Mendapatkan predikat haji mabrur atau haji yang diterima oleh Allah merupakan impian semua jemaah haji. Pasalnya, proses pelaksanaan ibadah ini dilalui dengan aneka perjuangan dan pengorbanan, terutama dalam hal fisik dan finansial.
Ciri haji mabrur ini bisa diketahui dengan beberapa hal, mulai dari sebelum berangkat ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke Tanah Air.
KH Ahmad Kartono dalam buku Fikih Kontemporer Haji dan Umrah (Jakarta, Amzah: 2023) halaman 183-189 menjelaskan, setidaknya ada 7 ciri haji mabrur berdasarkan hadits Nabi dan pendapat ulama, sebagaimana berikut:
1. Niat Ikhlas
Jemaah yang mendapat predikat haji mabrur bisa dilihat sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci, yaitu niat beribadah semata-mata hanya karena Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah tidak akan menerima amal ibadah seseorang, kecuali yang dilakukan dengan niat ikhlas untuk Allah semata, termasuk dalam ibadah haji.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا وَابْتَغِي بِهِ
Artinya: "Allah tidak akan menerima amal ibadah seseorang kecuali amalan yang dilakukan secara ikhlas dan mengharap ridha Allah." (HR. Ibnu Majah)
Ciri haji mabrur yang pertama ini tentu saja hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh jemaah haji itu sendiri, sebab persoalan niat ada di dalam hati yang sulit diketahui oleh orang lain.
2. Sumber Biaya Halal
Ciri haji mabrur berikutnya adalah semua biaya yang digunakan untuk melaksanakan ibadah haji bersumber dari harta yang halal. Sebaliknya, berhaji dengan biaya harta haram tidak akan diterima oleh Allah.
Rasulullah bersabda:
إذَا حَجَّ الرَجُلُ بِمِالٍ مِنْ غَيْرِ حِلِّهِ فَقَالَ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ قَالَ اللهُ لاَ لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ هَذَا مَرْدُوْدٌ عَلَيْكَ
Artinya: "Ketika seseorang melaksanakan haji bukan dari bekal (biaya) yang halal lalu ketika ia berniat mengucapkan; Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Maka Allah berfirman; Tidak ada panggilan dan sambutan bagimu dan hajimu tertolak (tidak diterima)" (Di riwayatkan dari al-Hafiz)
Selain itu, dalam kitab al-Qirâ Liqâsidi Ummil Qurâ, terdapat hadits Nabi dengan peringatan yang sama. Rasulullah bersabda:
أرْبَعٌ لَا يُقْبَلْنَ فى أرْبَعٍ: نَفَقَةٌ مِنْ خِيانَةٍ أوْ سَرِقَةٍ أوْ غُلُولٍ أوْ مالِ يَتِيمٍ فِي حَجٍ وَلا عُمْرَةٍ وَلَا جِهادٍ وَلَا صَدَقَةٍ
Artinya: “Terdapat empat perbuatan yang tidak diterima untuk melaksanakan empat ibadah, yaitu biaya (nafkah) yang didapat dari cara berkhianat (tidak jujur), mencuri, menipu, dan mengambil harta anak yatim untuk melaksanakan ibadah haji, umrah, sedekah, serta jihad." (Diriwayatkan dari Sa'id bin Manshur)
3. Berhaji sesuai Syariat
Ciri ibadah haji yang diterima adalah melaksanakan semua rangkaian ibadah haji sesuai aturan yang telah ditentukan oleh syariat Islam sehingga ibadah hajinya terhitung sah. Mulai dari niat, tawaf, sai, wukuf, melempar jumrah, dan sebagainya.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 196:
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِۗ
Artinya: “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
Selain itu, Rasulullah pun mengisyaratkan hal yang serupa sebagaimana dalam sabdanya:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَلَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا
Artinya: "Ambillah (ikutilah) dariku manasik kalian (tata cara haji kalian) karena aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini." (HR. Muslim)
4. Tidak Melanggar Syariat
Ciri haji mabrur berikutnya adalah jemaah haji tidak melanggar aturan syariat selama di Tanah Suci. Dalam pelaksanaan ibadah haji, ada sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan oleh jemaah haji, yaitu rafats (berkata jorok), fusuq (berbuat maksiat), dan jidal (bertengkar).
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 198:
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: “(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berkata jorok, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
5. Menjadi Lebih Baik
Ciri haji mabrur kelima bisa terlihat ketika jemaah haji sudah pulang ke Tanah Air, yaitu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ciri atau tanda ini telah dikemukakan oleh banyak ulama. Misalnya Imam Thabari dalam kitab al-Qirâ Liqâsidi Ummil Qurâ menyebutkan bahwa yang dimaksud mabrur adalah haji yang dilaksanakan tanpa dicampur perbuatan dosa, riya, sum’ah, rafats (perkataan kotor), dan fusuq (perbuatan fasik).
Imam Thabari melanjutkan, tanda haji mabrur adalah bertambahnya perilaku yang lebih baik setelah berhaji dan tidak mengulangi perbuatan maksiat setelah kembali dari Tanah Suci. Intinya, ada perubahan perilaku yang lebih baik antara sebelum berhaji dan saat kembali ke tempat tinggalnya.
6. Kepedulian Sosial Meningkat
Orang yang telah melaksanakan ibadah haji idealnya bisa meningkatkan kepedulian sosial dan sifat kedermawanan. Hal ini merupakan salah satu ciri bahwa seseorang tersebut mendapatkan predikat haji mabrur.
Rasulullah bersabda:
الْحَجَّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءً إِلَّا الْجَنَّةُ. قَالُوا مَا بَرُ الْحَجَ یا رسول الله ؟ قال: إطعام الطعام، وإفشاء السلام. وفي رواية وطيب الكلام
Artinya: "Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga. Lalu para sahabat bertanya; Apa haji mabrur itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab; Memberikan makan (sikap kedermawanan) dan menyebarkan kesejahteraan (kedamaian). Dalam riwayat lain; Baik tutur katanya."
7. Mencintai Akhirat
Menurut Hasan Al-Bashri, ciri jemaah haji yang mendapat predikat mabrur adalah mereka yang ketika kembali ke Tanah Air menjadi semakin zuhud (tidak rakus) dalam hal urusan duniawi. Sebaliknya, semangat dalam meningkatkan amalan akhirat semakin bertambah.
Itulah 7 ciri haji mabrur menurut hadits Nabi dan pendapat ulama. Semoga para jemaah haji yang saat ini sudah mulai pulang ke Tanah Air bisa mendapatkan haji mabrur. Amiin ya rabbal ‘alamin.
Editor:


