Idul Adha dan Idul Fitri memiliki kesamaan sebagai hari raya umat Islam. Hari Raya yang dilaksanakan setahun sekali ini memiliki perbedaan yang terletak pada waktunya. Jika Idul Fitri diapit oleh puasa Ramadhan dan Syawal, maka Idul Adha tidak demikian. Setelah Idul Adha, umat Islam haram berpuasa karena ada hari yang disebut Hari Tasyrik.
Hari Tasyrik merupakan waktu yang jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Penyebutan Tasyrik dikarenakan pada hari-hari itu daging kurban sedang didendeng, sehingga dilarang untuk berpuasa. Dalam kitab Mausu’ah Fikhiyyah Kuwaitiyah, 320 disebutkan:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِنْدَ اللُّغَوِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ ثَلاثَةُ أَيَّامٍ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ ، قِيلَ : سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لأَنَّ لُحُومَ الأَضَاحِيِّ تُشَرَّقُ فِيهَا ، أَيْ تُقَدَّدُ فِي الشَّمْسِ
Artinya: "Hari Tasyrik menurut ahli bahasa dan ahli fiqih adalah tiga hari setelah hari kurban (Hari Raya Idul Adha). Dinamakan Tasyrik karena daging-daging kurban didendeng (dipanaskan di bawah terik matahari) pada hari-hari itu."
Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
Artinya: "Diriwayatkan dari Aisyah dan dari Salim dari Ibn Umar, keduanya berkata, tidak diberi keringanan di Hari Tasyrik untuk berpuasa kecuali jika tidak didapati hewan sembelihan (hadyu)." (HR. Bukhari. 1859)
Dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ نُبَيْشَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya: "Dari Nubaishah, ia berkata, Rasulullah bersabda: Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum." (HR. Muslim no. 1141).
Sedangkan dalam Musnad Ahmad:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُذَافَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يُنَادِيَ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Artinya: "Dari Abdullah bin Hudzafah sesungguhnya Nabi Muhammad menyuruhnya untuk mengumumkan di Hari Tasyrik bahwa hari-hari itu merupakan hari makan minum." (HR. Ahmad)
Dari keterangan dalil-dalil di atas, dapat dipahami bahwa diharamkan berpuasa pada hari-hari tersebut (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Pasalnya, hari-hari tersebut masih dalam satu rangkaian dengan suasana Hari Raya Idhul Adha. Ditegaskan pula bahwa hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum. Bahkan menurut Imam Nawawi dalam syarah Sahih Muslim 8/18, hadits di atas merupakan dalil tidak boleh sama sekali berpuasa pada Hari Tasyrik.
Editor:


