Hukum Mengangsur Pembayaran Zakat Dagangan

Hukum Mengangsur Pembayaran Zakat Dagangan

Arina.id - Zakat tijarah atau zakat perdagangan merupakan zakat yang dikeluarkan dari kepemilikan harta niaga atau aset yang diperjualbelikan (urudl al-tijarah). Zakat ini mencakup seluruh aktivitas bisnis yang melibatkan komoditas perdagangan, termasuk usaha pertokoan, baik grosir maupun retail.

Selain itu, zakat ini juga dikenakan pada perniagaan yang dijalankan baik oleh individu maupun oleh badan usaha seperti CV, PT, korporasi, dan lain-lain.

Sebagaimana yang terlaku pada umumnya, para pedagang cenderung membayar zakat pada akhir tahun. Biasanya, perhitungan akhir tahun dilakukan pada akhir bulan Ramadan atau malam Idul Fitri. Namun, dalam tataran praktiknya, banyak di antara mereka yang memilih untuk membayar zakat secara angsuran dengan berbagai alasan yang mendasarinya.

Oleh karena itu, timbul pertanyaan apakah diperbolehkan membayar zakat tijarah dengan cara mengangsur atau mencicil?

Merujuk beberapa keterangan dalam literatur fiqih mazhab Syafi’i, praktik pembayaran zakat tijarah secara angsuran (mencicil) hukumnya diperbolehkan jika memenuhi tiga syarat berikut: Pertama, pemberi zakat harus termasuk dalam kategori orang yang berhak mengeluarkan zakat, yang berarti ia tidak murtad, masih hidup hingga waktu wajib mengeluarkan zakat (haul), dan kekayaannya tetap ada hingga saat pembayaran zakat. 

Kedua, pihak penerima zakat harus merupakan orang yang berhak menerima zakat hingga waktu wajib penyaluran zakat. Ketiga, harta yang dikenakan zakat harus masih ada hingga waktu wajib penyaluran zakat. Penjelasan ini diuraikan secara rinci oleh Syekh Isma’il Az-Zain Al-Yamani (wafat 1414 H) dalam kompilasi fatwanya:

سُؤَالٌ: تَاجِرٌ كَبِيْرٌ عَادَتُهُ أَنْ يُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ آخِرَ الْحَوْلِ كَمَا هُوَ وَاجِبُهُ مَثَلًا فِي رَمَضَانَ ثُمَّ عَرَضَ لَهُ أَمْرٌ مِنَ الْأُمُوْرِ فَأَدَّى زَكَاةَ تِجَارَتِهِ قَبْلَ آخِرِ الْحَوْلِ شَيْأً فَشَيْأً حَتَّى إِذَا جَاءَ آخِرُ الْحَوْلِ فَقَدْ تَمَّتْ لَهُ الزَّكَاةُ هَلْ وَقَعَتْ الزَّكَاةُ مَوْقِعَهَا فِيْمَا ذُكِرَ؟

“Pertanyaan: Seorang pedagang besar biasanya membayar zakat di akhir tahun, seperti yang diwajibkan, misalnya pada bulan Ramadan. Namun, ia mengalami suatu keadaan yang membuatnya membayar zakat dari perdagangannya sebelum akhir tahun, sedikit demi sedikit hingga tiba akhir tahun dan zakatnya telah terpenuhi. Apakah zakat tersebut telah jatuh pada tempatnya seperti yang disebutkan?

الْجَوَابُ: وَإِذَا عَلِمْتَ ذَلِكَ فَنَقُوْلُ إِنْ كَانَتْ عُرُوْضُ التِّجَارَةِ لِلتَّاجِرِ الْمَذْكُوْرِ فِي السُّؤَالِ بَلَغَتْ النِّصَابَ فِي آخِرِ الْحَوْلِ وَقَعَتْ الزَّكَاةُ مَوْقِعَهَا وَأَجْزَأَتْ عَنْهُ بِشُرُوْطِهِ الْأَتِيَةِ... ثُمَّ إِنَّ قَوْلَهُمْ يَجُوْزُ التَّعْجِيْلُ فِيْهَا لَا يَتَقَيَّدُ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْمُعَجَّلَةِ كُلِّهَا دَفْعَةً وَاحِدَةً وَلَا بِإِخْرَاجِهَا تَدْرِيْجِيًّا كَمَا فِي مَسْأَلَتِنَا بَلْ كِلَاهُمَا جَائِزٌ سَائِغٌ لِدُخُوْلِهِ فِي عُمُوْمِ إِطْلَاقِهِمْ جَوَازُ التَّعْجِيْلِ.

Jawaban: Jika engkau memahami hal itu, maka kami katakan bahwa jika barang dagangan untuk pedagang yang disebutkan dalam pertanyaan ini telah mencapai nishab di akhir tahun, maka zakatnya telah jatuh pada tempatnya dan sah baginya dengan syarat-syarat berikut. Kemudian, pernyataan mereka yang membolehkan percepatan dalam hal ini tidak terikat pada masalah mengeluarkan zakat yang dipercepat seluruhnya secara sekaligus, maupun mengeluarkan zakat secara bertahap seperti dalam permasalahan kita. Keduanya diperbolehkan dan sah untuk dimasukkan dalam keumuman pernyataan mereka tentang kebolehan mempercepat pembayaran zakat.

نَعَمْ، لِإِجْزَاءِ وُقُوْعِ الْمُعَجَّلِ زَكَاةً شُرُوْطُ ثَلَاثَةٍ كَمَا يُؤْخَذُ مِنَ الْمِنْهَاجِ وَشَرْحِهِ النِّهَايَةِ أَحَدُهَا بَقَاءُ الْمَالِكِ أَهْلًا لِلْوُجُوْبِ إِلَى آخِرِ الْحَوْلِ ثَانِيْهَا بَقَاءُ الْمَالِ إِلَى آخِرِهِ أَيْضًا ثَالِثُهَا كَوْنُ الْقَابِضِ لَهَا أَهْلًا فِي آخِرِ الْحَوْلِ مُسْتَحِقًّا. نَعَمْ لِإِجْزَاءِ وُقُوْعِ الْمُعَجَّلِ زَكَاةً شُرُوْطُ ثَلَاثَةٍ كَمَا يُؤْخَذُ مِنَ الْمِنْهَاجِ وَشَرْحِهِ النِّهَايَةِ أَحَدُهَا بَقَاءُ الْمَالِكِ أَهْلًا لِلْوُجُوْبِ إِلَى آخِرِ الْحَوْلِ ثَانِيْهَا بَقَاءُ الْمَالِ إِلَى آخِرِهِ أَيْضًا ثَالِثُهَا كَوْنُ الْقَابِضِ لَهَا أَهْلًا فِي آخِرِ الْحَوْلِ مُسْتَحِقًّا

Iya, untuk sahnya mempercepat pembayaran zakat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi seperti halnya keterangan yang dikutip dari kitab Al-Minhaj dan penjelasannya dalam kitab An-Nihayah: Pertama, pemberi zakat termasuk orang yang ahli dalam mengeluarkan zakat hingga waktu wajib mengeluarkan zakat (haul). Kedua, tetapnya harta yang wajib dizakati hingga waktunya mengeluarkan (haul) dan Ketiga, penerima zakat juga harus orang yang berhak menerima zakat hingga waktu wajib mangalokasikan zakat.” (Qurrah Al-‘Ain Bi Fatawa Asy-Syekh Isma’il Az-Zain [Sarang: Maktabah Al-Barokah], h. 94)

Sementara itu, Syekh Nawawi Al-Bantani (wafat 1316 H) dalam karyanya menjelaskan bahwa salah satu syarat agar zakat mal yang dipercepat dapat dianggap sah adalah bahwa pemilik harta harus tetap dalam kondisi wajib zakat, dan penerima zakat pun harus tetap berhak menerima zakat hingga genap satu tahun:

وَيَجُوْزُ تَعْجِيْلُ الزَّكَاةِ فِي الْمَالِ الْحَوْلِي بَعْدَ مِلْكِ النِّصَابِ وَقَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلِ لِسَنَةٍ فَقَطْ لَا لِأَكْثَرَ مِنْهَا، وَشَرْطُ وُقُوْعِ الْمُعَجَّلِ زَكَاةً بَقَاءُ الْمَالِكِ بِصِفَةِ الْوُجُوْبِ وَبَقَاءُ الْقَابِضِ بِصِفَةِ الْاِسْتِحْقَاقِ إِلَى تَمَامِ الْحَوْلِ، فَإِنْ تَغَيَّرَ كُلٌّ مِنْهُمَا أَوْ أَحَدُهُمَا قَبْلَ تَمَامِهِ بِرِدَّةٍ أَوْ بِمَوْتٍ أَوْ تَغَيَّرَ الْمَالِكُ بِفَقْرٍ أَوْ زَوَالِ مِلْكٍ عَنْ مَالِهِ الْمُعَجَّلِ عَنْهُ أَوْ تَغَيَّرَ الْقَابِضُ بِغَنِيٍّ بِغَيْرِ الزَّكَاةِ الْمُعَجَّلَةِ أَوْ إِقْرَارٍ بِرِقٍّ وَهُوَ مَجْهُوْلُ النَّسَبِ، اسْتَرَدَّهُ الْمَالِكُ مِنَ الْقَابِضِ إِنْ بَيَّنَ أَنَّهُ زَكَاةُ مُعَجَّلٍ وَأَعْلَمَهُ الْقَابِضُ، فَإِنْ لَمْ يُبَيِّنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَعْلَمْهُ الْقَابِضُ لَمْ يَسْتَرِدَّهُ لِتَفْرِيْطِهِ بِتَرْكِ الْإِعْلَامِ عِنْدَ الدَّفْعِ فَيَقَعُ تَطَوُّعًا

Artinya: “Dan diperbolehkan untuk mempercepat pembayaran zakat pada harta yang telah mencapai nishab setelah kepemilikan dan sebelum genap satu tahun, tetapi hanya untuk satu tahun saja, tidak lebih dari itu. Syarat agar zakat yang dipercepat tersebut sah adalah bahwa pemilik harta tetap dalam keadaan wajib dan penerima zakat tetap dalam keadaan berhak hingga genap satu tahun. Jika salah satu dari keduanya berubah sebelum genap satu tahun, baik karena murtad, meninggal, atau pemilik harta mengalami kemiskinan atau kehilangan kepemilikan atas harta yang dipercepat tersebut, atau jika penerima zakat berubah menjadi orang kaya yang tidak berhak atas zakat yang dipercepat, atau jika ada pengakuan terhadap seorang budak yang tidak diketahui nasabnya, maka pemilik harta dapat mengambil kembali dari penerima zakat bila ia dapat menunjukkan bahwa itu adalah zakat yang dipercepat dan penerima zakat telah diberitahu. Namun, jika hal itu tidak dijelaskan dan penerima zakat tidak mengetahuinya, maka pemilik harta tidak dapat mengambil kembali karena kelalaiannya dalam tidak memberitahukan saat pembayaran, sehingga hal itu menjadi sedekah yang sifatnya sukarela.” (Kasyifah As-Saja Fi Syarh Safinah An-Naja [Beirut: Dar Al-Fikr], h. 117)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa praktik pembayaran zakat tijarah secara angsuran (mencicil) dalam hukumnya diperbolehkan jika memenuhi tiga syarat berikut ini:

  1. Pemberi zakat (muzakki) harus termasuk dalam kategori orang yang berhak mengeluarkan zakat, yang berarti ia tidak murtad, masih hidup hingga waktu wajib mengeluarkan zakat (haul), dan kekayaannya tetap ada hingga saat pembayaran zakat.
  2. Penerima zakat (mustahiq) juga harus merupakan orang yang berhak menerima zakat hingga waktu wajib penyaluran zakat.
  3. Harta yang dikenakan zakat harus masih ada hingga waktu wajib penyaluran zakat.

Demikianlah penjelasan mengenai hukum mengangsur pembayaran zakat tijarah atau mal menurut perspektif fiqih. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.


Editor:
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo