Apakah Makan Berat Setelah Tarawih Dianjurkan Nabi?

Apakah Makan Berat Setelah Tarawih Dianjurkan Nabi?

Arina.id - Bulan Ramadan adalah waktu umat Islam menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Beberapa orang di Indonesia memilih untuk berbuka puasa secara sederhana saja. Mereka biasanya memilih minum air putih, makan kurma, atau makanan kecil yang berasa manis seperti kolak yang biasa mereka sebut sebagai takjil.

Selepas tarawih, biasanya baru mereka makan berat atau makan dengan menu utama. Menarik untuk dikaji apakah ada anjuran Nabi untuk makan berat setelah Tarawih?

Kebiasaan Makan Nabi di Bulan Ramadan

Secara umum, pola makan Rasulullah adalah pola makan sehat yang berimbang dengan prinsip “makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang". Rasulullah SAW sangat mengecam perilaku makan yang berlebihan. Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Miqdam bin Ma’dikariba, Rasulullah bersabda:

ما مَلأَ بن آدَمَ وِعَاءً شَرًّا من بَطْنٍ حَسْبُ بن آدَمَ أُكُلاَتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فان كان لاَ مَحَالَةَ فَثُلُثُ طَعَامٍ وَثُلُثُ شَرَابٍ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Artinya: “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi suatu kantung yang lebih buruk dibanding perutnya. Bila tidak ada pilihan, maka cukuplah baginya sepertiga dari perutnya untuk makanan, sepertiga lainnya untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk nafasnya.” (HR. Ahmad, At Tirmizy, dan An Nasai)

Khusus untuk bulan Ramadan, Rasulullah menekankan kepada umatnya untuk mengakhirkan makan sahur agar kuat selama berpuasa di siang hari dan menyegerakan berbuka puasa agar kuat untuk beribadah sholat Maghrib, Isya, Tarawih, serta Witir. Nabi bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ وَأَخَّرُوا السَّحُوْرَ

Artinya: “Umatku senantiasa mendapatkan limpahan kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan makan sahur” (HR. Ahmad).

Untuk menu berbuka puasa, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi menyukai menu yang makanan yang manis alami dan tidak terkena api. Nabi paling suka makan ruthab (kurma basah) saat berbuka. Jika tak ada, maka beliau suka makan tamr (kurma kering), dan akan memilih air putih jika beliau tidak menemukan kurma:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَليُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَى المَاءِ، فَإِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ

Artinya: “Jika seseorang di antara kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak menemukannya, maka dengan air, sebab air itu suci-menyucikan” (HR. Abu Daud). 

Kebiasaan makan kurma atau minum air ini beliau lakukan sebelum melaksanakan sholat Maghrib:

كَانَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ رُطَبَاتٍ فَتَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ تَمَرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: “Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa kurma basah terlebih dahulu sebelum sholat magrib. Jika tidak menemukan kurma basah, maka kurma kering. Dan Jika tidak menemukan kurma kering, maka bisa minum beberapa teguk air” (HR. Al-Tirmidzi).

Memilih Makanan dengan Nutrisi Tinggi

Terdapat pula keterangan bahwa Nabi pernah berbuka puasa dengan menu makanan berupa “hais”. Sayyidah Aisyah meriwayatkan:

كان النبي يأتيني فيقول : أعندك غداء فأقول لا ، فيقول إني صائم، قالت: فأتاني يوماً فقلت يا رسول الله إنه أهديت لنا هدية، قال وما هي ؟ قلت حَيْس قال أما إني أصبحت صائماً :قالت ثم أكل 

Artinya: “Nabi datang kepadaku seraya bersabda, ‘Adakah makanan untuk sarapan pagi?’ Aku menjawab, ‘Tidak ada.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Aku berpuasa.’ ‘Aisyah RA melanjutkan ceritanya: Di lain hari datang pula Rasulullah SAW padaku, aku berkata kepadanya, ‘Kita diberi hadiah.’ Beliau bersabda, ‘Apa bentuk hadiah itu?’ Aku (‘Aisyah RA.) menjawab, ‘Hais.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebenarnya aku sejak tadi pagi telah puasa.’ Cerita ‘Aisyah selanjutnya, ‘Kemudian Beliau memakan makanan itu.’”

Disebutkan dalam berbagai keterangan, hais adalah sejenis kue yang berbahan dasar kurma yang dicampur tepung, diberi minyak samin atau mentega kemudian dicampur dan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil. Di masa sekarang, biasanya orang Arab memodifikasi hais dengan menambahkan taburan wijen.

Konsultasi dengan Ahli Gizi

Dari penjelasan ini bisa kita pahami bahwa menu buka puasa Nabi adalah menu yang sarat akan nutrisi dengan variasi berupa air putih atau kurma basah atau kurma kering atau kue yang terbuat dari bahan dasar kurma dan tepung.

Tidak ada keterangan mengenai menu utama atau menu pembuka pada menu buka puasa Nabi. Hal ini bisa dipahami karena memang pada dasarnya keluarga Nabi biasa berbulan-bulan hanya makan kurma dan minum air putih.

Karena tidak ada keterangan yang jelas mengenai anjuran atau larangan memakan makanan berat selepas Tarawih dari Rasulullah, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum mubah, asalkan tidak melanggar prinsip dilarang berlebihan sebagaimana yang telah disebutkan pada awal tulisan.

Terkait persoalan ini, akan lebih baik dan bijak jika kita mengacu pada pendapat para ahli gizi mengenai komposisi makanan terbaik selama bulan Ramadan sekaligus kapan waktu yang tepat untuk memakannya.

Secara umum, Nabi menekankan pola makan yang sehat dan seimbang. Selebihnya, untuk detail kita bisa membaca berbagai macam literatur kesehatan sebagaimana Islam menekankan kepada kita untuk menanyakan segala sesuatu kepada ahlinya. Wallahu a’lam bish shawab.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo