Arina.id - Lebaran identik dengan silaturahim dan saling memaafkan. Ini merupakan momen terbaik untuk menjalin persaudaraan dan membingkai kerukunan. Apalagi di hari raya Idul Fitri, seluruh kerabat, tetangga, teman, guru, berkumpul untuk saling bermaaf-maafan.
Ada satu tradisi setelah shalat Idul Fitri, yaitu bertamu, mengunjungi rumah saudara, tetangga atau kerabat jauh. Adab bertamu seringkali terabaikan, sehingga menimbulkan penilaian negatif terhadap tamu itu sendiri. Oleh karena itu, hendaknya seseorang yang bertamu selalu menjaga adab.
Berikut adab yang sebaiknya diperhatikan saat bertamu menurut Syekh Muhammad bin Ahmad bin Salim As-Safarini dalam Kitab Ghida’ Albab juz 2, 117:
وَأَمَّا آدَابُ الضَّيْفِ فَهُوَ أَنْ يُبَادِرَ إلَى مُوَافَقَةِ الْمُضِيفِ فِي أُمُورٍ : مِنْهَا أَكْلُ الطَّعَامِ ، وَلَا يَعْتَذِرُ بِشِبَعٍ ، وَأَنْ لَا يَسْأَلَ صَاحِبَ الْمَنْزِلِ عَنْ شَيْءٍ مِنْ دَارِهِ سِوَى الْقِبْلَةِ وَمَوْضِعِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ . وَلَا يَتَطَلَّعُ إلَى نَاحِيَةِ الْحَرِيمِ ، وَلَا يُخَالِفُ إذَا أَجْلَسَهُ فِي مَكَان وَأَكْرَمَهُ بِهِ . وَلَا يَمْتَنِعُ مِنْ غَسْلِ يَدَيْهِ ، وَإِذَا رَأَى صَاحِبَ الْمَنْزِلِ قَدْ تَحَرَّكَ بِحَرَكَةٍ فَلَا يَمْنَعُهُ مِنْهَا
Artinya: "Adapun adab seorang tamu adalah sesegera mungkin beradaptasi dengan tuan rumah dalam beberapa hal: (1). Menyantap makanan (yang dihidangkan), jangan beralasan sudah kenyang. (2). Tidak bertanya pada tuan rumah tentang sesuatu di rumahnya kecuali arah kiblat dan toilet. (3). Tidak mengintip/ mencuri pandang ke arah wanita. (4). Tidak menolak ketika dipersilakan duduk di tempat yang disediakan dan tidak menolak ketika diberi penghormatan. (5). Membasuh kedua tangan saat akan makan. (6). Ketika melihat tuan rumah bergerak melakukan sesuatu (untuk memuliakan tamu), jangan mencegahnya."
Terdapat satu adab yang belum dicantumkan dari ke enam poin ini, yaitu mengetuk pintu sambil mengucapkan salam kepada pemilik/ tuan rumah. Jika pintu sudah terbuka karena memang open house dalam suasana lebaran, maka cukup mengucapkan "assalamualaikum". Jangan langsung masuk ke dalam rumah sebelum ada jawaban dari tuan rumah.
Kunjungan tamu tersebut tentunya membawa keberkahan bagi tuan rumah. Dalam salah satu hadits Riwayat Al-Dailami dijelaskan:
إِذَا دَخَلَ الضَّيْفُ عَلَى الْقَوْمِ دَخَلَ بِرِزْقِهِ وَإِذَاخَرَجَ خَرَجَ بِمَغْفِرَةِ ذُنُوْبِهِمْ
Artinya: "Ketika tamu masuk rumah seseorang , maka tamu itu datang dengan membawa rezeki. Ketika tamu itu keluar, maka ia keluar dengan membawa pengampunan dosa" (HR Ad-Dailami).
Maksud hadits ini adalah apabila ada tamu yang mengunjungi rumah seseorang, maka tamu itu sejatinya akan membawa keberkahan bagi pemilik rumah. Dan ketika tamu itu pulang, maka dosa pemilik rumah akan diampuni sebab telah memuliakan tamunya. Hadits ini sangat relevan dengan situasi lebaran.
Sedangkan adab bagi tuan rumah ketika menerima kunjungan tersebut adalah selekasnya menjawab ucapan salam, mempersilakan tamu untuk masuk, menyuguhkan minuman makanan yang enak, mempertanyakan kabarnya, berbicara dengan santun, tidak menggunjing dan berkata-kata buruk, memuliakan tamu dengan baik.
Kesemua adab ini sepatutnya dijadikan prinsip bagi mereka yang bertamu dan menerima tamu, khususnya saat suasana lebaran. Sebab terkadang ada oknum tamu yang seenaknya sendiri lancang masuk rumah, mengambil makanan, minuman, bahkan masuk ruang privasi pemilik rumah tanpa seizinnya dengan dalih lebaran.
Walhasil, tuan rumah merasa berat hati atas perbuatan tamu tersebut. Begitu pula tuan rumah kadang lupa memuliakan tamu sampai tidak disuguhi makanan minuman yang pantas. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor:


