Arina.id - Kementerian Agama (Kemenag) mewacanakan menerbitkan aturan sertifikasi dai. Rencana ini bertujuan untuk memastikan bahwa para dai yang menyampaikan dakwah memiliki pengetahuan yang cukup dan kualifikasi yang memadai. Terkait aturan formal ini, Gus Baha mengisahkan hubungan Imam Ghazali dengan gurunya, Imam Haramain arti pesohor agama.
Sertifikasi dai yang sedang digodong Kemenag pada dasarnya diharapkan menjadi langkah preventif untuk menghindari agar dakwah yang disampaikan tidak hanya mengandalkan popularitas semata, tetapi juga didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang agama. Langkah ini juga sekaligus menjadi upaya untuk menjaga kualitas dan kredibilitas dakwah, sehingga dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Sebenarnya, sejak zaman dahulu sudah banyak nasihat dari para ulama yang tersebar dalam khazanah literatur Islam mengenai bagaimana seharusnya menjadi seorang dai atau tokoh agama. Salah satunya adalah nasihat Imam Al-Haramain kepada muridnya, Imam Al-Ghazali.
Mengutip dari kanal youtube pengajian Gus Baha, KH Bahaudin Nur Salim atau lebih dikenal dengan sapaan Gus Baha mengisahkan nasihat Imam Al-Haramain kepada muridnya, Imam Al-Ghazali.
Kealiman Imam Al-Haramain
Dalam video tersebut Gus Baha mula-mula menjelaskan bahwa beliau memiliki sebuah kitab yang bernama Fiqhul Imamil Haramain. Gus baha sangat terpukau dengan kitab tersebut, sebab isi dan teorinya mengalahkan kitab Ihya Ulumudin.
“Kulo niku nggadah kitab namine Fiqhul Imamil Haraimain, kulo moco Ihya’ niku lak wis wong pinter karoan Imam Ghazali niku wis wong pinter. Tapi tetep guru niku raiso ngarah kalah, Imam Haramain niku pancen puinter tenan. Bahkan moco Fiqhul Imamil Haramain koyok moco Ihya sing teori asline, Imam Ghazali wis apik sopan, wong iki iseh ngenyek ngenyek uwong tapi iseh sopan. Lak Imam Haramain parah, wis puarah, nguamukan mbek ngenyekan wah ruepot wong iki, puede modele iki, Imam Ghazali niku wis cerminan tapi cek kurang nekat”
Artinya: ”Saya memiliki kitab yang bernama Fiqh al-Imam al-Haramain, dan saya membaca Ihya' Ulumuddin, yang memang merupakan karya luar biasa, mengingat Imam Ghazali sudah sangat pintar. Namun, tetap saja gurunya tidak akan kalah, karena Imam Haramain memang sangat cerdas. Bahkan, membaca Fiqh al-Imam al-Haramain itu seperti membaca Ihya' versi asli dan terbaik. Imam Ghazali sudah sopan, meskipun sering mengkritik orang, namun tetap dengan cara yang sopan. Sementara Imam Haramain itu keras, sering marah, dan suka mengkritik orang. Pokoknya, orangnya sangat percaya diri. Meski Imam Ghazali hampir mirip dengan Imam Haramain, Imam Ghazali tetap kurang keras dalam tindakannya.”
Kisah Imam Al-Ghazali ditegur Imam Al-Harmain
Kemudian beliau menjelaskan bahwa dalam kitab tersebut terdapat sebuah kisah tentang Imam Al-Ghazali yang memutuskan untuk belajar kepada Imam Haramain. Sebelumnya, Imam Haramain sudah mengetahui bahwa Imam Al-Ghazali adalah seorang tokoh ulama di daerahnya.
Ketika Imam Al-Ghazali sampai di hadapan Imam Haramain untuk belajar, Imam Haramain membawanya ke sebuah ruangan pribadi. Ruangan tersebut penuh dengan buku dan kitab-kitab karya para ulama. Melihat hal itu, Imam Ghazali pun terpukau sekaligus merasa minder.
“Kowe kiai Balen, nggeh, dijak ning kamar, kowe tau moco kitab, dijak ning kamar bek kitab, aku urung ngiyai sakdurunge kitab kabeh iku khatam, kowe lagi ngunu ae wes ngiyai, lereni! Imam Ghazali enthek atine masatasghartu nafsi, aku dhurung pernah nganggep awakku cilik koyok pas ning ngarepe Imam Haramain, nggeh pun kulo tak leren ngiyai riyen, ngaji”
Artinya: ”Suatu hari, Imam Haramain bertanya kepada Imam Ghazali, “Kamu sudah menjadi tokoh (kiai) di daerahmu?” Imam Ghazali menjawab, “Iya.” Kemudian Imam Haramain mengajak Imam Ghazali masuk ke sebuah kamar yang penuh dengan kitab. Beliau berkata, “Lihat semua kitab itu, apakah kamu pernah membaca dan mengkhatamkan semuanya? Aku sendiri belum pernah menjadi tokoh (kiai) sebelum membaca dan menamatkan semua kitab ini! Sedangkan kamu, belum seberapa, tetapi sudah menjadi tokoh (kiai). Berhentilah menjadi tokoh (kiai)!” Mendengar itu, Imam Ghazali merasa minder dan sangat kecil hati. Belum pernah beliau merasa serendah itu seperti saat berada di hadapan Imam Haramain. Akhirnya, dengan penuh kesadaran, Imam Ghazali menjawab, “Saya akan berhenti dan memutuskan untuk belajar lagi.”
Hikmah yang bisa diambil
Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa menjadi seorang dai atau tokoh agama membutuhkan persiapan ilmu yang matang dan pemahaman yang mendalam. Nasihat Imam Haramain kepada Imam Ghazali menunjukkan betapa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi tanggung jawab besar yang memerlukan ilmu sebagai fondasinya.
Sebelum melangkah ke mimbar dakwah, seseorang harus memastikan dirinya benar-benar siap, baik dari segi ilmu maupun adab, agar apa yang disampaikan membawa manfaat, bukan malah menimbulkan kebingungan atau fitnah. Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa menjadi dai sebelum memiliki bekal ilmu yang memadai dan hati yang ikhlas untuk terus belajar. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor:


