Pandangan Islam soal Kaleng Biskuit Lebaran yang Isinya Tidak Sesuai

Pandangan Islam soal Kaleng Biskuit Lebaran yang Isinya Tidak Sesuai

Arina.id - Hari Raya Idul Fitri selalu menghadirkan berbagai peristiwa penuh makna. mulai dari momen haru saat setiap orang saling bermaafan, mengakui kesalahan, dan merajut kembali silaturahim yang sempat renggang hingga momen bahagia yang terpancar saat akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga, pasangan, atau teman yang lama tak bersua. 

Namun, di balik kehangatan Lebaran, ada juga tradisi unik yang kerap mengundang tawa, fenomena kaleng biskuit lebaran yang menipu dan tak sesuai ekspetasi. Dari luar terlihat seperti wadah biskuit premium yang empuk nan lezat, tetapi begitu dibuka, eh isinya malah rengginang atau beberapa sachet sambal lengkap dengan berbagai macam kerupuk. Lantas, bagaimana Islam memandang fenomena ini?

Pada dasarnya dalam ajaran Islam, setiap Muslim diajarkan untuk mempunyai mindset jujur dalam seluruh perilakunya di berbagai lini kehidupan. Hal ini sebagaimana diperintahkan langsung oleh Allah Swt dalam firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 119:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ 

Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!”

Oleh karena itu, Rasulullah sangat mengecam orang-orang yang tidak jujur dan melakukan penipuan. Bahkan, kecaman Nabi begitu keras hingga beliau tidak mengakui mereka sebagai bagian dari golongannya.

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

Artinya:”Barang siapa yang menipu, maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim)

Meskipun hadits di atas berhubungan dengan konteks jual beli, yakni ketika Rasulullah menegur seorang pedagang yang menipu pembelinya, para ulama berpendapat bahwa larangan ini tidak terbatas pada jual beli saja. Penipuan juga marak terjadi di berbagai aspek kehidupan lainnya, dan hal tersebut tetap mendapat kecaman yang sama seperti dalam transaksi perdagangan. (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim, [Dar As Syuruq, 2002] juz 1 hal. 331]

Jika dikaitkan dengan fenomena kaleng kue biskuit Lebaran yang sering kali tidak sesuai dengan ekspektasi, sebaiknya hal ini dihindari oleh tuan rumah. Meskipun tujuannya bukan untuk menipu, karena dalam beberapa kasus hal ini sudah menjadi tradisi atau dipilih karena kaleng tersebut dapat memuat banyak kue dan lebih awet dibandingkan toples biasa, tetap saja, kejadian ini sering kali menjadi bahan candaan.

Orang yang mengambil kue dalam kaleng tersebut kerap merasa “tertipu” dan ditertawakan oleh teman atau kerabat yang bertamu, yang pada akhirnya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau bahkan sakit hati. Padahal dalam islam diajarkan untuk memberi rasa nyaman kepada sesama sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar berikut:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا

Artinya;”Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling dicintai oleh Allah  adalah memberikan kebahagian kepada sesama, menghilangkan kesulitan orang lain, melunasi hutangnya, dan menghilangka rasa laparnya.” (Al Mu’jam Li at-Thabrani, juz 12 hal. 453)

Oleh karena itu, jika tetap ingin menggunakan kaleng bekas untuk menyimpan makanan lain, sebaiknya beri label atau tanda yang jelas. Misalnya, jika menggunakan kaleng wafer dengan merek kue tertentu untuk menyimpan rengginang, sebaiknya ditempelkan kertas bertuliskan "Isinya bukan wafer, tapi Rengginang" agar tamu tidak salah mengira. Dengan cara ini, kita dapat menghindari kesalahpahaman sekaligus tetap menjaga kenyamanan bersama. Semoga bermanfaat wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo