Tips Meraih Ilmu dan Jadi Kaya menurut Imam Nawawi

Tips Meraih Ilmu dan Jadi Kaya menurut Imam Nawawi

Arina.id - Menjadi pribadi yang cerdas secara akademik sekaligus mapan secara finansial adalah impian banyak orang. Perpaduan antara ilmu yang mumpuni dan mapan secara finansial tak hanya membuat hidup lebih seimbang, tetapi juga memungkinkan kita untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. 

Dengan akal yang cerdas dan ilmu yang luas, setiap tindakan yang kita ambil dapat dipertimbangkan dengan matang, sehingga terhindar dari kesalahan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Berbeda dengan mereka yang kurang ilmu, meskipun niatnya baik, seringkali cara yang dipilih justru menimbulkan masalah.

Kemapanan finansial juga memiliki peran penting. Ketika kita berkecukupan, bukan hanya kebutuhan pribadi yang terpenuhi, tetapi kita juga memiliki kesempatan untuk membantu sesama. Namun, meraih kedua hal ini, ilmu yang bermanfaat dan kekayaan, tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan.

Tak perlu khawatir, Syaikh Nawawi Al Bantani memberi kunci agar kita bisa sukses dalam mencari ilmu pun juga mapan secara finansial.

Rendah Hati, Kunci Sukses Mendapatkan Ilmu dan Kekayaan

Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya, At-Tausyih Hasyiyah 'ala Fathul Qarib menjelaskan bahwa kunci sukses dalam mencari ilmu dan meraih kekayaan adalah dengan memiliki sifat rendah hati (tawadhu’). Beliau memberikan alasan menarik terkait gramatikal bahasa Arab.

Kata العلم (ilmu), الغنى (kekayaan), dan الخصب (kesuburan) memiliki kesamaan harakat huruf awalnya, yakni kasrah. Hal ini menunjukkan bahwa sifat-sifat baik hanya bisa diraih dengan kerendahan hati, tawadhu’, dan sikap menundukkan diri.

Sebaliknya, kata الجهل (kebodohan), الفقر (kemiskinan), dan الجَدْب (kekeringan) memiliki kesamaan harakat huruf awalnya, yakni fathah. Ini melambangkan bahwa sifat-sifat buruk muncul dari kesombongan dan keinginan untuk meninggikan nafsu

وَمِنْ لَطَائِفِ الْإِشَارَةِ انَّ أَوَّلَ حَرْفٍ مِنَ الْعِلْمِ وَالْغِنَى وَالْخصْبِ مَكْسُورٌ، إِشَارَةً إِلَى أَنَّ صِفَاتِ الْعُلُوِّ الْحَسَنَةِ إِنَّمَا تُنَالُ بِالِانْخِفَاضِ، بِخِلَافِ أَضْدَادِهَا مِنَ الْجَهْلِ وَالْفَقْرِ وَالْجَدْبِ، فَإِنَّ أَوَّلَ حَرْفٍ مِنْهَا مَفْتُوحٌ، إِشَارَةً إِلَى أَنَّ الصِّفَاتِ الْقَبِيحَةَ بِالنَّصْبِ النَّفْسِ،.

Artinya: ”Di antara keindahan isyarat (dalam bahasa Arab) adalah bahwa huruf pertama dari kata العلم (ilmu), الغنى (kekayaan), dan الخصب (kesuburan) berharakat kasrah. Ini mengisyaratkan bahwa sifat-sifat mulia hanya bisa diraih dengan merendahkan diri (tawadhu'). Sebaliknya, lawan dari sifat-sifat tersebut, seperti الجهل (kebodohan), الفقر (kemiskinan), dan الجَدْب (kekeringan), huruf pertamanya berharakat fathah). Ini mengisyaratkan bahwa sifat-sifat buruk muncul karena mengangkat diri (sombong).”

Ada sebuah syair ulama yang senada dan menyebut bahwa ilmu hanya didapatkan dengan sifat rendah hati;

العِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى الْمُتَعَالِي #  كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي

”Ilmu sangat memusuhi seorang pemuda yang sombong, sebagaimana air tidak mengalir ke tempat yang tinggi”

Mengapa sifat rendah hati bisa menjadikan sukses dalam meraih ilmu dan kekayaan?Logikanya sederhana.

Ketika seseorang memiliki sifat rendah hati, ia tidak akan gengsi untuk mencari ilmu dari mana pun. Ia tidak akan malu bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, tanpa memandang status atau usia, asalkan orang tersebut memiliki ilmu yang berkualitas. Begitu pula dalam mencari kekayaan, ia tidak akan gengsi untuk bekerja dan mencari penghasilan, meskipun pekerjaan tersebut dianggap rendah oleh orang lain.

Sebaliknya, orang yang sombong dan tinggi hati cenderung sulit berkembang dan akan mengalami stagnasi. Ia merasa dirinya sudah pintar dan ilmunya cukup, padahal ilmu terus berkembang dan bisa datang dari mana saja.

Dalam mencari kekayaan, orang sombong juga cenderung stagnan dan gagal. Ia merasa gengsi dan keras kepala ketika diberi masukan oleh orang yang lebih berpengalaman. Selain itu, ia juga pilih-pilih pekerjaan, akhirnya ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan dan hidupnya pun tidak mengalami kemajuan. Wallahu a’lam bish shawab


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo