Arina.id - Kitab berjudul Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ (wasiat ayah kepada anaknya) merupakan kitab yang cukup populer di kalangan pondok pesantren. Kitab ini ditulis oleh Syekh Muhammad Syakir (wafat 1358 H) yang merupakan ulama Mesir lulusan Al-Azhar Kairo. Beliau dikenal sebagai pakar fiqih dan hadis sekaligus tokoh pendidikan. Beliau pernah bertugas sebagai hakim syar’i di Sudan, kemudian menjabat wakil rektor Universitas Al-Azhar Kairo.
Dalam kitab tersebut, beliau merumuskan sejumlah nasihat moral, etika, dan spiritual bagi para pelajar agar memperoleh keberkahan ilmu. Berikut lima etika penting dalam menuntut ilmu:
1. Belajar dengan Sungguh-Sungguh dan Menghargai Waktu
Sebagai langkah awal dalam proses menuntut ilmu, Syekh Muhammad Syakir memberikan penekanan yang kuat terhadap pentingnya kesungguhan dan semangat dalam belajar. Beliau menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh membiarkan waktunya berlalu tanpa manfaat. Waktu merupakan amanah dan modal utama dalam perjalanan intelektual maupun spiritual seorang pelajar:
يَا بُنَيَّ، أَقْبِلْ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ بِجِدٍّ وَنَشَاطٍ، وَاحْرِصْ عَلَى وَقْتِكَ أَنْ يَذْهَبَ مِنْهُ شَيْءٌ لَا تَنْتَفِعُ فِيهِ بِمَسْأَلَةٍ تَسْتَفِيدُهَا
Artinya: “Wahai anakku: Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat. Jagalah waktumu jangan sampai berlalu dengan sesuatu dengan sesuatu yang tidak mandatangkan manfaat bagimu.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 31)
Etika ini mengandung nilai pendidikan yang mendalam, bahwa ilmu tidak akan tumbuh dalam diri seseorang yang bermalas-malasan atau tidak disiplin dalam mengelola waktu. Kesungguhan dalam belajar mencakup keseriusan hati, ketekunan pikiran, dan konsistensi dalam berusaha memahami ilmu secara mendalam.
Setiap detik dalam kehidupan seorang pelajar harus bernilai. Waktu tidak boleh dihabiskan untuk perkara sia-sia yang tidak berkontribusi terhadap pengembangan akal dan moral. Karenanya, aktivitas seperti membaca, menulis, berdiskusi, dan merenungkan ilmu harus menjadi rutinitas harian seorang pencari ilmu. Semangat belajar yang dibarengi dengan manajemen waktu yang baik bukan hanya menentukan keberhasilan akademik, tetapi juga menjadi kunci pembentukan kepribadian spiritual.
2. Menyiapkan Pelajaran dan Menghormati Tata Tertib Majelis Ilmu
Etika kedua yang ditekankan oleh Syekh Muhammad Syakir adalah pentingnya kesiapan intelektual dan kedisiplinan dalam mengikuti proses belajar. Seorang pelajar hendaknya tidak datang ke majelis ilmu dalam keadaan kosong tanpa persiapan. Sebaliknya, ia perlu membaca dan menelaah materi terlebih dahulu sebelum disampaikan oleh guru, sehingga ketika proses pembelajaran berlangsung, murid sudah memiliki pemahaman awal dan dapat mengikuti penjelasan guru dengan lebih baik:
يَا بُنَيَّ، طَالِعْ دُرُوسَكَ الْمُقَرَّرَةَ عَلَيْكَ مُطَالَعَةً جَيِّدَةً قَبْلَ اسْتِمَاعِهَا مِنَ الْأُسْتَاذِ فِي مَجْلِسِ الدَّرْسِ، وَإِذَا أَشْكَلَ عَلَيْكَ الْأَمْرُ فِي مَسْأَلَةٍ مِنَ الْمَسَائِلِ، فَلَا تَسْتَنْكِفْ مِنْ عَرْضِهَا عَلَى أَحَدِ إِخْوَانِكَ لِتَشْتَرِكَ مَعَهُ فِي فَهْمِهَا، وَلَا تَنْتَقِلْ مِنْ مَسْأَلَةٍ إِلَى أُخْرَى قَبْلَ فَهْمِ الْأُولَى فَهْمًا جَيِّدًا. وَإِذَا أَجْلَسَكَ الْأُسْتَاذُ فِي مَكَانِكَ الَّذِي عَيَّنَهُ لَكَ مِنَ الدُّرُوسِ، فَلَا تَجْلِسْ فِي غَيْرِهِ، وَإِذَا تَعَدَّى عَلَيْكَ أَحَدُ إِخْوَانِكَ بِالْجُلُوسِ فِيهِ، فَلَا تُنَازِعْهُ وَلَا تُشَامِتْهُ، وَارْفَعْ الْأَمْرَ إِلَى أُسْتَاذِكَ حَتَّى يُقِيمَهُ وَيُجْلِسَكَ فِي مَكَانِكَ الْمُعَيَّنِ
Artinya: “Wahai anakku: Baca dan pahamilah dengan penuh kesungguhan pelajaran yang telah maupun yang belum di bahas oleh gurumu. Bila engkau menemui kesulitan jangan ragu untuk bertanya dan mendiskusikannya dengan temanmu. Dan jangan engkau alihkan ke masalah lain, sebelum tuntas masalah yang pertama dan dapat kau pahami dengan baik. Apabila guru telah memilihkan tempat untukmu, janganlah engkau berpindah ke tempat lain. Bila salah seorang teman kamu hendak menempati tempat dudukmu, maka janganlah kamu bertengkar dan mengganggunya, tetapi kemukakan pada gurumu agar beliau memberimu tempat duduk tertentu.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 31-32)
Ungkapan tersebut mengandung dua nilai penting yakni kesiapan belajar dan penghormatan terhadap peraturan majelis ilmu. Kesiapan belajar menuntut seorang pelajar untuk aktif, kritis, dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya sendiri. Menelaah pelajaran sebelum diajarkan membantu murid memahami struktur pengetahuan secara lebih dalam dan melatih kemandirian berpikir.
Penting menghormati tatanan dan disiplin dalam majelis ilmu. Murid harus menempati tempat yang telah ditentukan oleh guru, tidak berpindah tanpa seizinnya, serta tidak menimbulkan keributan atau perselisihan dengan sesama pelajar. Jika terjadi pelanggaran, maka penyelesaiannya harus dilakukan dengan cara yang santun dan penuh adab, yaitu melalui perantara guru, bukan dengan emosi atau perdebatan.
3. Menyimak Penjelasan Guru dengan Seksama
Perlu diperhatikan adab seorang murid ketika menghadiri majelis ilmu dan mendengarkan penjelasan dari gurunya. Dalam proses belajar, perhatian yang penuh dan sikap tenang merupakan wujud penghormatan terhadap ilmu dan pengajarnya. Murid tidak hanya dituntut untuk hadir secara fisik, namun secara mental dan spiritual, dengan memusatkan hati serta pikirannya pada apa yang disampaikan oleh guru:
يَا بُنَيَّ، إِذَا شَرَعَ الْأُسْتَاذُ فِي قِرَاءَةِ الدَّرْسِ، فَلَا تَتَشَاغَلْ عَنْهُ بِالْحَدِيثِ وَلَا بِالْمُنَاقَشَةِ مَعَ إِخْوَانِكَ، وَأَصْغِ إِلَى مَا يَقُولُهُ الْأُسْتَاذُ إِصْغَاءً تَامًّا، وَإِيَّاكَ أَنْ تَشْغَلَ فِكْرَكَ بِشَيْءٍ آخَرَ مِنَ الْهَوَاجِسِ النَّفْسِيَّةِ أَثْنَاءَ الدَّرْسِ. وَإِذَا أَشْكَلَتْ عَلَيْكَ مَسْأَلَةٌ بَعْدَ تَقْرِيرِهَا، فَاطْلُبْ مِنَ الْأُسْتَاذِ بِالْأَدَبِ وَالْكَمَالِ إِعَادَتَهَا، وَإِيَّاكَ أَنْ تَرْفَعَ صَوْتَكَ عَلَى أُسْتَاذِكَ أَوْ تُنَازِعَهُ إِذَا أَعْرَضَ عَنْكَ وَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَى قَوْلِكَ
Artinya: “Wahai anakku: Bila gurumu telah memulai pelajaran, jangan engkau larut dalam pembicaraan dengan temanmu, simaklah setiap pembicaraan gurumu dengan penuh kesungguhan. Jangan engkau melamun ditengah-tengah pelajaran. Bila engkau menemui kesulitan, mintalah gurumu dengan sopan untuk mengulangi dan menerangkan sekali lagi. Jangan engkau mengeraskan (melantangkan) suara di hadapan gurumu dan jangan engkau bantah penjelasan gurumu, sehingga ia tidak menyukaimu.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 32)
Tatkala guru sedang menyampaikan pelajaran, murid tidak sepatutnya mengalihkan perhatian pada hal lain, seperti halnya berbicara dengan teman, melamun, atau memikirkan urusan pribadi. Fokus mendengarkan bukan hanya menunjukkan rasa hormat terhadap guru, tetapi pula menjadi sarana agar ilmu yang disampaikan benar-benar meresap ke dalam hati dan pikiran.
Beliau juga menanamkan prinsip kesantunan dalam bertanya. Bila seorang murid belum sepenuhnya memahami penjelasan guru, hendaknya memohon penjelasan ulang dengan bahasa yang halus dan penuh etika. Tidak diperkenankan bagi murid untuk meninggikan suara, membantah, atau memperlihatkan sikap menantang, karena hal demikian dapat menyinggung perasaan guru dan menghalangi keberkahan ilmu.
4. Menjaga Adab dan Harga Diri di Hadapan Guru
Adab merupakan fondasi utama dalam proses pencarian ilmu. Tanpa adab, ilmu tidak akan memberikan manfaat, bahkan dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan. Oleh karena itu, seorang pelajar dituntut untuk senantiasa menjaga sikap, tutur kata, maupun perilaku di hadapan gurunya. Pelanggaran terhadap adab bukan hanya mencoreng kehormatan pribadi murid, tetapi dapat mengurangi wibawa dan penghormatan yang seharusnya dijaga:
يَا بُنَيَّ، إِذَا خَرَجَ التِّلْمِيذُ عَنْ حَدِّ الْأَدَبِ بَيْنَ يَدَيِ أُسْتَاذِهِ، سَقَطَتْ قِيمَتُهُ عِنْدَ أُسْتَاذِهِ وَعِنْدَ إِخْوَانِهِ، وَاسْتَحَقَّ التَّأْدِيبَ وَالزَّجْرَ عَلَى قِلَّةِ أَدَبِهِ
Artinya: “Wahai anakku: Bila seorang murid telah melanggar adab di hadapan guru dan teman temannya yang membuat ia kehilangan harga dirinya, maka wajiblah ia di didik untuk beretika yang baik karena belum memahami masalah adab.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 32-33)
Kedudukan seorang guru dalam kehidupan penimba ilmu disebutkan:
يَا بُنَيَّ، إِذَا لَمْ تَحْتَرِمْ أُسْتَاذَكَ فَوْقَ احْتِرَامِكَ لِأَبِيكَ، لَمْ تَسْتَفِدْ مِنْ عُلُومِهِ وَلَا مِنْ دُرُوسِهِ شَيْئًا
Artinya: “Wahai anakku: Bila engkau tidak memuliakan gurumu lebih dari orang tuamu, maka engkau tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmu yang diajarkannya.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 33)
Kedua ungkapan ini menggambarkan betapa tinggi penghargaan Islam terhadap kedudukan guru. Sebab, sosok guru bukan sekadar penyampai ilmu melainkan juga pembimbing moral dan spiritual yang berperan membentuk akhlak serta kepribadian murid. Oleh karena itu, kehilangan adab terhadap guru sama halnya dengan kehilangan pintu keberkahan ilmu itu sendiri.
Menjaga adab di hadapan guru bermakna menjaga kehormatan diri. Seorang murid yang berperilaku sopan, rendah hati, dan tahu batas akan dihargai oleh guru serta rekan-rekannya. Sebaliknya, murid yang sombong dan lancang akan kehilangan martabat di hadapan guru dan teman-temannya.
5. Menjaga Keridhaan Guru dan Menghindari Kemarahannya
Penting menjaga hubungan baik dengan guru dan para ulama. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan seorang pelajar tidak hanya bergantung pada kecerdasan dan ketekunan saja, namun juga pada keridhaan guru serta kebersihan hati dalam menuntut ilmu. Lantaran, ilmu yang bermanfaat hanya akan diperoleh oleh mereka yang memuliakan gurunya dan berusaha menjaga adab di hadapannya:
يَا بُنَيَّ، زِينَةُ الْعِلْمِ التَّوَاضُعُ وَالْأَدَبُ، فَمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ، وَحَبَّبَ فِيهِ خَلْقَهُ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَأَسَاءَ الْأَدَبَ سَقَطَ مِنْ أَعْيُنِ النَّاسِ، وَبَغَّضَهُ اللهُ إِلَيْهِمْ، فَلَا يَكَادُ يَجِدُ إِنْسَانًا يُكْرِمُهُ أَوْ يَشْفِقُ عَلَيْهِ
Artinya: “Wahai anakku: Sikap tawadhu (merendahkan hati) dan akhlaq yang baik itu adalah hiasan ilmu pengetahuan. Maka barang siapa tawadhu karena Allah, akan diangkat derajatnya. Allah akan menjadikan seluruh makhluk-Nya cinta dan hormat kepadanya. Barang siapa takabur dan berakhlak tercela maka jatuhlah martabatnya. Allah akan menjadikan seluruh makhluk membenci dirinya, dan tidak mungkin ada orang yang menghormati, memuliakan, dan menyayanginya.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 33)
Kita juga harus mengingat bahaya kemarahan guru yang dapat menjadi penghalang turunnya keberkahan ilmu:
يَا بُنَيَّ، لَا شَيْءَ أَضَرُّ عَلَى طَلَبِ الْعِلْمِ مِنْ غَضَبِ الْأَسَاتِذَةِ وَالْعُلَمَاءِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تُغْضِبَ أَحَدًا مِنَ الْمُدَرِّسِينَ أَوْ تُسِيءَ الْأَدَبَ أَمَامَهُ، فَإِنَّ أَقَلَّ مَا يُنْتِجُهُ غَضَبُ الْأَسَاتِذَةِ الْحِرْمَانُ وَالْقَطِيْعَةُ. فَاقْبَلْ، يَا بُنَيَّ، نَصِيحَتِي لَكَ، وَالْتَمِسْ رِضْوَانَ مَشَايِخِكَ، وَاسْأَلْهُمْ الدُّعَاءَ لَكَ بِالْفَتْحِ، عَسَى اللهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ دُعَاءَهُمْ لَكَ. وَإِذَا خَلَوْتَ بِنَفْسِكَ فَأَكْثِرْ مِنَ الدُّعَاءِ وَالْإِبْتِهَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْ يَرْزُقَكَ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ بِهِ، إِنَّ رَبَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ، وَاسِعُ الْكَرَمِ وَالْجُودِ
Artinya: “Wahai anakku: Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi pelajar dari pada kemarahan para guru dan ulama, karena itu takutlah engkau, wahai anakku: Janganlah engkau membuat kemarahan pendidikmu atau menunjukan akhlak tercela di hadapannya. Terimalah anakku nasihatku ini! Carilah keridhaan guru-gurumu, mintalah doa mereka agar engkau dimudahkan dalam belajar. Semoga Allah mengabulkan doa guru-gurumu sehingga tercapai cita-citamu. Apabila engkau menyepi seorang diri, maka perbanyaklah munajat (berdialog) dan tawakkal (berserah diri) kepada Allah, semoga Allah memberimu ilmu pengetahuan yang luas dan bermanfaat dengan mengamalkan ilmu tersebut. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mendengar dan mengabulkan segala doa, yang luas anugerah dan kemuliaannya.” (Washaya al-Ābā’ li al-Abnā’ [Damaskus: Maktabah Dar Al-Bayan], h. 33)
Dari sini, tampak bahwa menjaga keridhaan sang guru merupakan bagian penting dari etika menuntut ilmu. Kemarahan guru dapat menyebabkan putusnya hubungan emosional antara murid dan pengajar, serta bisa menghalangi limpahan rahmat dan keberkahan ilmu. Sebaliknya, doa dan keridhaan guru menjadi pintu terbukanya ilmu dan keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Dengan demikian, lima etika dalam menuntut ilmu menurut Syekh Muhammad Syakir yang telah di uraikan di atas menunjukkan bahwasanya adab adalah ruh dari proses pendidikan. Ilmu tidak akan memberikan manfaat tanpa disertai dengan sikap penghormatan terhadap guru, kesungguhan belajar, dan kesopanan dalam berperilaku.
Murid yang menjaga etika akan meraih keberkahan, kemuliaan, serta kebijaksanaan sejati, sebab pada hakikatnya ilmu bukan hanya untuk memperluas wawasan semata, melainkan juga untuk menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bish shawab
A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma'had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.
Editor:


