَةُ زَكَرِيَّاءَ النَّبِي . وَزَكَرِيَّاءُ كَافِلُ مَرْيَمَ إِذَا كَانَ أَبُوْهَا عِمْرَانُ تُوُفِّيَ وَتَرَكَهَا حَمْلًا فَكَفَّلَهَا زَوْجُ خَالَتِهَا .
Artinya: “Kronologi penamaan ini adalah karena dalam surat ini menyebutkan kisah keutamaan keluarga Imran bin Matan yakni ayah dari Maryam, keluarganya terdiri dari istrinya yakni Hanah, saudari Hanah adalah istri dari Nabi Zakariya, dan Nabi Zakariya sebagai suami dari bibinya Maryam menjadi penanggung jawabnya ketika ayahnya meninggal dunia sejak dia masih dalam kandungan". (Muhammad Tahir bin Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, [Tunisia, Maktabah Dar Tunisia, 1984], juz III, hal. 143.). Wallahu a’lam bisshawab
Editor:


