Rangkaian ibadah puasa Ramadhan telah dilaksanakan umat Islam selama satu bulan penuh, selanjutnya tibalah hari kemenangan yakni Idul Fitri. Menghidupkan malam Hari Raya Idul Fitri dengan ibadah merupakan hal yang dianjurkan oleh Rasulullah saw sebagaimana termaktub dalam redaksi hadits yang berbunyi:
مَنْ قَامَ لَيْلَتَىِ الْعِيْدَيْنِ للهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ
Artinya: “Barangsiapa yang qiyamul lail (menghidupkan) pada dua malam ‘Id (Idul Fitri dan Idul Adha) karena Allah dengan penuh keikhlasan, maka hatinya tidak akan mati pada hari di mana hati manusia menjadi mati,” (H.R. Asy-Syafi’i dan Ibn Majah).
Perihal maksud hadits di atas, Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Khalwati Ash-Shawi (wafat 1241 H) menerangkan bahwa makna tidak matinya hati ialah tidak bingung hatinya ketika prosesi naza’ (sakaratul maut), saat ditanya oleh dua malaikat di alam barzakh dan di hari kiamat.
Bahkan hatinya diliputi ketenangan serta penuh keteguhan pada detik-detik tersebut:
وَمَعْنَى عَدَمُ مَوْتِ قَلْبِهِ عَدَمُ تَحَيُّرِهِ عِنْدَ الْنَّزَعِ وَعِنْدَ سُؤَالِ الْمَلَكَيْنِ وَفِيْ الْقِيَامَةِ بَلْ يَكُوْنُ مُطْمَئِنًا ثَابِتًا فِيْ تِلْكَ الْمَوَاضِعِ
Artinya: “Makna tidak matinya hati bagi orang yang menghidupkan malam hari raya adalah tidak bingung hatinya ketika naza’ (sakaratul maut), saat ditanya oleh dua malaikat (di alam barzakh), dan di hari kiamat. Bahkan hatinya tenang penuh keteguhan di waktu-waktu tersebut.” (Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Khalwati Ash-Shawi, Bulghah As-Salik Li Aqrab Al-Masalik [Mesir: Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah], vol. h. 1, h. 395)
Pada dasarnya, tidak terdapat ketentuan khusus mengenai ibadah apa saja yang semestinya dilakukan saat malam hari raya. Oleh karenanya, melakukan ibadah dalam bentuk apapun bisa mendapatkan kesunahan menghidupkan malam hari raya. Berkenaan dengan hal ini, Imam An-Nawawi (wafat 676 H) menyatakan:
وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ. قُلْتُ: وَتَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْإِحْيَاءِ بِمُعْظَمِ اللَّيْلِ، وَقِيلَ: تَحْصُلُ بِسَاعَةٍ. وَقَدْ نَقَلَ الشَّافِعِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - فِي (الْأُمِّ) عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ خِيَارِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَا يُؤَيِّدُهُ. وَنَقَلَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ إِحْيَاءَ لَيْلَةِ الْعِيدِ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ، وَيَعْزِمَ أَنْ يُصَلِّيَ الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ
Artinya: “Disunahkan, berupa sunah muakkad untuk menghidupkan dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan melakukan suatu ibadah. Keutamaan menghidupkan malam hari raya itu bisa hasil dengan sebagian besar waktu malam. Menurut satu pendapat bisa hasil meski hanya sebentar saja. Imam Asy-Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm mengutip kalangan ulama Madinah yang menguatkannya. Sedangkan, Imam Al-Qadhi Husain mengutip dari Imam Ibn Abbas bahwasanya menghidupkan malam hari raya dapat hasil dengan mendirikan sholat Isya’ secara berjama’ah dan berniat untuk melaksanakan sholat shubuh dengan berjama’ah.” (Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Raudah At-Thalibin Wa ‘Umdah Al-Muftiyin [Beirut: Al-Maktab Al-Islami], vol. 2, h. 75)
Menilik keterangan yang dirilis oleh Imam An-Nawawi tersebut, maka kadar agar meraih keutamaan menghidupkan malam hari raya Idul Fitri bisa didapatkan dengan ragam cara seperti halnya berdzikir, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, mengumandangkan takbir atau melakukan ibadah lainnya. Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba’isyan Ad-Dau’ani (wafat 1270 H) dalam kitabnya menegaskan pernyataan yang serupa:
وَيُسَنُّ إِحْيَاءُ لَيْلَتِهِمَا وَلَوْ جُمْعَةً بِالْعِبَادَةِ مِنْ نَحْوِ صَلاَةٍ وَقِرَاءَةٍ وَذِكْرٍ؛ لِخَبَرٍ: مَنْ أَحْيَا لَيْلَتَيْ الْعِيْدِ.. أَحْيَا الله قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ، وَيَحْصُلُ بِإِحْيَاءِ مُعْظَمِ الْلَّيْلِ وَبِصَلاَتِيْ الْصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِيْ جَمَاعَةٍ، بَلْ وَبِصَلاَةِ الْصُّبْحِ جَمَاعَةً
Artinya: “Dan dianjurkan untuk menghidupkan dua malam ‘Id sekalipun tepat hari Jumat dengan pelbagai jenis ibadah seperti sholat, tadarus, atau dzikir berdasarkan hadits: Barangsiapa yang menghidupkan dua malam ‘Id, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati. Kesunahan itu dianggap hasil dengan menghidupkan hampir semalam suntuk melaksanakan ibadah, dan dengan melakukan sholat Isya dan Subuh secara berjamaah, atau tetap bisa hasil dengan sekadar sholat Subuh berjamaah.” (Sa‘id bin Muhammad Ba’isyan Ad-Dau’ani, Busyra Al-Karim Bi Syarh Masail At-Ta’lim [Jeddah: Dar Al-Minhaj], h. 422).
Berangkat dari penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa saat malam hari raya Idul Fitri disunahkan untuk menghidupkan malamnya dengan melakukan ibadah. Sedangkan, kadar agar meraih keutamaan menghidupkan malam hari raya Idul Fitri bisa didapatkan dengan ragam cara.
Di antaranya seperti berdzikir, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, mengumandangkan takbir (takbiran) atau melakukan hal lainnya yang bernilai ibadah. Disamping itu, menghidupkan malam hari raya juga bisa diraih dengan cara mendirikan sholat Isya’ secara berjamaah dan berniat untuk melaksanakan sholat shubuh dengan berjama’ah. Wallahu a’lam bisshawab.
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


